Kecelakaan Laut Saat Antar Ibu Bersalin, Bidan Endah Wafat

Reporter : Syahid Latif
Senin, 30 November 2015 20:11
Kecelakaan Laut Saat Antar Ibu Bersalin, Bidan Endah Wafat
Bidan Endah meninggal dalam sebuah kecelakaan laut saat mengantar pasien bersalin. Dia bertaruh nyawa untuk tugasnya.

Dream - Seorang bidan yang mengabdi di pedalaman tanah air kembali meninggal. Kali ini kabar duka datang dari tanah Papua. Seorang bidan yang bertugas di Kaimana, Dwi Endah Prihatiningsih, wafat dalam sebuah kecelakaan perahu, saat merujuk pasien ke rumah sakit.

Kabar duka itu disampaikan oleh Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Emi Nurjasmi, melalui akun Facebook. Emi menyampaikan duka cita atas wafatnya Endah.

Yaa Allahh,, gugur satu lagi pahlawan kesehatan bidan Endah,, Innalillahi wa Inna ilaihi Rojiun,, Mudah2an pengabianmu melapangkan jalanmu menghadap Tuhan YME.....Semoga bidan Endah khusnul khotimah,” demikian tulis Jasmi, sebagaimana dikutip Dream, Senin 30 November 2015.

Dalam postingan itu, Jasmi juga mengunggah screen shoot kabar duka ini. Pesan itu disampaikan oleh akun Facebook Hotbel Marbun kepada Keluarga Besar Kesehatan se Tanah Papua. Pesan itu berbunyi keluarga besar Puskesmas Bofuwer, Distrik Teluk Arguni, dan Dinas Kesehatan Kaimana berduka dengan meninggalnya Endah.

Dalam pesan itu juga disebut bahwa Endah meninggal akibat kecelakan laut pada Minggu kemarin, pukul 20.00 WIT. Kala itu, Bidan Endah tengah melaksanakan tugas, yaitu mengantar pasien rujukan, yaitu seorang ibu yang akan melahirkan ke rumah sakit.

Ucapan duka juga disampaikan, Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, almamater Bidan Endah, melalui akun Facebook. “ Innalillahi wa innailaihi rojiun, civitas akademika Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Mbak Dwi Endah Prihatiningsih.

Pada akun Facebook itu pula tertulis bahwa Bidan Endah merupakan alumni D3 Kebidanan angkatan 2010. Selamat jalan Bu Bidan. Semoga diampuni segala dosa dan diterima segala amal Anda. Amin.

1 dari 4 halaman

Usai Bantu Persalinan 2 Ibu, Bidan Hamil 8 Bulan Wafat

Usai Bantu Persalinan 2 Ibu, Bidan Hamil 8 Bulan Wafat © Dream

Dream - Kabar duka kembali datang dari dunia kesehatan dan pedalaman Indonesia. Seorang bidan di Kalimantan Barat, Anik Setya Indah, meninggal dunia pekan lalu.

Kabar meninggalnya Bidan Anik ini menyebar di media sisoal. “ INNALILLAHI WAINNAILAIHI Rojiun, satu lagi pahlawan kesehatan meninggal dunia dalam tugasnya di pedalaman kalimantan, BIDAN ANIK SETYA INDAH,” demikian bunyi kabar berantai itu.

Menurut kabar itu, Bidan Indah tengah hamil 8 bulan. Dia berencana mengambil cuti pada awal Desember untuk proses kelahiran. Dan pada Kamis pekan lalu, ada panggilan tugas untuk Bidan Indah dari dua pasien sekaligus.

Rumah dua pasien yang hendak melahirkan ini cukup jauh dari tempat tinggal Bidan Indah. Sudah begitu, medan menuju rumah dua pasien itu sulit dilalui. Sang suami sempat melarang Bidan Indah untuk berangkat karena sedang hamil besar.

Tapi Indah menolak dan tetap saja berangkat. Akhirnya seharian berhasil melahirkan dua pasien dg selamat.

Sepulang tugas itu, Bidan Indah merasa perutnya sakit. Dan sang suami hendak membawanya ke Rumah Sakit Pontianak. Namun karena harus ditempuh dalam waktu 4 jam, rencana itu dibatalkan.

Bidan yang bertugas di Desa Darit, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak, itu akhirnya dibawa ke rumah sakit setempat. “ Akhirnya terpaksa masuk ke RS kabupaten yang ada.

Sayang, bayi dalam kandungan Indah tak tertolong. Indah berusaha menguatkan hati suaminya, bahwa janin itu belum menjadi rezeki mereka. Namun beberapa menit kemudian perut Indah mengalami kontraksi dan kemudian dilakukan operasi Caesar.

Akhirnya dilakukan operasi, tapi ternyata ditemukan placenta sudah lepas (solutio plasenta), akibatnya terjadi perdarahan hebat sampai shock.

Indah kehilangan banyak darah. Sayang, persediaan darah di daerah itu sedang kosong. Sehingga semua teman dikumpulkan untuk menyumbang darah. Sudah begitu kantong darah tak tersedia, sehingga harus mencari ke kantor PMI yang jaraknya jauh.

Belum sempat darah datang, INDAH semakin jelek kondisinya sampai akhirnya dilakukan resusitasi jantung namun nyawa INDAH tidak tertolong lagi dan meninggal dunia jumat kemarin.” Semoga amal ibadah Bidan Indah diterima dan khusnul khotimah. Amin. (Ism)

2 dari 4 halaman

Sulit Dievakuasi, Dokter Muda Meninggal di Kepulauan Aru

Sulit Dievakuasi, Dokter Muda Meninggal di Kepulauan Aru © Dream

Dream - Kabar duka datang dari dokter muda yang sedang menjalankan program internship di Kepulauan Aru, Maluku Tenggara, Dionisius Giri Samudra.

Kabar ini pun dengan cepat menyebar di media sosial, pria yang akrab disapa Andra ini baru menyandang status pegawai tidak tetap (PTT) di Rumah Sakit Cendrawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku.

Sebelum meninggal, tubuh Andra sempat demam dan mengalami gagal napas serta penurunan kesadaran. Andra pun menjalani perawatan di RSUD Cenderawasih pada 8 November 2015.

Namun sayang kondisinya terus menurun. Teman-teman sesama dokternya menduga Andra mengalami komplikasi virus campak.

" Gejala awal seperti campak. Tapi sepertinya terjadi komplikasi virus terus menyebar hingga ke otak. Kasus seperti ini jarang terjadi bisa dibilang 1:200 yang mengalaminya," tutur dr. Glen yang bertugas di RSUD Cenderawasih kepada wartawan, Kamis 12 November 2015.

Saat proses evakuasi Andra diakui Glen mengalami kendala dari segi transportasi. Akses tercepat dari tempat Andra, Dobo menuju Maluku harus ditempuh dengan pesawat selama 3,5 jam. Itupun dengan jadwal penerbangan yang tak menentu.

" Kemarin kami berencana akan mentransfernya ke Tual untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Tapi kondisinya semakin memburuk dan tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan dengan transportasi laut, harus melalui udara. Dan ada kendala dalam hal itu," tutur dr. Glen.

Ungkapan kesedihan saat Andra masih dalam kritis sempat dilontarkan Bambang Budiono selaku dokter senior di RS Awal Bros Makassar yang menuliskan di akun facebooknya.

" Ada seorang dokter yang sedang internship di RSUD Dobo Maluku Tenggara, Kepulauan Aru. Dalam keadaan febris, penurunan kesadaran, trombosit sudah 50 ribu. Namun ada kendala dalam hal biaya untuk evakuasinya. Selain itu juga mengenai pesawat yang akan menjemput ke sana. Kasihan sekali dokter yang sedang internship tersebut. Kondisinya mulai menurun. Kira-kira Kemenkes atau IDI bisa bantukah?"  tulis Bambang.

Andra adalah satu dari 17 dokter muda lainnya yang tengah menjalani program internship di Kepulauan Aru selama 1 tahun. Rencananya Andra beserta beberapa rekannya akan mulai bertugas di RSUD Cenderawasih pada 12 November 2015 setelah sebelumnya ditugaskan di puskesmas daerah selama 5 bulan.

3 dari 4 halaman

Kasus dr Andra di Kepulauan Aru, Ini Pesan Ketua Umum IDI

Kasus dr Andra di Kepulauan Aru, Ini Pesan Ketua Umum IDI © Dream

Dream - Kabar meninggalnya dokter internship, Dionisius Giri Samudra mengundang simpati dari banyak pihak. Salah satunya Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).

" Kami semua berduka, ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,"  tutur Ketua Umum PB IDI, Zaenal Abidin, dalam pesan singkatnya. 

PB IDI mengimbau seluruh petugas kesehatan lebih peduli dan mengantisipasi risiko yang akan dihadapinya.

" Siapa saja yang akan dikirim ke daerah endemis penyakit tertentu, harus tahu dan paham bagaimana mengantisipasi jika sewaktu-waktu terserang penyakit ," ujar Zaenal. 

Kejadian ini, kata Zaenal, memberikan kesadaran mengenai risiko yang bakal didapat oleh mereka yang menekuni profesi kedokteran.

" Sebab, kejadian serupa pernah dialami banyak dokter yang dengan berani bertugas di daerah dengan medan cukup berat. Dan ditempatkan di daerah endemis penyakit tertertentu," tuturnya.

Kabar meninggalnya Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) Dionisius Giri Samudra itu menyebar cepat di sosial media. Ini karena proses evakuasi terhambat jalur transportasi yang begitu sulit. 

Dokter yang akrab disapa Andra itu bekerja magang di RS Cendrawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru. Dari hasil pemeriksaan, Dokter Andra menderita penyakit radang otak (ensefalitis) dan campak. (Ism) 

4 dari 4 halaman

Inilah Alasan Mengapa Tulisan Dokter Susah Dipahami

Inilah Alasan Mengapa Tulisan Dokter Susah Dipahami © Dream

Dream - Seringkali, setiap kita berkunjung ke dokter dan memperoleh resep, tulisan yang tertera di resep tersebut sulit terbaca. Tulisan di resep itu lebih terlihat seperti coretan anak-anak yang sedang belajar menulis.

Tapi, ternyata ada kode rahasia pada setiap resep dokter. Dokter memang biasa menjaga kerahasiaan resep yang ditulisnya agar si pasien tidak dengan mudah menggunakan resep itu. Karena setiap resep obat yang diberikan dokter memerlukan diagnosis terhadap penyakit pasien terlebih dahulu.

Biasanya, dalam resep dokter ada singkatan-singkatan yang merujuk pada istilah ilmiah tertentu. Misalnya, a.c, b.d, dan b.i.n. Singkatan a.c merupakan kependekan dari ante coenam(sebelum makan); b.d berarti bis die (dua kali sehari); adapun b.i.n berarti bis in noctus (dua kali semalam), cap berarti capsula (kapsul), gtt artinya gutta (diteteskan) dan p.c. artinya post coenam (setelah makan) dan lain sebagainya.

Jeleknya tulisan dokter pada resep ternyata mengandung tujuan sangat penting bagi ilmu kedokteran. 

Pertama, karena pasien tidak akan mudah memahami isi resep, jika resep obat yang ditulis dokter mudah dipahami pasien, maka dapat dimungkinkan bahwa pasien tersebut akan membeli obat yang sama di apotik jika mengalami gejala yang sama tanpa perlu periksa ke dokter. Padahal tindakan tersebut sangat berbahaya bagi kesehatannya.

Kedua, Pasien dapat melakukan kesalahan persepsi jika memahami isi resep tersebut. Itulah alasan mengapa tulisan dokter pada resep obat sangat susah untuk dibaca dan inilah rahasia kode pada resep dokter yang bertujuan untuk melindungi kerahasiaan resep obat agar tidak disalahgunakan.

Beri Komentar