Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Posisi Rudder Travel Limiter (Sumber: Iasa.com.au)
Dream - Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) mendapat catatan kondisi pesawat Airbus A-320 milik maskapai AirAsia kode penerbangan QZ8501. Dalam satu tahun terakhir sebelum jatuh, pesawat tersebut mengalami kerusakan pada sistem Rudder Travel Limiter (RTL) atau sayap kemudi atau sirip ekor belakang sebanyak 23 kali.
" Melihat catatan perlengkapan pesawat selama 12 bulan terakhir, ditemukan 23 kali kerusakan. Dalam dua bulan terakhir kerusakan menjadi lebih sering dari rudder," ujar Ketua Tim Investigasi QZ8501 Mardjono Siswosuwarno dalam konferensi pers hasil investigasi di Gedung KNKT, Jakarta, Selasa, 1 Desember 2015.
Mardjono mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan pihak Airbus dalam menyelidiki kondisi ekor pesawat. Pihak Airbus memberikan simulator kerja RTL yang kemudian diperiksa oleh tim di hanggar yang terletak di Curug, Tangerang.
Kemudian, Mardjono menerangkan proses penyelidikan dijalankan dengan membawa ekor pesawat ke pabrik Airbus di Perancis. Ini membuahkan temuan adanya robekan solder yang retak di bagian ekor.
" Kita selidiki dan bawa ke pabrik yang ada di Paris, ada robekan solder yang retak terletak di ekor di mana ruangan tidak berAC, menjadi sangat ekstrim. Kalau parkir menjadi sangat panas, kalau terbang jadi terlalu dingin," kata Mardjono.
Sementara berdasarkan pemeriksaan terhadap electronic module, Mardjono menjelaskan pihak operator belum mengoptimalkan penggunaan data. Data dalam electronic module tersebut tidak dianalisa dengan baik sehingga kurang memadai.
Selain itu, kata Mardjono, Indonesia belum memiliki peraturan yang mewajibkan pilot melaporkan ketidakberesan di dalam pesawat. Sehingga kerusakan yang terjadi tidak dapat dideteksi.
" Hal serupa terjadi pada sekitar Januari, Februari hingga September sekali, November terjadi lima kali, Desember sembilan kali," ungkap Mardjono.(Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya