Ini Ketentuan dalam Pembagian Daging Kurban

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 20 Agustus 2018 20:01
Ini Ketentuan dalam Pembagian Daging Kurban
Ulama membagi kurban menjadi dua jenis, nazar dan sunah.

Dream - Sebentar lagi, umat Islam Indonesia kembali bertemu dengan Idul Adha. Hari besar yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban ini selalu disambut dengan penuh kegembiraan.

Momen ini dimanfaatkan umat Islam dengan menjalankan ibadah sunah kurban. Mereka membelanjakan sebagian hartanya dengan hewan kambing maupun sapi untuk disembelih.

Daging hasil sembelihan itu tidak dinikmati sendiri, melainkan dibagikan kepada orang lain terutama mereka yang membutuhkan. Meski begitu, ada ketentuan yang harus diperhatikan dalam pembagian daging kurban.

Dikutip dari NU Online, ibadah kurban dibagi menjadi nazar dan sunah biasa. Untuk nazar yang dihukumi wajib, orang yang berkurban terlarang sama sekali menikmati daging hewannya meski hanya sedikit.

Berbeda dengan kurban sunah. Orang yang berkurban justru disunahkan untuk makan sebagian daging hewan yang dia sembelih.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Afifuddin Mihajir dalam kitab Fathul Mujibil Qarib.

" (Orang yang berkurban tidak boleh memakan sedikit pun dari ibadah kurban yang dinazarkan [wajib]) tetapi ia wajib menyedekahkan seluruh bagian hewan kurbannya. (Ia memakan) maksudnya orang yang berkurban dianjurkan memakan (daging kurban sunah) sepertiga bahkan lebih sedikit dari itu."

Jatah daging bagi orang yang berkurban adalah sepertiga lebih sedikit. Selebihnya, daging diberikan kepada setiap orang yang membutuhkan.

Selain itu, orang yang berkurban terlarang hukumnya menjual bagian-bagian dari hewan kurbannya. Apakah itu kulit maupun kepalanya.

" Orang yang berkurban (tidak boleh menjual daging kurban) sebagian dari daging, bulu, atau kulitnya. Maksudnya, ia haram menjualnya dan tidak sah baik itu ibadah kurban yang dinazarkan (wajib) atau ibadah kurban sunah."

Sementara terkait daging yang dibagikan kepada fakir miskin dalam kondisi segar dan belum dimasak. Ketentuan ini berbeda dengan akikah yang dibolehkan memasak daging hewan sebelum dibagikan.

Para ulama juga membagi daging hewan kurban menjadi tiga bagian yaitu sepertiga untuk orang miskin, sepertiga untuk orang kaya, dan sepertiga lagi untuk orang berkurban. Tetapi, menyedekahkan seluruh daging dan hanya mengambil sedikit dengan niat meraih berkah kurban juga dibolehkan.

Selengkapnya...

(ism)

1 dari 2 halaman

Simpan Daging Kurban dalam Kemasan, Hukumnya?

Dream - Setiap hewan yang disembelih seorang Muslim dengan niat berkurban diharuskan dibagi kepada sesamanya, terutama mereka yang tidak mampu. 

Kurban adalah ibadah yang menekankan aspek tolong menolong. Daging kurban menjadi sarana untuk berbagi kegembiraan.

Seiring berjalannya waktu, muncul inovasi dalam proses penyaluran daging kurban yaitu disimpan dalam bentuk kemasan kaleng. Ini agar daging kurban bisa dibagikan merata hingga daerah pelosok yang jarang menikmati daging.

Tetapi, ada hadis yang menyatakan daging kurban tidak boleh disimpan lebih dari tiga hari. Lantas, bagaimana hukum daging kurban yang disimpan dalam kemasan?

Dikutip dari Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat Lc menjelaskan hadis yang berisi larangan menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari diriwayatkan Bukhari. Terjemahan hadis tersebut adalah demikian.

" Siapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga."

Larangan yang sama juga terdapat dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

" Dari Salim dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW melarang kamu memakan daging hewan udhiyah yang sudah tiga hari. Salim berkata bahwa Ibnu Umar tidak memakan daging hewan udhiyah yang sudah tiga hari."

Tetapi, larangan tersebut berlaku sementara dan sudah dihapus oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sebab Rasulullah menyatakan larangan tersebut karena saat hadis itu disampaikan, Madinah sedang mengalami masa paceklik banyak terjadi kelaparan.

Hadis yang mencabut larangan tersebut diriwayatkan Bukhari.

" Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan, 'Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?' Maka beliau menjawab, '(Adapun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu'."

Para ulama menjadikan hadis ini sebagai dasar untuk membolehkan mengonsumsi daging kurban lebih dari tiga hari. Syaratnya, selagi masih sehat dimakan.

Sehingga, apabila daging kurban disimpan dalam kemasan kaleng, hal itu tentu dibolehkan. Apalagi melihat manfaatnya yang besar yaitu daging kurban bisa dibagikan ke tempat yang jauh.

Selengkapnya...

2 dari 2 halaman

Wanita yang Berkurban Harus Sudah Menikah?

Dream - Zulhijjah identik dengan ibadah kurban. Amalan sunah ini sangat dianjurkan karena sangat dicintai Allah SWT.

Para ulama bahkan menyatakan kedudukan kurban adalah sunah muakad, artinya sangat dianjurkan. Khususnya bagi mereka yang memiliki kelapangan harta.

Syeikh Wahbah Al Zuhaili dalam kitabnya Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu memberikan penjelasan demikian.

" Sesunguhnya kurban hukumnya sunah muakkadah atau sangat dianjurkan, bukan wajib. Namun demikian, dimakruhkan meninggalkan kurban bagi orang yang mampu melakukannya."

Ibnu Hazm dalam Al Muhalla menjelaskan ibadah kurban tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Apalagi apakah sudah menikah atau belum.

Menurut Ibnu Hazm, kesunahan kurban terletak pada kemampuan seseorang. Sehingga, status sudah menikah atau belum tidaklah menjadi syarat kurban.

" Berkurban boleh dilakukan oleh musafir, sebagaimana boleh dilakukan bagi orang yang mukim, dan tidak ada bedanya. Demikian pula wanita."

Ibnu Hazm melanjutkan setiap orang yang butuh amal baik dianjurkan untuk berkurban.

" Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW tentang berkurban, dan beliau tidak membedakan antara orang pelosok dengan orang kota, musafir dengan mukim, lelaki dengan wanita. Karena itu, membeda-bedakan mereka adalah salah, dan tidak dibolehkan."

Selengkapnya...

(ism)

[crosslink_1]

Beri Komentar