Sekolah PAUD Unik, Bayar Pakai Pisang

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 23 Agustus 2016 06:02
Sekolah PAUD Unik, Bayar Pakai Pisang
Kesadaran akan pentingnya pendidikan mulai dini tampaknya sudah muncul di sebagian besar masyarakat, khususnya di Dusun Watu Jaran, Desa Sikapat, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Dream - Sebuah ide unik mengilhami pendirian sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Dusun Watu Jaran, Desa Sikapat, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Para walia murid bisa membayar uang sekolah anak-anak mereka dengan menggunakan pisang.

Sekolah yang diberi nama As Salam ini didirikan pada 1 Agustus 2015. Didirikan oleh Ustaz Syein yang merupakan Dai Sahabat Masyarakat (Dasamas) Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar Peduli Ummat.

“ Warga kebanyakan hanya punya pohon pisang di kebun belakang rumah, jadi mereka bayarnya pakai buah pisang itu,” ujar Syein dikutip dari keterangan tertulis LAZ Al Azhar Peduli Ummat, sebagaimana diterima Dream pada Senin 22 Agustus 2016.

Sebenarnya biaya pendidikan di PAUD ini tidak terlalu mahal, hanya Rp10.000 per bulan. Meski begitu, warga setempat tetap tidak bisa membayar biaya itu karena pendapatan yang tidak menentu. Kebanyakan warga bekerja serabutan.

Saat membayar uang sekolah, warga biasanya menyetor setandan pisang jenis emas atau ambon. Dua jenis pisang ini dipilih karena nilai jualnya cukup tinggi ketimbang pisang lainnya.

Pisang yang terkumpul kemudian dijual oleh pengurus PAUD As Salam, Yuni. Jika pisang terjual di harga lebih dari Rp10.000, kelebihan uang itu digunakan untuk membayar iuran bulanan.

Syein menjelaskan, metode pembayaran ini tidak berlaku ketat. Menurut dia, jika ada warga yang tidak memiliki buah pisang, maka dapat diganti dengan buah atau barang lain yang bernilai ekonomis.

“ Dibayar dengan apapun bisa. Pernah ada juga warga yang menyerahkan kayu bakar, asalkan barangnya laku dijual di pasar,” ucap Syein.

Model pembayaran pendidikan semacam ini ternyata cukup membantu. Dampaknya dapat dirasakan oleh warga, salah satunya Warsiti, 50 tahun yang mendaftarkan dua anaknya, Adel dan Agung ke PAUD As Salam.

Dia mengaku bahagia bisa menyekolahkan anak-anaknya meski hanya membayarnya dengan pisang.

PAUD ini kini telah berusia 1 tahun. Di umur yang masih singkat tersebut, PAUD As Salam telah memiliki tiga pengajar dan 20 murid.

Beri Komentar