Tri Suci Utami: Orangtua adalah Bidadari Pertama dalam Hidup

Reporter : Eko Huda S
Minggu, 13 September 2015 15:02
Tri Suci Utami: Orangtua adalah Bidadari Pertama dalam Hidup
Tri Suci Utami ditinggalkan ibunya pada usia 8 tahun. Ibunya meninggal saat dia masih sekolah dasar. Kini dia berharap bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi orangtua.

Dream- Tri Suci Utami. Dia ditinggal ibunya saat masih berusia 8 tahun. Akhirnya dia hidup dengan seorang ayah. Kemudian tidak berapa lama ayahnya menikah lagi dan selalu meyakinkannya bahwa orangtua itu akan selalu baik meski bukan orangtua kandung.

Dia menerima apa yang dikatakan ayahnya. Namun, setelah dijalankan ternyata sosok seorang ibu yang sudah meninggal tidak tergantikan oleh siapapun. Dia merasa ibu kandung dan ibu tiri kasih sayangnya berbeda.

Tetapi meski demikian Tri Suci tetap berusaha menghormati ibunya tersebut. Dia merasa belum ada apa-apa yang diberikan kepada orangtuanya. Sehingga ingin melakukan seuatu yang bermanfaat bagi orangtuanya. 

Baca kisah inspiratif Tri Suci Utami selengkapnya di bawah ini. Bila kalian suka dengan kisah tersebut, silakan beri suara ke Tri Suci Utami DI SINI

Pernah aku mendengar ungkapan bahwa perbandingan kasih sayang dan kebaikan orangtua dengan balasan kita sebagai anak yang diberikan kepada mereka tidaklah seimbang.

Saat usia kita satu tahun, orang tua memandikan dan merawat kita namun sebagai balasannya kita malah menangis di tengah malam.

Kemudian, saat usia kita lima tahun orang tua membelikan kita baju yang bagus-bagus namun sebagai balasannya kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.

Saat usia kita 17 tahun orang tua sedang menunggu telepon penting menunggu kabar, sementara kita malah asyik menelpon teman atau bermain dengan teman yang sama sekali tidak penting.

Sejujurnya hal tersebut pernah aku lakukan kepada orangtuaku. Tanpa aku sadari sampai sekarang belum ada balasan kebaikan yang aku berikan. Sampai akhirnya ibuku menghembuskan nafas terakhir saat usiaku masih 8 tahun.

Saat itu aku yang masih duduk dibangku SD. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikannya, dan di saat itu juga aku belum sempat terpikir tentang ini. Aku juga masih belum mengerti bagaimana kehilangan orang tua.

Semakin aku dewasa semakin aku mengerti bagaimana rasanya tanpa orang tua, tanpa sosok ibu. Aku tumbuh sebagai seorang gadis tanpa bisa bercerita kepada seorang ibu dengan hari-hari yang aku jalani.

Terkadang aku merasa iri dengan teman-teman yang bisa curhat dengan ibunya. Namun dengan kekuatan dari papa yang selalu berkata kita bisa tanpa ibu, kita bisa memunjukan kepada orang-orang yang mengatakan kita lemah kalau sebenarnya kita itu kuat. Kita harus bisa berprestasi walaupun tanpa ada sosok ibu di keluarga kita.

Aku selalu yakin Allah selalu memberikan cobaan sesuai dengan batas kemampuan hambanya. Allah memberikan cobaan ini karena dia yakin kami bisa menjalaninya.

Alhamdulillah sampai sekarang kami hidup dengan baik meski banyak cobaan yang harus kami lalui. Meski banyak orang baru yang masuk dalam kehidupan kami, menjadi sosok ibu yang selayaknya namun hanya berjalan sementara.

Papa selalu bilang harus menghargai orangtua meski bukan orang tua kandung. Meski tidak akan pernah sama dengan orangtua kandung. Meski tidak akan bisa menggantikan orangtua kandung di hati kita. Namun tetap hargai sebagai orang tua.

Kami sebagai anak selalu berusaha patuh. Namun semua tidak berjalan dengan baik. <emang benar tidak banyak ibu yang bisa memperlakukan dengan selayaknya ibu kandung, akhirnya semakin banyak omongan orang tetang keluarga kami.

Bahkan ada yang bilang kami anak dari keluarga broken home yang hancur berantakan hidupnya. Aku selalu menjaga supaya tidak tersinggung dengan omongan itu.

Sebisa mungkin aku harus mewujudkan pesan papa aku yang selalu bilang kita harus bayar omongan orang dengan kebaikan yang kita perbuat. Semakin banyak perjalananan hidup yang kami dapat, selalu berusaha bangkit dari keterpurukan, mencoba berpikir banyak orang di luar sana lebih susah hidupnya.

Aku selalu berusaha untuk mandiri, menjalani dengan semangat bersyukur masih punya papa, masih punya saudara, yang selalu membantu aku mewujudkan mimpi-mimpi aku dan selalu mengingatkan untuk menjaga nama baik keluarga .

Maka selagi masih ada orang tua berbanggalah, bersyukurlah, sayangilah mereka karena masih bisa membalas jasa-jasanya dengan perbuatan dan doa.

Orangtua adalah bidadari pertama dalam hidup kita yang membuka pintu rezeki yang pertama. Selalulah berjalan dengan ridhonya karena ridho orangtua adalah Ridho Allah SWT

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak