Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Keberadaan beberapa lembaga penelitian di Indonesia dinilai oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak punya hasil yang signifikan untuk pembangunan nasional. Terutama Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT).
Hal tersebut ia sampaikan ketika menghadiri acara penandatanganan kerjasama Perencanaan dan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Energi dan Pertambangan antara BPPT, Kementerian ESDM dan PT Pertamina di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2015.
Menurut Jusuf Kalla, teknologi yang maju merupakan faktor terpenting untuk meningkatkan kualitas negara. Oleh karena itu, selain dipelajari dan diteliti, penting pula untuk diterapkan.
" Selama ini kita mungkin mengkaji terus, tapi tidak diterapkan. Belum tentu juga mengkajinya betul," ujar Jusuf Kalla soal kinerja BPPT.
Bila pengkajian ilmu dan pengetahuan di lembaga tersebut berjalan dengan benar, lanjut Wapres Jusuf Kalla, hingga hari ini mestinya Indonesia sudah punya banyak hak paten atas teknologi yang dikembangkan. " Tapi apa yang kalian patenkan di sini?" seloroh Jusuf Kalla.
Selain itu, pengusaha asal Makassar ini juga mempermasalahkan tidak liniernya jumlah peneliti yang dimiliki BPPT dengan hasil kerja mereka. Hingga saat ini, tercatat terdapat 2.437 peneliti yang dimiliki lembaga tersebut mulai dari yang bertitel sarjana, magister, sampai doktor.
" Yang penting bukan banyaknya gelar, tapi efektivitasnya," tukasnya.
Ia pun mengimbau, mulai saat ini BPPT mestinya lebih memfokuskan tema-tema penelitian yang dikuasai secara mumpuni. Bukan semua bidang, namun tidak didalami dan nihil penerapan.
" Karena itu kita tidak ingin lagi pengkajian dan penerapan yang tidak jelas," tegas Jusuf Kalla.
Selain BPPT, Wapres juga menilai Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) tak punya peran kuat untuk merencanakan pembangunan nasional baik dalam lingkup makro maupun mikro. Ia menyayangkan karena dua lembaga tersebut punya potensi besar namun efektivitas kerjanya belum membuahkan hasil.
" Ini bukan hanya salah BPPT dan Bappenas, tapi karena pemerintah juga tidak memberikan arahan yang efektif untuk mereka," tandas Jusuf Kalla.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya