Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menyelesaikan investigasi terkait kasus jatuhnya pesawat milik maskapai penerbangan asal Malaysia, AirAsia QZ8501. Pesawat tersebut jatuh di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah saat terbang dari Surabaya menuju Singapura pada 28 Desember 2014 lalu.
" Dibutuhkan waktu sekitar 11 bulan hingga akhirnya kami berani mengeluarkan data, kronologi jatuhnya pesawat dan rekomendasi untuk semua pihak terkait," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam konferensi pers hasil investigasi di Gedung KNKT, Jakarta, Selasa, 1 Desember 2015.
Proses investigasi dijalankan oleh beberapa tim yang terbagi sesuai tugas masing-masing. Beberapa tugas investigasi tersebut meliputi operasi, enginering, human factor dan kelompok ATC.
Ketua Tim Investigasi AirAsia QZ8501 Mardjono Siswosuwarno mengatakan pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Juanda pada pukul 05.35 WIB dan terbang pada ketinggian 32.000 kami melalui jalur M 635.
Pada ketinggian itu, kata dia, terjadi gangguan pada sistem RTL dan pilot dapat mengatasi dengan prosedur selazimnya.
Meski begitu, KNKT mendapat sejumlah temuan terkait penyebab kejatuhan pesawat itu. Tetapi, dia menerangkan tim tidak menemukan bukti faktor cuaca yang menjadi penyebab kejatuhan pesawat itu.
" Begitu pula kami juga tidak akan pernah menyatakan bahwa ini human error. Semua tindakan pilot sesuai dengan prosedur yang diperintahkan e-cam," kata Mardjono.
Mardjono mengatakan tim menemukan fakta terjadinya 23 kali gangguan pada sistem Rudder Travel Limiter (RTL) pada pesawat tersebut. Fakta itu didapat setelah bangkai pesawat berhasil diangkat.
" Setelah diangkat bangkainya kami bawa ke pabriknya di paris kemudian terdeteksi retakan solder pada electronic module yang terdapat di Rudder Travel Limiter (RTLU) yang lokasinya berada di vertical stabilizer atau ekor pesawatlah, yang menyebabkan kecelakaan terjadi," pungkas Marjono. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya