Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Warga Di Yaman (Foto: Shutterstock)
Dream - Warga di Hodeidah, Yaman, terpaksa mengonsumsi makanan dari pembuangan sampah karena terperangkap perang. Kota ini merupakan titik masuk utama untuk makanan dan pasokan medis di Yaman.
Dikutip dari laman The Independent, Jumat 1 Februari 2019, banyak di antara warga Hodeidah yang mati karena pendarahan akibat rumahnya dibom.
Kondisi ini terjadi setelah kota pelabuhan itu terjadi lantaran gagalnya gencatan senjata yang diajukan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Seorang dokter yang bertugas di kota itu, Ashwaq Moharram, mengatakan, warga terjepit di antara letusan senjata dan hidup yang sulit. Ashwaq, yang saat ini di Mesir, menyebut telah menyaksikan warga sipil tewas di ambulans saat perjalanan evakuasi.
Menurut Ashwaq, pesimis dengan jaminan kesepakatan gencatan senjata antara Houthi dan pemerintah Abd-Rabbu Mansour Hadi. Dia menyebut kesepakatan itu telah gagal sebelum dimulai perundingan.
"Wilayah yang mengalami serangan dan pertempuran antara kedua kubu tidak dapat dijangkau, bahkan oleh pasukan militer. Tempat seperti Dremy, tetap menjadi target. Ketika ada orang ditembak di sana, ambulans tak dapat menjangkau," kata dia.
“Di satu daerah di sepanjang pantai, seluruh keluarga terluka karena serangan dan semuanya meninggal," tambah Ashwaq.
Ashwaq mengatakan, persediaan kebutuhan pokok menipis, dan harganya melonjak tajam. Kondisi ini membuat banyak keluarga mengeruk sampah untuk mencari makanan.
Selama empat tahun terakhir, Ashwaq telah menjalankan klinik keliling untuk menyediakan bantuan dan perawatan medis bagi orang-orang di desa-desa dan kota-kota terpencil tetapi banyak lokasi sekarang tidak terjangkau.
“Di sepanjang pantai ada daerah yang biasa saya kunjungi untuk membawa makanan. Tetapi, beberapa lokasi itu tidak bisa saya capai sejak April," kata dia.
Awal pekan ini PBB mengatakan faksi-faksi yang bertikai tak mengindahkan permintaan menarik diri dari Hodeidah yang berakhir pada 7 Januari.
Menurut kesepakatan yang ditandatangani di Swedia pada Desember 2018, pemerintah seharusnya mengambil kendali dan menerima pengawasan oleh misi khusus PBB. Tapi, sejauh ini kedua belah pihak gagal untuk mencapai kesepakatan.
Utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, mengatakan, dia sangat prihatin dengan pertikaian baru yang muncul. Dia mendesak "penugasan cepat" sesuai dengan kesepakatan damai.
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Apa yang Terjadi Jika Semua Hutan di Bumi Hilang? Bukan Cuma Hewan, Kehidupan Manusia Ikut Terancam

Buah Kalengan Ternyata Bisa Menyehatkan, tetapi Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum Membelinya
