Ilustrasi (http://www.ibtimes.co.in/)
Dream - Rashad M. Bocah 12 tahun itu biasa mengemis di jalanan Kota Jeddah, Arab Saudi. Menengadahkan tangan dari satu mobil ke mobil lainnya. Meminta uang sekadarnya kepada para pengemudi yang berhenti di lampu merah. Empat tahun sudah dia melakoni `pekerjaan` ini.
Kesulitan hiduplah yang memaksa Rashad menjadi peminta-minta. Kondisi itu pula yang membuat dirinya tak menamatkan sekolah dasarnya. Karena harus meninggalkan kampung halamannya, di luar Saudi, menuju ke Jeddah.
Namun, di tengah belitan nasib buruk itu, bocah yatim ini masih bisa mengembangkan hobinya: menulis puisi. Dia memang punya bakat luar biasa dalam memainkan kata-kata. Merajutnya menjadi puisi yang begitu indah. Meskipun hidupnya pahit, namun setiap untaian kalimat yang dia tulis terasa manis.
Teman-teman, guru, serta pengawasnya di panti asuhan, yakin bocah ini punya bakat luar biasa sebagai pujangga. Sekarang, bagi siapa pun yang singgah ke panti asuhan milik Al-Bir Society akan disambut dengan puisi Rashad. Dia memastikan setiap tamu panti akan merasa unik dan disambut secara istimewa dengan pusinya.
Perjalanan hidup Rashad memang lekat dengan keprihatinan. Orangtuanya meninggal dalam sebuah kebakaran tragis. Saudara lelakinya terluka. Dalam usia belia itu, dia juga harus menanggung hidup keempat saudarinya. Inilah yang mendorongnya untuk hijrah dari sebuah negara di teluk menuju Jeddah.
Rashad nekat pindah ke Arab Saudi untuk mendapatkan uang yang selanjutnya dia kirim untuk menghidupi keluarganya di kampung halaman. Cerita hidupnya berlanjut di jalanan Jeddah. “ Kemudian saya mulai menjual permen karet dan handuk di lampu merah,” kata Rashad mengenang awal kehidupan jalanannya, sebagaimana dikutip Dream dari Arab News, Senin 22 September 2014.
Setiap hari, Rashad mampu mendapatkan uang sekitar Rp 225 ribu. Uang hasil keringatnya itu secara periodik dikirim kepada saudarinya di kampung halaman.
Namun, angin kehidupan kemudian berubah. Suatu hari dia ditangkap petugas dalam sebuah razia pengemis. Dia kemudian dikirim ke panti asuhan. Di sanalah dia ketemu dengan teman-teman barunya. “ Di sana, saya mulai menghidupkan kembali masa kanak-kanak saya yang hilang dengan menemukan bakat saya dan mengembangkannya,” tutur dia.
Rashad sangat yakin dengan bakatnya dalam bernyanyi, menulis puisi, dan mempelajari Alquran dengan hati. Dengan bakat itu Rashad berharap bisa menapaki hidup yang lebih baik dan segera bisa mengarungi kehidupan baru di kampung halaman bersama saudari-saudarinya.
Advertisement

Perempuan di Balik McDonald’s Indonesia: Dua Kisah, Satu Komitmen untuk Tumbuh dan Berdampak


Kandungan Komposisi Susu dalam Produk Nutrisi Anak Makin Menjadi Perhatian

Nestlé MILO Dukung Pengembangan Program Basketball For Good di Indonesia

Nestlé MILO Dukung Pengembangan Program Basketball For Good di Indonesia

Kandungan Komposisi Susu dalam Produk Nutrisi Anak Makin Menjadi Perhatian
