Berkurban Tapi Memberi Upah, Bolehkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 30 Juli 2018 20:02
Berkurban Tapi Memberi Upah, Bolehkah?
Pengadaan dan penyembelihan hewan kurban tentu membutuhkan biaya.

Dream - Sebagian Muslim yang mampu dianjurkan melaksanakan ibadah kurban ketika Idul Adha. Ibadah ini dilaksanakan dengan cara menyembelih hewan berupa kambing atau sapi.

Seiring berkembangnya teknologi terutama di bidang perbankan dan keuangan, sebagian Muslim memutuskan berkurban dengan uang. Dia mentransfer sejumlah uang kepada pihak yang dipercaya untuk membeli dan menyembelih hewan kurban.

Tentu mereka yang diamanahi harus mengeluarkan usaha untuk bisa membeli hewan korban. Apakah mereka yang mendapat amanah dibolehkan memungut upah kepada para pengkorban?

Dikutip dari NU Online, praktik kurban dengan cara transfer uang dapat dinyatakan sebagai wakalah. Artinya, pengkurban mewakilkan kebutuhannya kepada pihak lain agar dibelikan dan disembelihkan hewan untuknya.

Praktik ini dibolehkan dalam Islam. Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Mughni menjelaskan kebolehan wakalah disebutkan dalam Alquran, hadis, dan ijmak ulama.

Sedangkan terkait memungut upah atas pengadaan dan penyembelihan hewan kurban kepada pengkurban, hal ini dikembalikan kepada akad wakalah yang terjadi. Jika wakalah disepakati dengan upah, maka pihak yang ditunjuk sebagai wakil berhak atas upahnya usai menjalankan pekerjaannya.

Ibnu Qudamah memberikan penjelasan sebagai berikut.

" Jika seseorang diwakilkan untuk menjual, membeli, atau berhaji, maka wakil tersebut berhak atas upah ketika ia telah menyelesaikan tugasnya."

Untuk itu, disarankan untuk memberikan keterangan yang jelas terkait ada tidaknya upah. Ini agar masyarakat merasa yakin ketika mewakilkan hajatnya kepada pihak tertentu.

Selengkapnya...

(ism)

Beri Komentar