Mengenal Gibran, Juragan Katering Anak Sulung Jokowi

Reporter : Eko Huda S
Rabu, 22 Oktober 2014 13:43
Mengenal Gibran, Juragan Katering Anak Sulung Jokowi
Gibran tak tertarik dengan bisnis mebel yang sudah dirintis Jokowi. Meski tak punya latar tata boga, Gibran tetap ingin berbisnis makanan.

Dream - Tak seperti biasa. Muka Gibran bersungut-sungut pagi itu. Raut anak sulung Joko Widodo itu tak secerah sang bapak yang kala itu akan dilantik jadi Presiden Indonesia. Di hadapan para wartawan, dia menggugat. Tak terima pernah disebut `anak haram` oleh media tertentu.

Memang, selama kampanye pemilihan presiden Juli yang lalu, berbagai informasi berseliweran. Beberapa di antaranya bahkan menyudutkan pribadi dan keluarga kandidat. Termasuk keluarga Jokowi.

Pagi itu, Senin 20 Oktober, pemuda bernama lengkap Gibran Rakabuming Raka itu diperkenalkan di depan awak media oleh Jokowi. Selain anak tertua itu, Jokowi juga memperkenalkan istrinya, iriana, serta dua anak lainnya, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep.

Gibran memang jarang terlihat bersama sang ayah. Baik saat berkampanye menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta maupun menjelang pemilihan Presiden yang lalu. Pemuda kelahiran Solo, 1 Oktober 1988 itu, sibuk mengurusi bisnis kateringnya, Chilli Pari Catering Service.

Sejak lulus sekolah dasar, Gibran memang sudah hidup terpisah dari orangtuanya. Sejak SMP, dia tinggal di Singapura. Dia menempuh pendidikan setingkat SMA di Orchid Park Secondary School, Singapura, pada tahun 2002. Dia kemudian melanjutkan pendidikan di Management Development Institute of Singapore (MDIS). Setelah lulus pada 2007, dia pindah ke Australia untuk belajar di University of Technology Insearch, Sydney, Australia.

Saat masih kuliah, Gibran mulai tertarik dengan bisnis tata boga. Namun keluarga tak mendukung. Dia justru disarankan meneruskan usaha keluarga yang dirintis Jokowi. Menjadi pengusaha mebel. Apalagi pendidikannya tak ada sangkut pautnya sama dengan urusan kuliner.

Tapi Gibran tak tertarik dengan bisnis mebel. Meski tak punya latar tata boga, Gibran tetap ingin berbisnis makanan. Satu yang dia pegang. Prospek bisnis ini sangat cerah. Potensinya di Solo besar. Sehingga, setelah lulus kuliah pada 2010, dia nekat membuka katering kecil-kecilan. Gudang mebel sang ayah disulapnya menjadi kantor dan dapur.

Berdirilah usaha Chilli Pari Catering Service itu. Nama itu tak asal dipilih. Gibran mempertimbangkan nama itu secara filosofi. Chilli berarti cabai. Warna merahnya menggambarkan keberanian. Sementara Pari yang dalam bahasa Indonesia berarti padi menggambarkan kemakmuran. Bagi Gibran, nama Chilli Pari berarti keberanian untuk lepas dari bayang-bayang orangtua.

Meski keluarganya sudah mapan, Gibran tak meminta modal ke orangtua. Dia sebar tujuh proposal pinjaman dana. Namun hanya satu yang membuahkan hasil. Uang Rp 1 miliar dari satu proposal itulah yang dijadikan modal untuk membangun bisnis katering pada 2010 itu.

Tak mudah bagi Gibran untuk menjalankan usaha katering ini. Maklum, dia tak mau menebeng nama besar sang ayah yang pernah menjadi walikota Solo. Dia memilih merangkak dari bawah. Menggunakan keringatnya sendiri untuk membesarkan usaha ini. Awalnya, Gibran hanya mempekerjakan belasan orang. Namun sejak Januari 2011, perusahaan katering ini sudah memakai tenaga ratusan orang.

Bisnis katering ini dengan cepat tumbuh. Sebuah terobosan dia lakukan. Tak melulu menyediakan menu makanan khas Solo. Menu-menu andalan dari Jawa, Jepang, dan bahkan dari negara Barat, dia sajikan. Nama Chilli Pari pun semakin berkibar. Dan kini, Gibran tercatat sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI) Kota Solo. (Ism)

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna