Tetap Waspada! Selat Sunda Belum Bebas dari Ancaman Tsunami

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Minggu, 13 Januari 2019 12:31
Tetap Waspada! Selat Sunda Belum Bebas dari Ancaman Tsunami
Tsunami dipicu oleh runtuhan longsor gunung berapi.

Dream - Selepas peristiwa 22 Desember 2018 lalu, bukan berarti ancaman tsunami sudah hilang. Bahaya tsunami hingga saat ini masih mengintai kawasan perairan Selat Sunda.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menilai ada potensi tsunami yang kembali terjadi.

" Sedikitnya terdapat tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni Kompleks Gunung Anak Krakatau, Zona Graben, dan Zona Megathrust," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly dikutip dari Liputan6.com.

Sadly mengatakan tsunami dipicu akibat longsor gunung berapi yang jatuh ke dalam laut. Menurut dia, Kompleks Gunung Anak Krakatau terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata dan Pulau Panjang rentan mengalami longsor.

Hal itu disebabkan oleh susunan batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik.

Selain itu, Zona Graben di sebelah Barat-Barat Daya kompleks Gunung Anak Krakatau juga termasuk ke dalam zona batuan rentan longsor. Begitu pula dengan Zona Megathrust yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami.

" Atas dasar itulah hingga saat ini BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda," imbuhnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi bibir pantai dengan radius 500 meter.

1 dari 6 halaman

Potensi Gempa Megathrust, Lebih Parah dari Tsunami Jepang 30 Meter

Dream - Indonesia bukan satu-satunya kawasan yang terancam gempa megathrust berkekuatan dahsyat. Belum lama ini, para ilmuwan mendeteksi adanya potensi gempa 8,9 magnitude di patahan Selandia Baru.

Para ilmuwan sampai pada tahap yakin gempa itu pasti terjadi di masa depan. Gempa yang bisa muncul itu diprediksi memiliki dampak yang mirip dengan gempa Hikuragi di Jepang pada 11 Maret 2011 silam, bahkan bisa lebih parah.

Dikutip dari Newshub, gempa berkekuatan 9 magnitude menggentarkan pesisir timur Pulau Honshu. Gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami setinggi 30 meter, memakan 16 ribu korban jiwa dan kerugian sebesar US$346 miliar, setara Rp4.859,5 triliun. 

Sebagai antisipasi gempa di patahan Selandia Baru, Civil Defence Emergency Management (CDEM) dari North Land tengah mengembangkan rencana tanggap darurat.

2 dari 6 halaman

Kekuatan Gempa Terus Bertambah

Martha Savage, profesor geophysics dari Victoria University of Wellington's School of Geography, Environment and Earth Sciences mengatakan, gempa akan menjadi semakin besar seiring dengan waktu berjalan.

" Yang terjadi di Jepang saat itu karena retakan yang berlangsung selama hampir 1.000 tahun lamanya," papar Savage.

Para ilmuwan percaya Selandia Baru berpotensi mengalami gempa 'megatrhust' seperti yang terjadi di Jepang. Bahkan, dampaknya bisa jauh lebih besar.

" Karena zona subduksi kita yang lebih dekat dibanding dengan Jepang saat itu, tsunami bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Bahkan bisa berlangsung selama enam menit," ujarnya.

3 dari 6 halaman

Pengalaman Buruk Jepang Jadi Bahan Pembelajaran

Penduduk Tokyo kala itu hanya mendapat peringatan sekitar 80 detik sebelum gempa melanda, disusul dengan tsunami yang menerjang 15 menit kemudian.

CDEM berupaya untuk memasang alat deteksi seismometer di dasar laut, namun hal itu akan memakan biaya besar. 

Mereka akan fokus pada beberapa titik rawan seperti Gisborne, Bay of Plenty, Hawke's Bay, Munawatu-Whanganui dan Wellington.

4 dari 6 halaman

Mengerikan, Ilmuwan Temukan Potensi Baru Gempa Magnitud 8,9 dan Tsunami

Dream - Ancaman tsunami besar ternyata tak hanya terjadi di Indonesia. Para ilmuwan tengah bersiap menghadapi gempa " megathrust" berkekuatan 8,9 magnitude di patahan Selandia Baru.

Gempa yang bisa muncul kapan saja ini dapat memicu terjadinya tsunami dahsyat.

" Thrust" merujuk pada salah satu mekanisme gerak lempeng yang menimbulkan gempa dan memicu tsunami, yaitu gerak sesar naik.

Para pakar yakin pecahnya zona subduksi Hikurangi pasti terjadi di masa depan. Zona subduksi memiliki bentuk lempeng tektonik dalam posisi masuk ke bawah yang lainnya.

" Artinya, batas antara lempeng-lempeng itu membentuk patahan raksasa," kata Ilmuwan Masyarakat Geosains Selandia Baru, Dr Laura Wallace, dikutip dari The Sun.

Gempa bumi Kaikoura yang mengguncang South Island pada 2016 memberikan informasi penting. Para ilmuwan kemudian bergerak mempelajari bukti geologis peninggalan gempa prasejarah di area tersebut.

 

5 dari 6 halaman

Bencana Dahsyat Pasti Terjadi

Zona subduksi Hikurangi ini membentang dari timur Gisborne hingga puncak South Island. Dr Wallace meyakini gempa hebat pasti terjadi suatu saat di kawasan tersebut.

" Kita tahu zona subduksi Hikurangi dapat menghasilkan gempa dan tsunami dahsyat, dan bencana ini terjadi di masa lampau," kata Dr Wallace.

" Sementara kami sedang mengadakan penelitian lebih lanjut untuk mendapat gambaran lebih jelas mengenai bahaya yang timbul akibat guncangan Hikurangi, kita tahu pecahan bakal terjadi di masa depan," kata Dr Wallace melanjutkan.

6 dari 6 halaman

Siapkan Skenario Tanggap Darurat

Kelompok Five Civil Defence Emergency Management (CDEM) Selandia Baru menyusun skenario tanggap darurat. Proyek ini mencakup lima kawasan di North Island yang diprediksi sebagai area terdampak paling parah meliputi Gisborne, Bay of Plenty, Hawke's Bay, Manawatu-Wanganui dan Wellington.

Tujuan proyek ini adalah melindungi masyarakat dari potensi kerusakan besar akibat bencana gempa dan tsunami.

Pimpinan proyek, Natashaa Goldring, menggambarkan pentingnya meningkatkan kepekaan masyarakat mengenai bagaimana merespon ancaman semacam itu.

" Skenario yang kami gunakan mendukung pengembangan rencana menanggapi bencana merupakan contoh yang sangat realistis mengenai apa yang bisa kita hadapi di kehidupan kita, anak dan cucu kita," kata Goldring.

Proyek ini mulai dijalankan setelah penelitian dalam beberapa tahun yang menunjukkan penguatan potensi guncangan di zona subduksi Hikurangi.

Pada 22 Februari 2011, gempa dahsyat berkekuatan 6.3 magnitude mengguncang kota terbesar kedua Selandia Baru, Christchurch. Bencana ini menewaskan 185 jiwa, 6.000 orang mengalami luka-luka dan 170 ribu unit bangunan hancur.(Sah)

Beri Komentar
(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary