Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penampakan Virus Corona SARS-CoV-2 (berwarna Kuning) Keluar Dari Sel Yang Terinfeksi. (Foto: National Institutes Of Health)
Dream - Sebuah studi baru oleh ilmuwan China mengungkapkan bahwa virus corona kemungkinan memiliki partikel 'asing' yang cacat hingga menyebabkan beberapa orang sakit tanpa gejala Covid-19 atau OTG.
Dilansir dari South China Morning Post, mereka yakin bahwa sekitar 20 persen kasus Covid-19 tanpa gejala disebabkan oleh silent spreader atau penyebar virus diam-diam.
Para silent spreader inilah yang menabur benih virus corona hingga membuat dunia mengalami pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.
Mereka mencontohkan sebuah kasus seorang pasien di kota Chongqing yang dinyatakan positif Covid-19. Meski telah dirawat selama 45 hari di rumah sakit, pasien tersebut tidak menunjukkan gejala sakit.
Para ilmuwan yang dipimpin Profesor Li Lanjuan dari State Key Laboratory for Diagnosis and Treatment of Infectious Diseases di Zhejiang University menemukan bahwa sebuah sel yang terinfeksi oleh virus bisa melepaskan sejumlah besar partikel asing.
Partikel asing itu tidak memiliki gen virus corona yang lengkap dan tidak terbungkus dalam membran pelindungnya.
Beberapa dari partikel asing ini tampak lebih kecil dari ukuran virus normal dan kebanyakan memiliki bentuk yang tidak beraturan.
Hasil studi para ilmuwan yang belum mendapat peninjauan dari peneliti lainnya ini telah dipublikasikan dalam platform pra-cetak bioRxiv.org pada hari Kamis pekan lalu.
Ini pertama kalinya para ilmuwan melihat partikel asing berada di dekat sel yang terinfeksi virus corona, dan mereka tidak mengetahui partikel apa itu.
Namun Profesor Li menduga partikel asing ini mungkin adalah Defective Interfering Particles (DIP) atau partikel pengganggu yang cacat.
DIP adalah salinan tidak lengkap atau cacat dari virus ketika mereka membelah diri. Seperti diketahui, virus corona menyimpan gen-gennya dalam asam ribonukleat beruntai tunggal yang relatif longgar.
Sifat ini membuat virus corona rentan untuk mengalami kesalahan saat membelah diri, misalnya hilangnya gen yang mengandung unsur protein.
" Ada penghapusan kecil dalam genom dan sejumlah besar partikel. Partikel-partikel ini menjelaskan adanya infeksi tanpa gejala pada tingkat molekuler," kata Profesor Li dan rekan peneliti di Tsinghua University, Beijing.
Beberapa peneliti sebelumnya mengungkapkan kekhawatiran pembawa virus tanpa gejala ini menjadi penyebab awal lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara.
Kekhawatiran inilah yang membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menarik pernyataannya pada April lalu bahwa OTG tidak mungkin menyebarkan virus corona.
Profesor Li, orang pertama yang mengusulkan lockdown terhadap Kota Wuhan, belum dapat memastikan apakah partikel cacat ini bisa menyebabkan beberapa gejala lainnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya