Kisah Gadis Kota Jadi Ratu Amazon

Reporter : Sandy Mahaputra
Sabtu, 14 Februari 2015 13:06
Kisah Gadis Kota Jadi Ratu Amazon
Setelah melalui perjalanan sungai yang dipenuhi aligator dan piranha. Dan akhirnya menikahi kepala suku.

Dream - Mimpi Sarah Begum, 26 tahun, untuk menjadi ratu di hutan Amazon akhirnya menjadi kenyataan.

Perempuan berparas cantik dari Inggris ini beberapa waktu mendapat gelar Ratu Amazon setelah menikah dengan Ginkto, 50 tahun, seorang pejuang suku Huaroani di hutan Amazon, Ekuador.

Pernikahan Sarah dengan Ginkto terjadi karena tidak sengaja dan bukan karena cinta. Sarah 'dipaksa' menikah agar dapat memfilmkan kehidupan suku Huaroani yang terancam tergusur dari Amazon.

Sarah adalah seorang sineas muda yang berniat mengangkat kehidupan masyarakat pedalaman di hutan hujan Amazon.

" Saat berusia 9 tahun aku sudah belajar tentang suku-suku Amazon dan mengetahui bagaimana kehidupan mereka terancam dunia modern," kata Sarah.

Sejak itu impian Sarah untuk mengangkat kisah suku Amazon semakin kuat dan keinginannya untuk mengunjungi mereka juga kian menjadi.

Sarah kemudian keluar dari pekerjaannya dan menggunakan semua tabungannya untuk menyewa kru film.

" Aku ingin melakukan riset tentang kehidupan suku di Amazon secara nyata."

Ia membiayai proyeknya dengan uangnya sendiri dan dia kemudian terbang sejauh 9300 kilometer dari London ke Ekuador, khususnya ke kota Amazon, Coca.

Setelah melalui perjalanan sungai yang dipenuhi aligator dan piranha, Sarah akhirnya....

(Ism) 

1 dari 1 halaman

Dilematis

Dream - Dia dan kru akhirnya tiba di desa Bameno, tempat suku Huaroani tinggal.

Sarah disambut hangat oleh warga suku Huaroani. " Aku diajar menenun oleh kaum perempuan Huaroani dan berburu dengan tombak oleh kaum lelakinya."

Para tertua adat mendesak Sarah untuk lebih terlibat dalam budaya mereka. Mereka kemudian memanggil Sarah masuk ke sebuah pondok.

" Di sana semua orang sudah telanjang. Aku diberitahu harus telanjang karena akan memakai pakaian adat mereka yang terbuat dari serat tanaman."

Saat itu Sarah benar-benar dilema. Di satu sisi, dia tidak mungkin telanjang karena sedang direkam. Sarah rasa-rasanya ingin berhenti dan pulang ke London.

Tapi Sarah juga ingin menyatu dan memahami tradisi mereka. Akhirnya Sarah setuju untuk berpakaian ala suku Huaroani.

Setelah itu pemimpin suku tertua mulai menyanyi dan para perempuan membuat chicha (minuman khas suku Huaroani). Lalu mereka membuatkan mahkota dari bulu burung macau.

" Mereka bilang bahwa aku akan dijadikan ratu. Setelah itu mereka mengelilingiku dan bernyanyi."

Sarah kemudian disuruh minum chicha. Setelah itu mereka memberi Sarah nama panggilan 'Imaca' yang berarti 'nama terakhir'.

" Kemudian aku dipertemukan dengan calon suamiku, Ginkto. Para tetua suku mengatakan Ginkto adalah pejuang Amazon paling hebat dan akan menjadi suami yang baik."

Dan benar saja, Sarah menilai Ginkto orang yang baik dan pemburu yang kuat hingga namanya populer di kalangan perempuan Huaroani.

" Dia lucu dan suka penasaran dengan kehidupanku di London."

Untungnya, pernikahan tersebut hanya simbol untuk membuat Sarah resmi menjadi bagian dari keluarga suku Huaroani. Sarah tidak diwajibkan untuk melayani Ginkto seperti layaknya suami-istri.

Berkat pernikahan tersebut, Sarah akhirnya bisa menyelesaikan filmnya yang berjudul Amazon Souls yang beberapa waktu yang lalu sempat diputar di Festival Film Cannes.

Sarah akhirnya bisa menyampaikan pesan bahwa saat ini kehidupan suku-suku pedalaman di Amazon tengah terancam oleh perkembangan dunia.

" Mereka tengah berjuang melawan perusahaan penebangan kayu yang ingin menggusur kehidupan mereka keluar dari hutan."

(Ism, Sumber: news.com.au)

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak