Menerima Upah Memandikan Jenazah Dilarang?

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 26 Desember 2017 06:00
Menerima Upah Memandikan Jenazah Dilarang?
Kerap ditemui di masyarakat, si pemandi jenazah mendapat sejumlah uang dari keluarga si mayit.

Dream - Mungkin kita kerap menemukan praktik pemberian upah bagi orang yang telah mengurus jenazah. Padahal, mengurus jenazah adalah kewajiban semua Muslim sebagai kepedulian kepada sesama.

Lantas, apakah pemandi jenazah tidak boleh menerima upah?

Dikutip dari laman Konsultasi Syariah, memandikan merupakan bagian dari pelaksaan kewajiban mengurus jenazah. Sangat dianjurkan melaksanakan kewajiban ini didasari dengan niat mencari ridha Allah SWT.

Tetapi, jika keluarga si mayit memberikan uang, maka harus diperhatikan dua rincian berikut. Pertama, jika pemberian uang itu tidak disyaratkan di depan, maka dapat diterima.

Ke dua, jika disyaratkan di depan maka menjadi upah. Si pemandi boleh menerima uang tersebut, namun akan mengurangi keutamaan yang dia peroleh.

Hal ini seperti penjelasan Syeikh Al Buhuti Al Hambali dalam kitabnya Kasyaf Al Qina.

" Dimakruhkan untuk mengambil upah dari memandikan mayit, mengkafaninya, mengangkatnya, dan memakamkannya. Dalam kitab Al Mubdi' dinyatakan, 'Imam Ahmad memakruhkan bagi yang memandikan mayit atau yang menggali kuburan untuk mengambil upah dari tugasnya. Kecuali jika dia sangat membutuhkan, dan dia boleh diberi dari baitul maal. Jika tidak memungkinkan, dia diberi sesuai ukuran kerjanya."

Ibnu Utsaimin dalam kitab Fatawa Nur 'Ala Ad Darb menjelaskan secara lebih rinci.

" Jika upah atau pemberian ini diberikan tanpa ada kesepakatan di depan, jelas ini dibolehkan dan tidak masalah. Karena pemberian ini sebagai bentuk balasan terima kasih untuk yang memandikan jenazah atau yang mengkafani atas kerja mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, 'Siapa yang diberi kebaikan oleh orang lain, maka berikanlah balasan terima kasih'.

Jika upah ini disyaratkan di depan, jelas menerima upah ini akan mengurangi pahala orang yang memandikan dan mengkafani. Karena yang memandikan dan mengkafani akan mendapatkan pahala besar; karena memandikan dan mengkafani mayit termasuk fardhu kifayah, sehingga yang melaksanakannya akan mendapatkan pahala melaksanakan fardhu kifayah.

Namun jika dia mengambil upah, maka pahalanya akan berkurang, meskipun tidak masalah baginya mengambil upah ini. Karena upah ini sebagai ganti atas kerja yang bermanfaat bagi orang lain (amal muta’adi). Dan orang yang melakukan amal muta’addi (kerja manfaat) bagi orang lain, dia berhak mendapat upah. Sebagaimana orang yang mengajarkan Alquran boleh mengambil upah menurut pendapat yang shahih." (eko)

Selengkapnya baca di tautan berikut ini...

Beri Komentar