Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Novel Tahun 1981 Prediksi Covid-19. (Foto: SCMP / Freepik.com)
Dream - Sebuah novel thriller berjudul The Eyes of Darkness yang ditulis oleh Dean Koontz pada tahun 1981 seolah sudah meramalkan wabah Covid-19 yang sekarang jadi pandemi di seluruh dunia.
Novel tersebut menceritakan tentang sebuah laboratorium militer di China yang menciptakan virus sebagai bagian dari program senjata biologis.
Menurut novel tersebut, laboratorium militer itu berlokasi di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Karena itu virus yang dibuat laboratorium itu mereka beri nama Wuhan-400.

Apakah ini sebuah kebetulan belaka atau penulisnya yang memang memiliki kemampuan meramal yang hebat?
Dalam The Eyes of Darkness diceritakan seorang ibu bernama Christina Evans berusaha mencari tahu nasib putranya, Danny, yang melakukan perjalanan untuk berkemah di Wuhan.
Dia akhirnya melacaknya ke fasilitas militer di mana dia ditahan setelah secara tidak sengaja terkontaminasi mikroorganisme buatan manusia yang dibuat di pusat penelitian di Wuhan.
Yang lebih membuat kisah The Eyes of Darkness seolah sebuah ramalan, ada bagian dalam novel yang membuat pembacanya saat ini menjadi merinding.
" Sekitar waktu itulah seorang ilmuwan China bernama Li Chen pindah ke Amerika Serikat sambil membawa floppy disk berisi data senjata biologis baru paling mematikan dan berbahaya di China pada dekade terakhir. Mereka menyebutnya Wuhan-400 karena dikembangkan di laboratorium RDNA di luar kota Wuhan."
Kebetulan sekali Institut Virologi Wuhan, yang menjadi tempat satu-satunya laboratorium biosafety tingkat empat di China yang mempelajari virus paling mematikan itu, hanya berjarak 32 km dari pusat penyebaran wabah virus corona baru, Covid-19, saat ini.
Semenjak merebaknya wabah Covid-19, banyak teori konspirasi bermunculan yang menyatakan bahwa wabah ini adalah buatan manusia yang bocor dari laboratorium virologi di Wuhan.
Tapi teori-teori tersebut telah dibantah meskipun laboratorium virologi di Wuhan adalah yang pertama kali melakukan pengurutan terhadap virus corona.
Menurut gambaran thriller yang ditulis Koontz, Wuhan-400 adalah senjata biologis yang sempurna karena hanya menginfeksi manusia.
Karena tidak bisa bertahan di luar tubuh manusia selama lebih dari satu menit, virus Wuhan-400 tidak memerlukan dekontaminasi yang mahal begitu selesai menghancurkan sebuah populasi.
Albert Wan, yang mengelola toko buku Bleak House Books di San Po Kong, mengatakan bahwa Wuhan secara historis telah menjadi lokasi berbagai fasilitas penelitian ilmiah, termasuk yang berhubungan dengan mikrobiologi dan virologi.
" Penulis cerdas dan cerdik seperti Koontz akan mengetahui semua ini, dan menggunakan sedikit informasi faktual ini untuk menyusun cerita yang meyakinkan dan meresahkan. Seperti Wuhan-400 ini," kata Wan.
Sayangnya, The Eyes of Darkness tidak pernah diangkat ke layar kaca dan layar lebar. Padahal banyak karya-karya Koontz yang lain telah diadaptasi di layar televisi atau bioskop.
Sumber: SCMP
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya