Ulama Al Azhar Mesir Dukung Gerakan Islam Moderat Indonesia

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 3 Juli 2019 19:00
Ulama Al Azhar Mesir Dukung Gerakan Islam Moderat Indonesia
Ibrahim meminta umat Islam tak beragama dengan ta'ashub atau fanatisme buta. Sebab, Islam yang diajarkan Nabi Muhammad yaitu Islam yang damai.

Dream - Ulama Mesir sekaligus mantan rektor Universitas Al Azhar, Ibrahim Salah Elsayed Soliman Elhodhod, mendukung upaya Indonesia menjaga paham Islam moderat.

" Islam itu rahmat bagi semesta alam. Alam ini, mencakup semua hal. Tak hanya orang Islam. Semua umat manusia, binatang, dan tumbuhan juga harus merasakan rahmat Islam," kata Ibrahim, dilaporkan Liputan6.com, Rabu, 3 Juli 2019.

Ibrahim bercerita mengenai budaya di Universitas Al Azhar. Dia menyebut, sebagai pusat peradaban keilmuan Islam moderat, kampus tersebut tak menutup diri terhadap ilmuwan non-Muslim.

Dia mencontohkan, Al Azhar pernah menerima Musa bin Maimun, seorang rabbi Yahudi. Musa diberi keleluasaan mengajar di Al Azhar mengenai tema kedokteran.

" Sampai saat ini, banyak para orientalis yang riset dan keluar masuk masjid di Al-Azhar. Karena keramahan di Al-Azhar, tak sedikit dari mereka kemudian masuk Islam. Meski demikian, kita juga tidak mengusik mereka yang tak mau masuk Islam," kata dia.

Ibrahim meminta umat Islam tak beragama dengan ta'ashub atau fanatisme buta. Sebab, kata dia, Islam yang diajarkan Nabi Muhammad yaitu Islam yang damai.

" Pada dasarnya, Islam menolak ta'ashub. Apalagi hingga mengakibatkan perpecahan," ucap dia.

Sumber: Liputan6.com/Reza

 

1 dari 5 halaman

Kagumi Tata Kota

Selain mengagumi kondisi beragama di Banyuwangi, Ibrahim juga kagum dengan kondisi kotanya.

" Saya tak bisa menyembunyikan kebahagian ketika menginjakkan kaki di kota ini. Kebersihan kota ini, kerapian lalu lintasnya dan keluhuran akhlak pendudukannya, sungguh membuat saya kagum," kata dia, dilaporkan BeritaJatim.com.

Selain kerapian, dia juga mengagumi arsitektur tempatnya menginap. Ibrahim menginap di Villa Solong yang menggunakan desain khas rumah adat Osing.

Rumah di Banyuwangi, kata dia, sangat terbuka. Banyak mengguna jendela dari kaca. " Pasti, tinggal di sini sangatlah aman," ujar dia.

2 dari 5 halaman

PBNU: Enggak Paham Agama, Jangan Ngaku Ulama

Dream - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, mengatakan bahwa tidak sembarangan orang bisa disebut sebagai ulama. Menurut dia, seorang ulama harus memiliki ilmu agama yang luas.

" Yang namanya ulama itu paham agama, Alquran, hadis, tasawuf, fiqih, paham tafsir, nahwu sharaf, dan sebagainya," ujar Kiai Said dalam acara Multaqo Ulama di Jakarta, Jumat 3 Mei 2019.

Menurutnya, apabila seseorang tidak memiliki keilmuan agama yang luas, maka sebaiknya tidak menyebut diri sebagai ulama. Dia meminta tak ada yang mengaku-ngaku sebagai ulama.

" Kalau enggak paham ini jangan coba-coba ngaku ulama. Ya Allah, dikira gampang apa jadi ulama," ucap dia.

Selain ilmu agama, tambah dia, ulama juga harus mengayomi, membimbing masyarakat ke jalan yang diridhai Allah SWT. Namun caranya bukan dengan menakut-nakuti.

" Ulama itu harus yang memandang umat dengan mata kasih sayang," ucap dia.

Menurut Kiai Said, ulama itu harus selalu berkata benar, tidak memfitnah, apalagi ujaran kebencian. Ulama senantiasa mengajak masyarakat ke arah yang optimis.

" Enggak ada ulama yang nakut-nakutin, tidak ada ulama yang membuat orang pesimis," kata dia.

Sementara, terkait Multaqo Ulama, Kiai Said memastikan tak ada kaitan dengan unsur politik.

" Ini bukan pertemuan politik. Ini bukan pertemuan yg bertendesius, tapi multaqo ini adalah pertemuan antar ulama, habaib, cendekiawan dalam ramgka memyonsong Ramadan agar memasuki Ramadan kita damai, bersaudaraan dan tenang," tandasnya.

3 dari 5 halaman

8 Pesan Ulama dan Habaib untuk Bangsa Indonesia

Dream - Multaqo ulama, habaib, dan cendekiawan Muslim, yang digelar di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, pada Jumat malam, 3 April 2019, menghasilkan delapan pertimbangan. Pertama, menegaskan kembali kesepakatan pendiri bangsa dan alim ulama, yakni bentuk negara Indonesia adalah NKRI.

" NKRI adalah bentuk negara yang sesuai dengan Islam yang rahmatan lil alamain di Indonesia, Pancasila dasar negara dan falsafah bangsa," ujar Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Manarul Hidayat.

Ke dua, memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam hendaknya bersama-sama meningkatkan ukuwah islamiyah, menjalankan silaturahmi, menghindari fitnah dan perpecahan, serta saling memaafkan.

" Tiga, kami menghimbau umat Islam untuk bersama-sama mewujudkan stabilitas keamanan dan situasi kondusif, mengedepankan persamaan persamaan persaudaraan satu sama lain dari pada menonjolkan perbedaan," ucap dia.

Ke empat, umat Islam diajak untuk menghindari dan menangkal segala bentuk provokasi dan kekerasan dari pihak yang tidak bertanggung jawab selama dan setelah bulan Ramadan.

Hidayat melanjutkan, pesan ke lima yakni mengajak umat Islam untuk senantiasa mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

" Enam, kami mengajak umat Islam untuk tidak terpancing dalam melakukan aksi inkonsistitusional, baik langsung ataupun tidak. Itu bertentangan dengan ajaran Islam," kata dia.

Pesan multaqo yang ke tujuh yakni mengajak masyarakat untuk saling berlomba dalam kebaikan guna meningkatkan ekonomi, sehingga dapat ikut terlibat dalam proses pengentasan masalah ekonomi.

" Delapan, kegiatan multaqo ini akan dilakukan terus menerus dalam rangka mengawal implementasi kesepakatan yang dibuat hari ini," ujar Hidayat. 

4 dari 5 halaman

Menag Ajak Ulama Sufi Dakwah di Media Sosial

Dream - Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, mengajak ulama sufi berdakwah di media sosial. Lukman menyampaikan ajakan itu saat menutup Konferensi Ulama Sufi Sedunia di Pekalongan, Jawa Tengah.

" Hari ini, saya mengajak kepada kita semua untuk dapat terus membumikan dakwah Islam dengan pendekatan sufistik yang cerdas dan cermat. Mari kita isi media sosial kita dengan hal-hal yang positif dan penuh hikmah," kata Lukman, dalam keterangan resminya, Kamis 10 April 2019.

Lukman berharap, para ulama sufi mengisi dakwah di masyarakat dengan mengaji rasa. Dakwah di media sosial, kata dia, mengandung unsur uswah hasanah, atau suri tauladan. Tidak sekadar mau’izhah hasanah, pemberi nasihat. 

Menurut Lukman, para sufi lekat dengan kreativitas dalam dakwah. Bahkan, kreativitas itu menjadi sesuatu yang distingtif.

Para sufi misalnya menggunakan majelis zikir, kajian mendalam Alquran, dan zawiyah sufiyah yang dikembangkan sesuai kondisi zamannya.

" Generasi digital juga harus memahami dan mengingat pengalaman sejarah bahwa Islam masuk ke negeri ini dengan cara damai, antara lain melalui tangan para sufi. Generasi milenial harus tahu bahwa para ulama sufi menyebarkan Islam dengan akhlak yang mulia, sehingga dakwah Islam menjadi lebih efektif dan damai," kata dia.

Lukman mengajak semua pihak meneruskan dakwah damai baginda Rasulullah SAW. Sehingga keramahan dan kedamaian Islam tersebar di NKRI dan segenap penjuru bumi.

5 dari 5 halaman

Ulama Sufi Sedunia Berkumpul di Pekalongan

Dream - Ulama sufi sedunia berkumpul di Pekalongan, Jawa Tengah. Mereka mengikuti konferensi Ulama Sufi Internasional Al Muntada As Sufy Al`Alamy yang digelar oleh Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu`tabarah An Nahdliyyah (JATMAN).

Rais Aam Jatman, Habib Luthfi bin Yahya, mengatakan bahwa forum ini rencananya dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo. " Multaqa akan dibuka di Kanjen, Insya Allah oleh Bapak Presiden RI Ir. H. Joko Widodo," kata Habib Luthfi melalui keterangan resmi yang diterima Dream, Senin 8 April 2019.

Habib Luthfi mengatakan, forum ini akan dihadiri sebanyak ulama sufi dari 91 negara. Dari dalam negeri, tercatat ada kurang lebih 2.000 ulama yang akan berpartisipasi.

Acara yang digelar sejak 8 hingga 10 April 2019 ini akan terdiri dari empat komisi yang membahas organisasi sufi internasional, peranan tasawuf dalam bernegara dan pembentukan akhlak, pembahasan fikih dalam perspektif tasawuf, dan pembahasan ekonomi dalam perspektif tasawuf.

Panitia Forum Sufi Internasional, Aman Subagyo Rahman, mengatakan acara ini akan mengambil tema Peran Tasawuf untuk Kebahagiaan Umat Manusia dan Keselamatan Negara.

" Tema kali ini masih memiliki keterkaitan dengan Konferensi Internasional Bela Negara sebelumnya pada 2016 yang juga diadakan JATMAN, yaitu membawa pesan keamanan dan perdamaian dunia," kata Aman.

Beri Komentar