Hijaber Anak Penjual Gorengan Kuliah Gratis di UGM

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 6 Agustus 2014 13:42
Hijaber Anak Penjual Gorengan Kuliah Gratis di UGM
Terlahir dari keluarga kurang mampu tidak membuat kecil hati. Awalnya gadis berperawakan mungil ini merasa ragu bisa mewujudkan mimpinya itu.

Dream - Impian hijaber ini melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi terwujud. Terlahir dari keluarga kurang mampu tidak membuat Weni Tri Arfiyani (18) kecil hati.

Berkat hasil kerja kerasnya dalam belajar akhirnya ia diterima kuliah tanpa dikenai pungutan biaya hingga selesai di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

" Rasanya melihat kondisi keluarga, saya tidak kebayang akhirnya bisa kuliah. Apalagi tanpa harus membebani orangtua," kata Weni yang diterima di Jurusan Ilmu Komunikasi saat ditemui di rumahnya Desa Kajoran, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, baru-baru ini.

Awalnya gadis berperawakan mungil ini merasa ragu bisa mewujudkan mimpinya itu. Sebab penghasilan sang ayah, Bambang Suripno (51), sebagai sopir panggilan tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-harinya, apalagi untuk membiayai kuliah.

Dalam sebulan belum tentu mendapatkan panggilan untuk menyupir, bahkan pernah hingga dua bulan menganggur. Sementara ibunya, Liswidyawati (49), sehari-hari bekerja sebagai pembuat kue pesanan para tetangga.

Jika kondisi sepi pesanan, ia berjualan geblek dan gorengan di pasar depan rumahnya yang terletak di lereng kaki Gunung Sumbing.

Hati anak bungsu dari tiga bersaudara ini semakin miris mengingat perkataan ayahnya yang tidak akan pernah bisa menguliahkan anak-anaknya. Kedua kakaknya pun yang kini sudah berkeluarga hanya mampu mengenyam pendidikan hingga jenjang SMA.

" Ingin bisa lebih dari kakak-kakak saya. Saya yakin dengan kuliah nantinya kehidupan kami bisa lebih baik dari saat ini," kata Weni yang bercita-cita menjadi jurnalis.

Hijaber Anak Penjual Gorengan Kuliah Gratis di UGM© UGM.ac.id

Saat ini Weni dan kedua orangtuanya tinggal di sebuah rumah sederhana milik sang nenek. Sejak 2005 silam mereka menumpang tinggal di sana menunggui sang nenek yang sudah renta. Sebelumnya selama 21 tahun mereka hidup menumpang di rumah Mantri Kesehatan setempat.

" Dari lahir sampai sekarang masih numpang tinggal di rumah orang lain. Semoga suatu saat nanti bisa membelikan rumah untuk bapak dan ibu," ujar gadis berjilbab ini.

Sementara Bambang mengungkapkan keinginan berkuliah putrinya itu sudah muncul sejak SMP. Walapun hidup dalam keadaan pas-pasan, sekalipun ia tidak pernah melarang anak-anaknya melanjutkan kuliah.

" Tapi selalu saya tekankan kalau kuliah membutuhkan biaya besar dan bapak tidak mampu menyediakan uang sebanyak itu. Jadi kalau mau kuliah ya harus cari beasiswa," kata Bambang.

Weni mengaku tidak memiliki kiat khusus dalam belajar sehingga bisa terus berprestasi. Hanya saja setiap harinya ia selalu mengalokasikan waktu untuk belajar.

" Sehari-hari belajar maksimal 3 jam tapi efektif. Jadi tidak diforsir belajar terus malah akan kelelahan," kata alumnus SMA 1 Magelang ini.

(Ism, Sumber: UGM.ac.id)

Beri Komentar