Masya Allah, Kisah Kakek 73 Tahun Jual Pisang Bikin Haru

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 5 Oktober 2016 14:10
Masya Allah, Kisah Kakek 73 Tahun Jual Pisang Bikin Haru
Meski kondisi ekonomi pas-pasan, Engkong Maroh tak mau menerima belas kasihan orang. Dia memilih berjualan pisang ketimbang mengemis.

Dream - Menjadi tua adalah kepastian. Tetapi nasib sulit ditebak. Ada yang menjalani masa tua dengan bahagia, namun ada pula sebagian justru hidup dalam keterpurukan.

Tidak ingin jatuh dalam keterpurukan, Engkong Maroh memilih untuk terus berjuang. Tak menyerah dengan usia yang menginjak senja, 73 tahun, berkebun menjadi senjata Engkong Maroh mengarungi hidup.

Tubuh Engkong Maroh sudah tidak tegap lagi. Tetapi, di dalam tubuh renta itu tersimpan semangat baja.

Dengan semangat itu, Engkong Maroh menggarap kebun kosong di samping rumahnya di Kampung Serua Bulak RT 01 RW 03, Pondok Petir, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Kebun yang banyak ditumbuhi pohon pisang itu bukan miliknya. Dia hanya jadi petani penggarap. 

" Itu (kebun) udah lama engkong yang garap dan kebun itu punya orang Jakarta. Kalau sudah panen, engkong setor," ujar Engkong Maroh

Hasil berkebun itu menjadi sumber pendapatan Engkong Maroh untuk menghidupi istri. Dia pun membantu perekonomian anak dan cucu-cucunya. Tiap kali pisang berbuah dan matang, semangat Engkong Maroh kembali menyala.

Dia akan menjajakan pisang-pisang itu di pasar terdekat. Hasilnya cukup untuk biaya hidup keluarganya. Meski begitu, dia tidak pernah lupa memenuhi hak pemilik kebun.

Memiliki sifat selalu merasa cukup, adil, dan selalu bersyukur menjadi kunci terpeliharanya kesehatan Engkong Maroh. Sifat ini selalu dia tularkan kepada orang lain yang berkunjung ke rumahnya, sembari terus berpesan agar tidak meninggalkan sholat.

Hal ini diamini oleh sang istri, Sopiah, 69 tahun. Selama 30 tahun lebih mendampingi sang suami, tidak pernah dia mendengar keluhan dari bibir Engkong Maroh.

Hidup dalam kondisi ekonomi sederhana tidak membuat Engkong Maroh menyerah. Dia tidak suka mengharapkan belas kasihan orang lain.

Dia bercerita kerap mendapat pemberian dari orang lain saat berdagang pisang di pasar. Secara halus, dia tolak pemberian itu. Bagi Engkong Maroh, lebih baik dagangannya tidak laku ketimbang harus menerima belas kasihan orang lain.

" Si Engkong mah begitu. Dia nggak betah diam. Si Imah (anak) udah sering bilang supaya Engkong istirahat aja, tapi si Engkong nggak mau," kata Sopiah.

Etos kerja Engkong Maroh yang tinggi membuat Dompet Dhuafa tergerak. Lembaga donasi sosial ini memutuskan memberikan bantuan modal usaha agar Engkong Maroh lebih semangat berdagang.

Selain itu, keluarga Engkong Maroh mendapat pasokan Sembako yang diberikan secara rutin. Ini agar kebutuhan nutrisi Engkong dan keluarganya tetap terpenuhi meski sedang tidak panen.

" Terima kasih buat semua pihak yang sudah bantu saya, terima kasih Dompet Dhuafa dan para donaturnya. Semoga amal jariyahnya dibalas Allah SWT dengan balasan berlipat ganda," kata Engkong Maroh.(Sah)

Sumber: dompetdhuafa.org.

Beri Komentar