Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Bocah Palestina Tengah Membawa Bendera, Sementara Warga Muslim Sedang Sholat Jumat (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan Yerusalem tidak dijual. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam menarik bantuan finansial rutin lebih dari US$300 juta atau setara Rp4 triliun untuk Palestina.
"Yerusalem adalah ibukota abadi Palestina dan tidak dijual demi emas atau miliaran dolar," ujar juru bicara Presiden Abbas, Nabil Abu Rudeina, dikutip dari Alarabiya, Kamis, 4 Januari 2018.
Sejak pernyataan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel pada 6 Desember lalu, Abbas menegaskan AS tidak bisa lagi berperan dalam proses penciptaan perdamaian di Timur Tengah.
Nabil mengatakan, Abbas secara tegas menyatakan Palestina tidak akan kembali pada negosiasi apapun.
"Tapi ini sudah seharusnya berdasarkan pada hukum internasional dan resolusi yang mengakui Palestina sebagai negara merdeka dengan Yerusalem timur sebagai ibukota," kata Nabil.
Sebelumnya, Trump mengeluarkan ancaman akan menarik dana bantuan negara kepada rakyat Palestina. Ancaman ini muncul usai kekalahan diplomasi AS di PBB terkait konflik Israel-Palestina.
"Kami memberikan ratusan juta dolar setiap tahun dan tidak mendapatkan apresiasi maupun penghargaan," cuit Trump di akun Twitternya.
Menurut laporan Anadolu, ancaman itu muncul menyusul kekalahan diplomasi AS di hadapan PBB terkait konflik Israel-Palestina. Ancaman itu juga dikeluarkan setelah AS menarik dana bantuan kemanusiaan sebesar US$220 juta, setara Rp2,9 triliun dengan tuduhan terorisme kepada Pakistan.
Cuitan Trump juga ditanggapi oleh pejabat senior Palestina, Hanan Ashrawi. Dia menyebut ancaman Trump merupakan bentuk pemerasan.
"Kami tidak bisa diperas," ucap Hanan.
"Presiden Trump sudah menyabotase upaya pencarian perdamaian, kemerdekaan dan keadilan kami. Kini dia berani menyalahkan warga Palestina karena tindakannya sendiri yang tidak bertanggung jawab!" tegas Hanan. (ism)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya


Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking