Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Engkong Maroh (dompetdhuafa.org)
Dream - Menjadi tua adalah kepastian. Tetapi nasib sulit ditebak. Ada yang menjalani masa tua dengan bahagia, namun ada pula sebagian justru hidup dalam keterpurukan.
Tidak ingin jatuh dalam keterpurukan, Engkong Maroh memilih untuk terus berjuang. Tak menyerah dengan usia yang menginjak senja, 73 tahun, berkebun menjadi senjata Engkong Maroh mengarungi hidup.
Tubuh Engkong Maroh sudah tidak tegap lagi. Tetapi, di dalam tubuh renta itu tersimpan semangat baja.
Dengan semangat itu, Engkong Maroh menggarap kebun kosong di samping rumahnya di Kampung Serua Bulak RT 01 RW 03, Pondok Petir, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Kebun yang banyak ditumbuhi pohon pisang itu bukan miliknya. Dia hanya jadi petani penggarap.
" Itu (kebun) udah lama engkong yang garap dan kebun itu punya orang Jakarta. Kalau sudah panen, engkong setor," ujar Engkong Maroh
Hasil berkebun itu menjadi sumber pendapatan Engkong Maroh untuk menghidupi istri. Dia pun membantu perekonomian anak dan cucu-cucunya. Tiap kali pisang berbuah dan matang, semangat Engkong Maroh kembali menyala.
Dia akan menjajakan pisang-pisang itu di pasar terdekat. Hasilnya cukup untuk biaya hidup keluarganya. Meski begitu, dia tidak pernah lupa memenuhi hak pemilik kebun.
Memiliki sifat selalu merasa cukup, adil, dan selalu bersyukur menjadi kunci terpeliharanya kesehatan Engkong Maroh. Sifat ini selalu dia tularkan kepada orang lain yang berkunjung ke rumahnya, sembari terus berpesan agar tidak meninggalkan sholat.
Hal ini diamini oleh sang istri, Sopiah, 69 tahun. Selama 30 tahun lebih mendampingi sang suami, tidak pernah dia mendengar keluhan dari bibir Engkong Maroh.
Hidup dalam kondisi ekonomi sederhana tidak membuat Engkong Maroh menyerah. Dia tidak suka mengharapkan belas kasihan orang lain.
Dia bercerita kerap mendapat pemberian dari orang lain saat berdagang pisang di pasar. Secara halus, dia tolak pemberian itu. Bagi Engkong Maroh, lebih baik dagangannya tidak laku ketimbang harus menerima belas kasihan orang lain.
" Si Engkong mah begitu. Dia nggak betah diam. Si Imah (anak) udah sering bilang supaya Engkong istirahat aja, tapi si Engkong nggak mau," kata Sopiah.
Etos kerja Engkong Maroh yang tinggi membuat Dompet Dhuafa tergerak. Lembaga donasi sosial ini memutuskan memberikan bantuan modal usaha agar Engkong Maroh lebih semangat berdagang.
Selain itu, keluarga Engkong Maroh mendapat pasokan Sembako yang diberikan secara rutin. Ini agar kebutuhan nutrisi Engkong dan keluarganya tetap terpenuhi meski sedang tidak panen.
" Terima kasih buat semua pihak yang sudah bantu saya, terima kasih Dompet Dhuafa dan para donaturnya. Semoga amal jariyahnya dibalas Allah SWT dengan balasan berlipat ganda," kata Engkong Maroh.(Sah)
Sumber: dompetdhuafa.org.
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?