Berhubungan Intim Saat Haji, Bagaimana Hukumnya?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 1 Agustus 2018 16:01
Berhubungan Intim Saat Haji, Bagaimana Hukumnya?
Berada di Tanah Suci selama 40 hari tentu bukan waktu yang sebentar.

Dream - Saat ini, sebagian umat Islam seluruh dunia khususnya Indonesia sedang melaksanakan ibadah haji. Mereka berada di Tanah Suci sekitar 40 hari dan menjalankan seluruh rangkaian haji yang puncaknya berlangsung pada 10 Zulhijjah.

Tidak sedikit pula yang menjalankan umroh bersama pasangannya. Waktu selama 40 hari tentu cukup lama bagi suami istri untuk menahan hasrat.

Ketika bersama pasangan, ada kalanya seseorang mungkin tidak sanggup menahan hasrat berhubungan suami istri. Lantas, bagaimana hukumnya apabila terjadi jimak ketika haji?

Dikutip dari NU Online, Imam An Nawawi dalam kitab Majmu' Syarh Al Muhadzdzab menyatakan salah satu larangan dalam ibadah haji maupun umroh adalah berjimak dengan pasangan. Jika terjadi, maka ibadah haji atau umroh sudah batal.

Pada haji, jimak baru dibolehkan apabila sudah prosesi haji hingga tahallul awal sebagai pertanda lepasnya larangan selama ihram. Tandanya, sudah melontar Jamratul Aqobah dan bercukur sesudahnya.

Jika sebelum tahallul awal terjadi jimak, maka pasangan suami istri masing-masing terkena dam atau denda Tartib dan Ta'dil. Dendanya berupa menyembelih seekor unta, bisa diganti seekor sapi atau tujuh ekor kambing jika tidak mampu.

Apabila tidak mampu menyembelih hewan, bisa diganti dengan memberi makan fakir miskin di Mekah senilai satu ekor unta. Dan jika masih tidak mampu, diganti dengan puasa sebanyak hitungan 1 mud setiap hari.

Jumlah puasa yang harus dijalankan disesuaikan dengan harga makanan yang senilai dengan satu ekor unta. Denda ini harus dikerjakan sejak pelanggaran terjadi, rangkaian harus tetap harus dikerjakan dan wajib mengulang dari awal.

Selengkapnya...

(ism

Beri Komentar