Berderai Air Mata, Kebahagiaan Muslim Diizinkan Masuk AS

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 6 Februari 2017 13:07
Berderai Air Mata, Kebahagiaan Muslim Diizinkan Masuk AS
Larangan masuk AS bagi Muslim yang diberlakukan Presiden Donald Trump ditangguhkan. Para Muslim kini bisa masuk lagi ke Negara Paman Sam itu.

Dream - Fariba Tajrostami, 32 tahun, dengan mantap melangkahkan kaki melewati gerbang Bandara John F Kennedy, New York, Amerika Serikat. Air mata jatuh berderai, diiringi senyum mengebang di bibirnya.

Dia telah ditunggu saudaranya di bagian penjemputan bandara itu. Seketika, Tajrostami langsung memeluk saudaranya, dan pecahlah tangis kebahagiaan mereka.

" Saya sangat senang. Saya sudah tidak bertemu saudara saya selama sembilan tahun," ujar Tajrostami, kepada Associated Press.

Tajrostami adalah seorang pelukis Iran yang hendak menempuh pendidikan seni di AS. Dia adalah satu dari sekian banyak imigran asal tujuh negara Muslim terkena dampak larangan Presiden Donald Trump.

Pada Jumat pekan lalu, Hakim Federal James Robart menangguhkan larangan itu. Saat putusan itu keluar, bandara-bandara di seluruh AS secara serentak membuka jalur keluar bagi para imigran Muslim.

Putusan itu membuat para imigran Muslim, termasuk Trajostami, merasa sangat bersyukur. Mereka kini bisa kembali menapakkan kaki di tanah Negeri Paman Sam tersebut.

Sebelumnya, Tajrostami berusaha terbang ke AS melalui Turki lebih dari sepekan lalu. Tetapi, upayanya gagal lantaran visanya selalu ditolak.

" Saya menangis dan sangat kecewa. Semua yang ada di pikiran saya, apa yang akan saya lalukan, saya sangat kecewa tentang semua ini. Saya pikir semua telah berakhir," kata Tajrostami.

Selain untuk belajar seni, Tajrostami pergi ke AS agar bisa bersama dengan suaminya. Sang suami pindah ke AS enam bulan lalu dan memegang visa resmi. Di AS, suami Tajrostami tinggal di Dallas dan bekerja sebuah diler mobil.

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Abdullah Alghazali. Di Bandara JFK, dia memeluk dan mencium anaknya, Ali Abdullah Alghazali, 13 tahun.

Tangis kebahagiaan berderai dari matanya. Kerinduan pada sang putra lantaran enam tahun tidak bertemu, terbayar sudah. Abdullah lebih dulu tinggal di AS.

Ali dan ibunya, Musarlah Alghazali, meninggalkan Yaman dan tinggal di Mesir selama satu setengah tahun akibat perang saudara. Musarlah tinggal di AS sejak dua setengah bulan lalu, tapi Ali masih di Mesir dengan sepupunya karena visanya belum disetujui.

Bocah laki-laki itu baru bisa pergi ke AS Sabtu lalu, setelah larangan yang diberlakukan Trump ditangguhkan.

" Saat dia pergi ke bandara agar bisa ke sini, mereka menghentikannya dua pekan lalu. Saya coba lagi pekan berikutnya, Kamis, tapi mereka tetap menolaknya," kata Abdullah.

" Mereka mengatakan dapat perintah dari Pemerintah AS tidak membolehkah siapapun dengan visa atau kartu hijau datang ke AS," ucap Abdullah.

(Sah/Sumber: washingtontimes.com | AP)

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak