Pemberian Manusia, Hakikatnya dari Allah

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 3 Mei 2018 10:00
Pemberian Manusia, Hakikatnya dari Allah
Melupakan Allah di setiap pemberian makhluk bisa jadi jalan yang halus namun menjerumuskan pada kesyirikan.

Dream - Saling memberi adalah bagian dari kehidupan manusia. Namun demikian, sebuah pemberian dari seseorang tidaklah boleh dilepaskan dari keberadaan Allah SWT.

Tatkala menerima pemberian, yang harus selalu diingat adalah siapa sebenarnya di balik pemberian itu agar kita tidak jadi lupa, ada Allah, Sang Maha Kaya, yang sebenarnya menggerakkan orang untuk memberikan sesuatu kepada kita.

Ibnu Athaillah, sang ulama sufi, mengingatkan kita dengan kalimat berikut.

" Pemberian makhluk hakikatnya terluput. Sedangkan penangguhan dari Allah adalah kebaikan."

Melupakan Allah di setiap pemberian sama saja dengan pengakuan akan kepemilikan oleh manusia. Padahal, manusia sebenarnya tidak memiliki apapun karena semua adalah milik Allah SWT.

Hal ini, tanpa kita sadari, bisa menjadi jalan yang menjerumuskan pada kesyirikan. Kita sampai tidak terasa karena begitu halus jebakannya.

Syeikh Al Iqshara'i dalam Ihkamul Hikam mengingatkan kita dengan pendapat demikian.

" Memandang hubungan sebuah pemberian dari manusia sama saja menetapkan kepemilikan mereka dengan menetapkan kehadiran mereka. Dengan demikian memandang keesaan wujud Allah, keesaan kuasa, dan perbuatan-Nya dalam pemberian menjadi luput."

Meski demikian, janganlah kita menganggap penangguhan dari Allah sebagai bentuk tidak terkabulnya doa. Karena penangguhan itu bisa jadi merupakan kebaikan bagi kita sendiri.

Kita menjadi punya banyak runag untuk merenung hingga menyadari begitu besarnya kuasa Allah.

" Memandang penangguhan dari Allah adalah sebuah kebaikan karena meniscayakan keesaan perbuatan-Nya dan kepemilikan zat anugerah itu ketika penangguhan agar ahli makrifat dapat menyaksikannya. Penangguhan itu merupakan tanda yang diberikan pada setiap hal."

Selengkapnya...

Beri Komentar