Miskin (4): Kisah Afad, Penjual Donat Kampus Peraih Cum Laude

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 12 Agustus 2015 18:07
Miskin (4): Kisah Afad, Penjual Donat Kampus Peraih Cum Laude
Sempat tinggal di masjid karena tak punya uang menyewa kamar. Jadi lulusan terbaik di tengah keterbatasan. Inilah kisah pilu mahasiswa berkantong tipis itu.

Dream - Suasana di auditorium Universitas Negeri Semarang bulan Maret 2015 lalu begitu khidmat. Ribuan mahasiswa berkumpul di gedung itu. Seluruh mahasiswa itu mengenakan kostum jubah hitam. Sementara di kepala mereka tersemat topi khusus persegi lima dengan seutas tali menjuntai di bagian tengah atau lazim disebut toga.

“ Cring… cring… cring…,” suara itu terdengar dari sebuah tongkat yang dihentakkan ke tanah sebanyak tiga kali oleh seorang pemandu. Instruksi terdengar menggema, memenuhi setiap sisi di ruangan sakral di lembaga tempat bernaungnya kaum cerdik cendekia itu. Para mahasiswa berbaris, perlahan memasuki ruangan mengikuti jejak langkah sang pemandu, lalu duduk di kursi yang telah ditentukan.

Sepanjang prosesi berlangsung, hanya ada keheningan. Tak ada satupun suara terdengar di seluruh bagian ruangan itu.

Lalu, seorang pria bertoga dengan jubah hitam pekat tanpa hiasan berjalan menuju mimbar. Di tangannya terselip map, berisi sejumlah dokumen. Dia berhenti di hadapan seseorang berkostum serupa, tetapi di dadanya tergantung kalung bermotif, penanda sosok tersebut adalah petinggi utama di lembaga itu.

Orang itu menundukkan kepala sejenak, pertanda meminta izin. Kemudian, ia menuju mimbar membuka map kemudian mulai membacakan isi dokumen itu di hadapan para hadirin. Sejumlah nama disebut dalam dokumen itu. Mereka kemudian diminta untuk maju ke hadapan sekelompok orang yang sedari awal sudah duduk di bagian depan ruangan.

Di salah satu sudut, seorang pemuda duduk dengan gelisah. Diam-diam, pemuda itu sebenarnya tengah meredakan rasa gugup.

“ Mochammad Najmul Afad,” kalimat itu terdengar dari pengeras suara. Panggilan itu membuyarkan kegelisahan pemuda itu. Pemuda itu segera berdiri, lalu berjalan maju menuju mimbar.

Sesampai di mimbar, dia segera bergabung dengan beberapa mahasiswa lain yang namanya juga disebut. Afad, panggilan akrab pemuda kelahiran Batang, Jawa Tengah, 19 Juni 1993 itu mendapat kesempatan yang begitu didambakan oleh setiap mahasiswa, berjabat tangan langsung dengan sang Rektor. Hanya mereka yang mendapat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik bisa seperti itu.

Afad adalah salah satu mahasiswa yang menyandang penghargaan itu. Dia berhasil menorehkan prestasi lulus dengan Indeks Prestasi (IP) 3,87. Nilai ini membuat Afad mendapat predikat cum laude, predikat tertinggi dalam jenjang prestasi di dunia kampus.

Hari itu seharusnya menjadi hari istimewa bagi Afad. Dia tentu merasa bahagia, lulus sebagai mahasiswa terbaik Jurusan Pendidikan Sosiologi. Tetapi, kebahagiaan itu terasa tidak lengkap. Meski guratan senyum tersimpul wajahnya, tetap terasa ada yang kosong di dadanya.

Di barisan penonton sana, hanya ada ibu, dua kakak dan satu adik yang menyaksikan Afad diwisuda sebagai alumnus terbaik. Sosok sang ayah tidak terlihat di rombongan itu. Padahal, Afad begitu ingin pria yang selalu disebutnya dengan panggilan ‘bapak’ turut merasakan kebahagiaan yang dirasakannya saat itu.

Tuhan berkehendak lain. Sang bapak telah dipanggil Yang Maha Kuasa lebih dulu ketika Afad masih duduk di bangku kuliah semester III. Meski demikian, di tengah cekikan rasa haru, Afad diam-diam merasa bangga, lantaran sang bapak sempat menyaksikan sendiri perjuangannya menjadi mahasiswa berkantong tipis...

***

Afad bukanlah mahasiswa...

1 dari 3 halaman

Mimpi yang Hampir Terberangus

Mimpi yang Hampir Terberangus © Dream

Mimpi yang Hampir Terberangus

Afad bukanlah mahasiswa dengan latar belakang keluarga mampu. Dia memang memiliki mimpi untuk bisa kuliah. Mimpi itu hampir saja musnah lantaran kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung.

Ayah Afad hanyalah seorang petani penggarap lahan orang dan ibunya hanya penjual beras dan bekatul. Jelas saja pendapatan keduanya tidak cukup jika harus membiayai Afad kuliah. Ditambah lagi, sang ayah menderita sakit diabetes, sehingga keuangan keluarga kerap tersedot untuk membeli obat.

Afad sempat berharap pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur khusus yaitu panggilan. Tetapi, dia terganjal persyaratan peringkat kelas. Jalur itu mengharuskan calon mahasiswa selalu menduduki peringkat 10 besar sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMA. Sementara Afad meraih peringkat 17 dan 18 ketika duduk di kelas 1.

Niat kuliah Afad sempat didengar oleh guru Bimbingan dan Konseling SMA 2 Batang. Afad mengaku cukup dekat dengan sosok guru BK bernama Titik ini. Sang guru sempat bertanya keinginan pemuda ini setelah tamat SMA.

“ Saya bilang, ‘Mungkin saya akan bekerja’,” ujar Afad kepada Dream.co.id.

Guru itu kemudian menyarankan agar Afad mengurungkan niat bekerja dan kembali mengejar mimpi berkuliah. Kebetulan, kenang Afad, ada pendaftaran beasiswa Bidik Misi bersamaan dengan pendaftaran SNMPTN jalur tulis. Afad mengikuti saran sang guru dan mengajukan formulir pendaftaran. Kala itu, dia memilih lokasi ujian di Semarang.

“ Waktu ujian, saya numpang menginap di kost milik senior saya yang kuliah di Undip (Universitas Diponegoro),” kata Afad.

Rupanya, ada yang tidak suka dengan kehadiran Afad. Penyebabnya, status Afad dengan seniornya bukanlah keluarga. Induk semang menerapkan kebijakan tamu yang menginap diwajibkan membayar biaya menginap jika tidak memiliki hubungan keluarga dengan penghuni kost.

“ Saya bilang ke senior saya, ‘kalau harus bayar, saya tidak sanggup’. Akhirnya, kami diam-diam saja. Ternyata ketahuan juga,” ungkap dia.

Alhasil, Afad terpaksa harus pergi dari rumah kost itu. Tetapi, dia sama sekali tidak memberitahu seniornya. Hanya mengatakan seorang teman ingin bertemu dengan dia.

“ Akhirnya saya tidur di masjid Undip. Kebetulan, teman saya ada yang merasakan hal sama. Akhirnya, kami putuskan untuk sementara waktu tinggal di masjid Undip. Selain bisa belajar, ibadah juga mudah,” kenang Afad.

***

" Waktu saya mengerjakan...

2 dari 3 halaman

Rela Tertatih demi Bertahan Hidup

Rela Tertatih demi Bertahan Hidup © Dream

Rela Tertatih demi Bertahan Hidup

“ Waktu saya mengerjakan soal ujian, yang ada dalam benak saya hanya saya pasti diterima,” ucap Afad.

Benar saja, ketika pengumuman SNMPTN, nama Afad tercantum di sana. Tetapi, dia sama sekali tidak tahu telah lulus seleksi itu. Andai saja dia tidak iseng pergi ke warnet, mungkin dia tidak akan pernah menjadi mahasiswa.

“ Pas saya tahu nama saya lolos, waktu pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) sudah habis. Saya pontang-panting cari informasi. Akhirnya saya diizinkan kuliah selama sepekan tanpa KRS,” teran dia.

Beruntung, pihak universitas memberlakukan sistem pengisian KRS online dalam dua periode. Pada periode kedua, mahasiswa dipersilakan melakukan pengubahan rencana studi. Afad kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk mengisi KRS online.

Di masa-masa awal kuliah, Afad tinggal dengan menumpang di tempat seniornya yang lain. Dia sama sekali tidak memiliki cukup uang untuk bisa menyewa kamar kost. Uang beasiswa didapatnya hanya digunakan untuk biaya kuliah. Sementara untuk bertahan hidup, Afad harus terus memutar otak.

Tetapi, rumah kost itu menjadi gerbang bagi Afad untuk berusaha. Di kost itu, Afad sempat berkenalan dengan pria bernama Nardi. Nardi merupakan pria yang kerap menjual donat dengan dititipkan di beberapa tempat kost. Dari pria ini, Afad belajar berbisnis jualan donat.

“ Saya hanya bermodal fotokopi KTP ketika mengambil donat dari Pak Nardi. Alhamdulillah, beliau percaya,” kenang dia.

Afad menyadari, hasil jualan donat memang tidak terlalu besar. Dia pernah menghitung pendapatan kotor setiap hari dia peroleh rata-rata sebesar Rp18.000. Dari pendapatan itu, Afad bisa meraup untung sebesar Rp5.000.

Alhamdulillah, biaya makan waktu itu masih murah. Nasi sayur lauk tempe masih Rp2.500. Sehingga bisa makan dua kali sehari,” ungkapnya.

Afad menjalankan bisnis sebagai penjual donat di sela kuliahnya selama beberapa tahun. Selama satu minggu, rata-rata dia bisa menjual empat hingga lima boks berisi masing-masing 12 donat. Donat-donat itu dia titipkan di beberapa kantin di dalam komplek universitas serta beberapa rumah kost.

“ Kemudian ada adik kelas saya juga jualan donat. Akhirnya saya memutuskan berhenti menjual di kampus tetapi tetap berjualan di beberapa rumah kost,” tutur dia.

Saat duduk di semester III, Afad memutuskan berhenti berjualan donat dan berganti bisnis buku pesanan. Afad mengingat, momentum pertama kali baginya terjun ke dunia jual beli buku adalah ketika seorang senior lain mengajaknya. Saat itu, Afad diminta mencatat pesanan buku dari beberapa mahasiswa, sementara sang senior akan mencarikan buku tersebut di toko buku.

Lambat laun, Afad menguasai sistem bisnis buku itu dan bersama temannya, Nuke, pemuda ini memutuskan untuk berbisnis sendiri. Afad membuka layanan pemesanan buku. Ketika ada pemesan, Afad menghubungi Nuke yang merupakan pemilik kios buku di Stadion Semarang Bawah.

“ Saya dan Mbak Nuke sama-sama merasakan jatuh bangun di dunia bisnis buku. Sekarang kalau ketemu, kami selalu mengenang kisah pahit itu,” terang dia.

Sistem bisnis buku yang dijalankan Afad ternyata mendapat lirikan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Para pengurus HMJ lalu meminta Afad membantu keuangan HMJ. Dengan ikhlas, Afad merelakan sistem bisnis itu dijalankan pengurus HMJ sehingga dia terpaksa kehilangan pemasukan.

“ Makan saya dengan apa? Kebetulan, senior saya di kampus mengajak saya melakukan penelitian. Waktunya cukup lama, sampai satu tahun. Dia sudah memikirkan urusan perut saya, jadi saya tinggal fokus menyelesaikan pekerjaan,” ungkap dia.

***

Afad merasakan betul pahitnya...

3 dari 3 halaman

Perjuangan Berbuah Manis

Perjuangan Berbuah Manis © Dream

Perjuangan Berbuah Manis

Afad merasakan betul pahitnya sebuah perjuangan bertahan kuliah. Kini, dia telah memetik buah dari perjuangan itu. Predikat mahasiswa cum laude membuat namanya dikenal.

Dengan predikat itu, Afad memiliki kesempatan melanjutkan studi. Dia sendiri mengaku masih punya mimpi untuk bisa berkuliah di luar negeri. Michigan, Leiden, dan Amsterdam adalah kota tujuan Afad melanjutkan studi program Master.

“ Tapi saya tidak mau muluk-muluk. Kalaupun diterima di dalam negeri, itu tidak masalah. Saya ingin kuliah Antropologi UGM,” ucap dia.

Niatan Afad sebenarnya cukup tinggi. Jika ada kesempatan, dia ingin menempuh pendidikan sampai puncak tertinggi. Semua itu demi mendukung cita-citanya, menjadi guru.

Guru adalah cita-cita utama yang diagungkan ibu dan saudara-saudara. Belum ada satupun dari empat bersaudara Afad menjalani profesi guru. Kakak sulungnya menjadi aktivis sosial, kakak keduanya mahir di bidang ilmu agama, sementara adiknya masih duduk di bangku sekolah menengah.

“ Saya ingin jadi guru, tapi tidak sembarang guru.Saya ingin menjadi guru yang menginspirasi, yang menjadi guru bangsa,” terang dia.

Alasan lain yang menjadi dasar Afad ingin menjadi guru adalah mimpi keluarga mendirikan sekolah gratis. Penyebabnya, lingkungan sekitar rumah Afad merupakan lingkungan yang belum menyadari arti pentingnya pendidikan. Padahal, menurut dia, banyak masyarakat desanya masuk kategori mampu.

“ Mereka sebenarnya sanggup, tetapi untuk membeli buku saja mereka sudah berat,” kata Afad.

Lebih lanjut, Afad merasa yakin mimpinya akan terwujud. Dia berpedoman pada apa yang selama ini diperolehnya dari kedua orangtuanya, ibadah adalah hal utama meraih segala keinginan.

“ Spirit ibadah, itu yang menjadikan kami tentram. Juga menjadi bekal kami mengabdi kepada masyarakat,” terang dia. (eh)

Beri Komentar