Anak yang Rajin Ternyata Rentan Mengalami Masalah Mental

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 24 Maret 2021 08:03
Anak yang Rajin Ternyata Rentan Mengalami Masalah Mental
Tekanan kerap dialami anak-anak yang rajin.

Dream - Sikap rajin tak dimiliki semua anak. Bagi orangtua yang memiliki anak yang rajin tentunya akan sangat senang. Si rajin tak perlu lagi disuruh saat belajar atau mengerjakan sesuatu karena mereka cenderung berinisiatif untuk segera menyelesaikannya.

Dikutip dari KlikDokter.com, menjadi rajin dan tekun pada dasarnya baik. Banyak kesuksesan yang datang dari sifat yang satu itu. Jika perilaku rajin bukan datang dari keinginan anak sendiri, maka hal tersebut justru bisa menjadi bumerang.

Tekanan berlebihan yang setiap hari diterima dari orangtua dan sekitar akhirnya menumbuhkan ambisi yang tidak sehat dalam diri anak. Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan dampak buruk yang rentan dialami anak dengan kondisi tersebut. Apa saja?

1. Lelah Secara Fisik
Segala sesuatu yang dilakukan berlebihan akhirnya akan membuat stamina tubuh drop dan jatuh sakit. Belajar, mengerjakan tugas, les ini dan itu, ikut beragam komunitas, hingga membantu banyak pekerjaan rumah memang aktivitas positif. Kalau dilakukan tanpa jeda agar mendapat titel “ anak rajin”, itu justru merugikan kesehatannya.

2. Lelah Secara Mental (Burnout)
“ Karena terus berfokus pada pencapaian-pencapaian yang tinggi, mentalnya akan ikut lelah. Bila pada kenyataannya potensi anak di bawah target lalu memarahinya, ia juga akan down dan lelah psikisnya,” kata Gracia.

Ia menambahkan, “ Tertekan dan burnout mungkin dapat dialami oleh si anak karena ia berusaha memenuhi ekspektasi lingkungan.”

Semua aktivitas yang dilakukan saat terlanjur burnout akan memberikan hasil yang buruk. Hal itu semakin menambah kekecewaan dan seperti “ lingkaran setan” yang tak pernah selesai.

 

1 dari 4 halaman

Bisa Juga Mengalami Ini

Bisa Juga Mengalami Ini © Dream

3. Sering Dimanfaatkan Orang Lain
Kekurangan anak rajin yang satu ini juga sangat menyebalkan untuknya. Kebiasaan disuruh ini dan itu oleh orang dewasa di rumah akan membuat anak menjadi tidak peka dan asertif (tegas).

Alhasil, potensinya malah dimanfaatkan orang lain, tak terkecuali teman sebayanya. Ia sering disuruh mengerjakan tugas teman-temannya, memberikan jawaban ujian, mewakili untuk melakukan sesuatu hal yang tidak perlu, dan lainnya.

4. Bila Kurang Apresiasi, Langsung Merasa Tak Berharga
Usaha ekstra biasanya menuntut apresiasi lebih. Sayangnya, kadang hidup tidak sesuai harapan. Orangtua acap kali tidak memberikan perhatian dan apresiasi secara penuh atas usaha-usaha anak. Anak pun bisa merasa tidak berharga, menganggap yang dilakukannya sia-sia saja, dan rendah diri.

5. Timbul Masalah Mental
Pada taraf yang tidak lagi bisa ditoleransi anak, paksaan untuk rajin mengarahkannya ke masalah psikologis, seperti gangguan cemas dan depresi. Hal ini karena anak melakukannya bukan untuk kepuasan pribadi, melainkan orang lain.

" Sehingga, pure sense of completion dan joy-nya tidak benar-benar didapatkan anak," kata Gracia.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

2 dari 4 halaman

Kecerdasan Emosi Anak Lelaki yang Penting Diajarkan Ayah

Kecerdasan Emosi Anak Lelaki yang Penting Diajarkan Ayah © Dream

Dream - Perbedaan sikap orangtua pada anak lelaki dan perempuan akan sangat berpengaruh pada kecerdasan emosinya. Anak lelaki dan perempuan kerap diajari untuk berkomunikasi secara berbeda dari wanita.

Bila anak perempuan didorong untuk membicarakan emosi mereka dan diberi alat untuk melakukannya, pada anak laki-laki cenderung didorong untuk menutup emosi mereka. Tanpa disadari, hal ini memengaruhi kehidupan anak laki-laki. Mereka jadi tidak mampu mengatasi emosinya, mengalami kecemasan, stres, dan kemampuannya menjalani hubungan pribadi secara jangka panjang.

" Penelitian sebenarnya menunjukkan bahwa anak perempuan dan anak laki-laki memiliki cara yang sangat berbeda dalam berkomunikasi dengan orang tua,” kata Dr. Gaile Dines, Presiden dan CEO Culture Reframed, dan Profesor Emeritus Sosiologi dan Studi Wanita Wheelock College, Boston, dikutip dari Fatherly.

Kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi, memberi label dengan benar, dan menggunakan informasi emosional untuk memengaruhi pikiran dan tindakan.

 

3 dari 4 halaman

Pembicaraan Lebih Terbuka Saat Tak Ada Kontak Mata

Pembicaraan Lebih Terbuka Saat Tak Ada Kontak Mata © Dream

Menurut Dines, penting bagi anak lelaki untuk dibimbing oleh ayahnya terkait kecerdasan emosi. Saat ayah berbicara dengan anak laki-laki, hal itu cenderung lebih tentang olahraga atau aktivitas dan hanya sedikit tentang kosakata emosional.

Jadi, bagaimana ayah membangun kecerdasan emosi dengan anak lelakinya?

" Apapun yang tidak ada kontak mata. Bersepeda. Berada di dalam mobil. Aktivitas apa pun yang tidak melihat mata secara langsung. Sebenarnya anak laki-laki lebih baik berbicara ketika tidak ada kontak mata," ujar Dines.

 

4 dari 4 halaman

Menjadi Contoh

Menjadi Contoh © Dream

Ada juga jenis pertanyaan yang diajukan seperti pertanyaan terbuka yang tidak memerlukan ya atau tidak. Tanyakan saja dengan lembut yang membutuhkan keterlibatan verbal.

" Jadi bukan 'apa harimu menyenangkan di sekolah?' tapi 'di sekolah ada yang bikin kesal gak?', pertanyaan yang memancing anak menceritakan perasaanya," kata Dines.

Orangtua memainkan peran yang sangat penting dalam membantu anak-anak mengembangkan kosa kata emosi dan memberi tahu anak laki-laki bahwa berbicara tentang memiliki emosi sangat normal dan bisa membicarakannya. Hal itu juga merupakan cara yang sehat.

" Ingat, bukan hanya menyuruh anak untuk memiliki emosi yang baik, tapi menjadi contoh. Anak akan melihat emosi ayah saat menghadapi ibunya, dirinya dan orang-orang di sekitarnya," ujar Dines.

Beri Komentar