Jokowi, dan Jalur Rakyat Menuju Istana

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 21 Agustus 2014 21:58
Jokowi, dan Jalur Rakyat Menuju Istana
Jokowi bukanlah keturunan ningrat. Kehidupan keluarga Jokowi dulunya memang susah. Keluarga ini bahkan harus merasakan penggusuran rumah sebanyak tiga kali.

Dream - Akhirnya selesai sudah. Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan pasangan Prabowo Subianto- Hatta Rajasa atas keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang menetapkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang pemilihan presiden Indonesia 2014-1019. Keputusan itu dipalu hakim mahkamah pukul 20.45 WIB.  Kamis malam, 21 Agustus 2014." Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," tegas Ketua Majelis Hakim Konstitusi Hamdan Zoelva. Dibuka pukul 2 lebih 30 menit siang tadi, sidang ini berlangsung enam jam lebih. 

Kasus ini tuntas, sebab keputusan mahkamah itu bersifat final. Mengikat. Tak bisa diganggu gugat. Dan betapapun pahitnya bagi sejumlah orang, sudah selayaknya kita mengucapkan: selamat datang presiden baru Indonesia.

Keputusan mahkamah itu, menutup perdebatan hukum atas sengketa ini, dan mudah -mudahan juga menyudahi saling nyinyir di media massa, media daring, atau di kedai-kedai kopi antara penyokong kedua barisan. Bagaimanapun, proses panjang yang melelahkan ini ikut mengasah kemampuan Jokowi, bagaimana menghadapi kekuatan besar penuh tenaga, seperti barisan Prabowo Subianto itu. Dan mungkin itulah sumbangan terbesar Prabowo bagi Jokowi. Lawan tanding paling tangguh. 

Jokowi adalah presiden pertama Indonesia, yang seluruh karir politiknya dibesarkan dalam era reformasi. Dibesarkan dalam kultur demokrasi. Tangga karirnya ditentukan rakyat. Dipilih rakyat menjadi Walikota. Menjadi Gubernur. Dan kini menjadi Presiden. Para pendukung menyebutnya sebagai pemimpin yang lahir dari rahim rakyat.

Jokowi bukanlah keturunan ningrat. Datang dari keluarga sederhana. Bahkan susah. Pria berusia 53  tahun ini lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo yang hidup pas-pasan di Surakarta, Jawa Tengah. Menjadi sulung dari empat bersaudara, dia sudah harus ikut memikul " dapur keluarga" saat usianya masih sangat belia, dua belas tahun.

Bukan saja susah, rumah keluarga ini bahkan pernah digusur. Tiga kali pula. Tentu saja pahit. Tapi kepahitan itulah yang membentuk kepribadian sekaligus kepekaan Jokowi. Saat menjadi walikota di Solo, dia merelokasi pedagang kaki lima bukan dengan jalan mengerahkan buldozer, tapi dengan cara yang gembira. Sang walikota itu ikut dalam pawai mengantar para pedagang itu ke tempat baru.

Kita mungkin menonton pawai yang meriah itu di layar televisi, membaca di koran-koran, tapi tak banyak yang tahu bagaimana susahnya Jokowi " menaklukkan" hati para pedagang itu berbilang bulan. Ratusan pedagang kecil itu luluh, setelah Jokowi mengajak mereka makan siang bersama sebanyak 54 kali, selama 7 bulan. Makan siang sesering itu berlangsung di mana saja. Balai Kota, warung pinggir jalan, wedangan jahe hingga Loji Gandrung. Ketika menjadi gubernur DKI, Jokowi kerap kali bersenda gurau dengan para pedagang itu bila mudik ke Solo. Saat kampanye pemilihan presiden Juli lalu, mereka menjadi barisan terkuat Jokowi di akar rumput. 

 

 Jokowi, dan Jalur Rakyat Menuju Istana

                                       *****

Pria pemilik nama kecil Mulyono ini menempuh pendidikan dasar dan menengah di Surakarta. Dirubung ekonomi keluarga yang sulit, Jokowi harus berdagang dan bahkan menjadi kuli panggul untuk memenuhi keperluan sekolah. Kalau ada sisa, baru bisa jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah naik sepeda, dia melaju dengan kakinya sendiri. Dalam arti yang paling harafiah. 

Lulus SMA, pria yang menjadi walikota nomor tiga terbaik dunia versi The City Mayors Foundation ini melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dia lulus dari universitas kenamaan Tanah Air itu pada 1985. Tahun itu pula Jokowi diterima menjadi pegawai di BUMN, PT Kertas Kraft Aceh.

Setahun berselang, Jokowi menikahi Iriana. Setelah menikah, Jokowi tak kerasan di Aceh, mungkin juga rindu pada istri dengan bayi tujuh bulan di kandungannya. Dia memilih pulang kampung, hidup bersama Iriana. Setelah keluar dari perusahaan negara itu, Jokowi ikut menjalankan bisnis furniture kerabatnya. Merasa sudah menghimpun pengetahuan dan pengalaman berdagang, Jokowi membuka usaha mebel sendiri tahun 1988.

Dan 1988 itu menjadi tahun manis bagi pasangan Jokowi dan Iriana. Selain bisnis mebel mulai menyala, pasangan ini dikaruniai anak pertama, Rakabuming. Tiga tahun kemudian, lahirlah anak ke dua, Kahiyang Ayu. Sementara anak ketiga, Kaesang Pangarep, lahir empat tahun sesudahnya. 

Kiprah politik Jokowi bermula pada tahun 2005.  Saat itu, setelah sukses berbisnis, kader PDI Perjuangan ini dicalonkan sebagai Walikota Solo dan dipasangkan dengan F.X. Hadi Rudyatmo. Jokowi kembali terpilih sebagai Walikota Solo untuk periode ke dua dengan memperoleh suara fantastis. Dia mampu meraup 90 persen suara pemilih.

Menjabat sebagai Walikota Solo, dia membesut banyak prestasi. Jokowi me-rebranding Solo sebagai kota budaya dan kota batik. Dia juga dikenal sebagai pemimpin yang manusiawi. Salah satunya karena berhasil merelokasi pedagang kaki lima dengan damai itu. Cara dia memimpin dan menyelesaikan soal, membetot perhatian media massa. Sejak itulah dia masuk pentas nasional.

Meski seringkali disindir sebagai pemimpin yang klemar-klemer, Jokowi sesungguhnya bisa tegas dalam perkara penting. Pada 2011, dia berani menolak rencana Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah kala itu, yang ingin mendirikan pusat perbelanjaan di lokasi bekas pabrik es Saripetojo. Jokowi berdalih demi melindungi pasar tradisional. Nama Jokowi semakin berkibar saat memperkenalkan Esemka, mobil rakitan siswa SMK di Surakarta.

Pada 2012, Jokowi ditunjuk PDI Perjuangan menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Dia dipasangkan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, politisi Golkar yang diusung Partai Gerindra yang didirikan Prabowo Subianto. Jokowi dan Ahok dilantik sebagai pemimpin Ibukota setelah bertarung dua putaran.

Memimpin Jakarta, nama pria yang tahun in menerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia ini semakin moncer. Berbagai lembaga survei mengunggulkan gubernur yang gemar blusukan ini sebagai calon presiden. Elektabilitas pria berperawakan kerempeng ini tak tertandingi. Sampai-sampai, salah satu lembaga survei menyatakan Jokowi akan memenangi pilpres meski dipasangkan dengan daun sekalipun.

PDI Perjuangan akhirnya mengumumkan Jokowi sebagai calon presiden pada 14 Maret 2014, seminggu sebelum pemilihan legistatif. Setelah mendapat mandat dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Jokowi mengumumkan pencalonannya di Rumah Pitung, Marunda, Jakarta Utara.

Jokowi kemudian disandingkan dengan politisi senior Golkar, Jusuf Kalla. Pasangan ini diusung oleh PDI Perjuangan, Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI. Pada pilpres 9 Juli 2014, Jokowi-Jusuf Kalla harus head to head melawan pasangan Prabowo-Hatta yang diusung koalisi Gerindra, PAN, PKS, Golkar, PPP, PBB, dan Demokrat.

Jokowi-Jusuf Kalla akhirnya dinyatakan menjadi pemenang Pilpres 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka meraup 70.997.833 suara atau 53,15 persen. Dengan angka itu, Jokowi mendapat 8.421.389 suara lebih banyak sang lawan.

Prabowo tak menerima hasil itu. Calon presiden yang dikenal gemar memelihara kuda itu mengumumkan mundur dari segala proses perhitungan suara di KPU. Dia memilih menggugat hasil itu ke mahkamah. Gugatan itu ditolak. Dan si " muka ndeso" dari Solo itu melenggang ke Istana. 

 Jokowi, dan Jalur Rakyat Menuju Istana

                                      *****

Hari-hari ini, bersama wakilnya Jusuf Kalla, Jokowi tinggal menunggu pelantikan tanggal 20 Oktober 2014. Dia akan menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-7. Memimpin negeri dengan penduduk 250 juta jiwa ini. Tantangan terbesar memang masih di depan. Anggaran negara yang bagai pepatah: besar pasak daripada tiang.

Sebagaimana luas diulas berbagai media massa sepekan belakangan, defisit anggaran dalam RAPBN 2015 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pidato kenegaraan pekan lalu, bakal menjadi beban berat Jokowi diawal pemerintahannya.

Defisit itu terjadi karena dua hal: penerimaan seret, penggeluaran membengkak. Dalam APBNP 2014, penerimaan pajak ditargetkan Rp 1.280,3 triliun. Faktanya, uang masuk hanya Rp 1.246,1 triliun. Celakanya beban subsidi energi terus melonjak. Anggaran subsidi 2014 naik drastis dari Rp 282,1 triliun ke bilangan Rp 350,31 triliun.

Jumlah itu bakal kian menukik tahun depan. Jika beban subsidi itu mencekik anggaran negara, Jokowi tentu saja kesulitan merealisasikan sejumlah janjinya selama berkampanye. Emang duitnya darimana? Sejumlah pengamat menilai bahwa pemerintahan Jokowi akan lebih leluasa, jika Presiden SBY bersedia membagi beban. Menaikkan harga BBM pada waktu yang tersisa. Dan toh SBY tak memerlukan popularitas lagi. Sementara Jokowi sangat memerlukan simpati rakyat pada lima tahun ke depan. (Dari berbagai sumber)

 

Beri Komentar
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie