Semangat Pantang Menyerah Mbah Siti, Penjual Peyek Undur-undur

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 27 Mei 2016 13:42
Semangat Pantang Menyerah Mbah Siti, Penjual Peyek Undur-undur
Usia Mbah Siti tidak lagi muda. Keriput sudah memenuhi sebagian besar kulit tubuhnya. Tapi, semburat senyum tak pernah hilang dari bibirnya, penanda dia bukan sosok gampang menyerah.

Dream - Usianya sudah tidak lagi muda. Keriput telah memenuhi sebagian besar kulit tubuh, mulai dari wajah hingga kaki. Pun dengan rambut yang sudah sepenuhnya memutih.

Kulit keriput itu berwarna coklat gelap, pertanda kerap tersengat matahari. Meski begitu, Mbah Siti tidak pernah mau berhenti dari kebiasaannya berjualan peyek undur-undur, serangga yang berjalan mundur dengan habitat hidup di lahan pasir.

Setiap hari, Mbah Siti menempati salah satu sudut tempat parkir Pantai Parangtritis. Dia memulai aktivitas berdagangnya dengan berangkat pada pukul 05.00 WIB dari rumahnya menuju kawasan wisata pantai yang terkenal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mbah Siti akan duduk dan menjajakan dagangannya hingga terjual semua. Sembari menunggu pembeli, Mbah Siti biasa mengusir kejenuhan dengan bercengkrama bersama teman-temannya.

Tatkala ada calon pembeli, Mbah Siti berusaha menawarkan dagangannya. Peyek undur-undur, peyek teri, peyek kacang hijau, hingga kacang rebus. Dia mematok harga yang sangat murah. Hanya Rp2.000 setiap bungkusnya.

Meski peluang dagangannya terbeli tidak terlalu besar, senyum selalu merekah pada bibirnya. Senyum ini seperti pertanda Mbah Siti tidak mau menyerah pada usia dan ingin terus berusaha.

Saat jarum jam menunjuk pukul 10.00 WIB, Mbah Siti akan mengakhiri aktivitas dagangnya. Biasanya, pada jam tersebut dagangan yang dijajakan Mbah Siti sudah ludes terjual.

Tetapi, ada kalanya Mbah Siti terpaksa pulang dengan sedikit kekecewaan setelah seharian berdagang. Mbah Siti pernah pulang hingga sore hari selama sepekan penuh lantaran dagangannya tidak habis terjual.

Meski begitu, semburat senyum tetap dia tampakkan di wajahnya yang telah renta. Dalam hatinya, ada keyakinan rezeki mungkin akan tiba di keesokan harinya.

Untuk mengetahui kisah Mbah Siti selengkapnya, baca pada tautan ini.

Baca Juga: Pemilik Mata yang Tidak Tersentuh Api Neraka Ceroboh Beli Bantal Lewat Online, yang Diterima Malah... Hujan Batu dari Langit Tewaskan Pemuda Tsamud Ketika Sang Khalifah Terkena Teguran `Si Bahlul` Kisah Pertobatan Seorang Rentenir

Beri Komentar