Dokter Anak Ungkap Bahaya Kerok Bayi Pakai Bawang Merah

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 20 September 2022 12:12
Dokter Anak Ungkap Bahaya Kerok Bayi Pakai Bawang Merah
Mengerok bayi masih banyak dilakukan hingga kini, dan ternyata efeknya bisa berbahaya.

Dream - Masyarakat Indonesia masih banyak yang percaya dan mengandalkan bahan dan metode tradisional yang untuk redakan keluhan penyakit pada anak-anak. Salah satunya adalah mengerok bayi dengan bawang merah saat mengalami gejala batuk, pilek atau demam.

Bawang merah dipercaya bisa meredakan keluhan tersebut karena efek hangatnya. Cara ini masih banyak dilakukan hingga kini, dan ternyata efeknya bisa berbahaya.

Mengapa? Dokter S.Tumpal Andreas, M.Ked(Ped), spesialis anak, lewat akun Instagramnya @dr.andreas.spa, mengungkap kalau mengerok anak dengan bawang merah, bisa menyebabkan iritasi pada kulit bayi yang berujung infeksi.

" Yang kita tahu bawang merah itu bahan iritasi sehingga pada kulit bayi yang masih sensitif bisa menyebabkan iritasi kemerahan dan luka. Nah, yang tadinya untuk menghilangkan demam atau mengurangi demam justru malah menyebabkan infeksi karena mengakibatkan luka yang disebabkan oleh kerokan tersebut," kata dr. Andreas.

Ia mengingatkan para orangtua untuk menghindari mengerok bayi dengan bawang mewah. Pasalnya, kondisi kulit bayi bisa malah bermasalah dan cara tersebut tak terbukti bisa meredakan gejala flu pada anak

" Hati-hati ya, karena apa? kulit bayi masih sangat sensitif. Bijak-bijak ya untuk menerima informasi yang berhubungan untuk anak, jangan sampai salah langkah," pesannya.

1 dari 5 halaman

Tempel Koin di Pusar Bayi yang Baru Lahir Ternyata Bisa Bahaya

Dream - Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan menggunakan uang koin saat membungkus pusar bayi baru lahir. Luka pusar bayi sebelum copot sempurna memang agak terbuka dan hal itu sangat wajar.

Koin yang ditempel kemudian dililit gurita, dimaksudkan agar di kemudian hari bayi tak mengalami pusar bodong. Benarkah demikian? Sayangnya kebiasaan ini tidak tepat dan malah bisa berbahaya bagi bayi.

" Meletakkan koin pada pusar sama sekali tidak efektif untuk mengatasi pusar bodong yang dalam dunia medis dikenal pula sebagai hernia umbilikalis. Sebab, pusar bodong pada dasarnya disebabkan oleh otot perut bayi yang belum menutup sempurna," kata dr. Muhammad Isman S., dikutip dari KlikDokter.

Terkadang, kondisi tersebut juga menyebabkan usus tidak sengaja masuk ke dalam celah. Penggunaan koin atau benda apa pun tidak efektif untuk mencegah bodong atau pun hernia pada bayi baru lahir.

 

2 dari 5 halaman

Risiko Berbahaya

Selain tidak bermanfaat sama sekali, menempelkan koin pada pusar bisa menyebabkan bayi mengalami masalah kulit. Pasalnya, bayi baru lahir memiliki kulit yang sangat lembut dan sensitif.

Pusar bayi© Shutterstock

Sentuhan benda-benda asing, seperti koin, berpotensi mengiritasi kulit bayi. Selain itu, penggunaan koin juga dikhawatirkan dapat memicu infeksi. Koin yang tak steril berpotensi menyebabkan kuman masuk ke dalam pusar.

Penting diingat hernia umbilikalis alias pusar bodong bukanlah penyakit berbahaya. Umumnya, gangguan ini tidak menimbulkan gejala lain dan bisa sembuh dengan sendirinya ketika si kecil memasuki usia 2-3 tahun.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

3 dari 5 halaman

Jangan Kaget, Kotoran Bayi Berwarna Hitam di Hari-hari Pertama

Dream - Bagi orangtua yang baru saja memiliki bayi untuk pertama kalinya, tentu banyak hal yang membuat kaget dan bingung. Salah satu yang sering membuat panik adalah saat kotoran bayi berwarna hitam.

Kondisi ini kerap membuat panik orangtua baru. Sebenarnya kotoran bayi baru lahir berwarna hitam, adalah hal normal. Ketahui tiga fakta berikut soal kotoran bayi agar ayah bunda tak kaget saat menghadapi si kecil.

1. Kotoran pertama
Selama kehamilan, bayi terus-menerus menelan, dan mencerna cairan ketuban. Mereka juga menelan berbagai cairan selama di dalam rahim, termasuk sekresi dari saluran pencernaan mereka, lendir dan bahkan rambut halus dari kulit mereka.

Begitu lahir, maka kotoran yang dikeluarkannya berbeda dengan kotoran pada umumnya. Warnanya hitam pekat atau biasa disebut mekonium. Terkadang mekonium berwarna hijau gelap, tidak berbau dan sulit dibersihkan dari kulit bayi. Saat bayi mulai menyusu dan ususnya terbiasa mencerna susu, warna mekonium berubah dari hitam menjadi kekuningan. Jadi tak perlu panik ya, ayah bunda.

 

4 dari 5 halaman

2. Kotoran bayi yang disusui tidak berbau

Umumnya, bayi yang diberi ASI tidak memiliki kotoran yang bau. Terkadang kotoran mereka memiliki bau manis 'alami', seperti rumput atau jerami. Ini karena air susu ibu (ASI) memiliki pencahar alami dan bayi yang disusui tidak mengalami sembelit.

Bayi© Shutterstock

Bayi yang disusui juga dapat memiliki kotoran yang mengandung sedikit 'biji' putih, seperti biji wijen, yang terbentuk dari lemak dalam ASI. Bayi yang minum ASI umumnya memiliki kotoran yang berwarna kuning/mustard atau bahkan hijau. Juga merupakan hal normal bagi bayi yang disusui kotorannya memiliki sedikit lendir.

Hal yang juga normal adalah bayi yang minum ASI tidak buang air besar selama beberapa hari. Pada bayi yang diberi susu formula, memang lebih rentan mengalami sembelit dibandingkan mereka yang minum ASI.

 

5 dari 5 halaman

3. Lebih berisik saat buang air besar

Kotoran bayi umumnya lunak dan dapat dikeluarkan dengan mudah karena itu tidak menimbulkan banyak tekanan pada anus bayi. Pada kondisi tertentu, bayi mengalami sembelit dan perlu mengerahkan tenaga untuk mengeluarkannya.

Latih Bayi Tidur Sendiri dengan Metode Ferber, Apa Itu?© MEN

Inilah sebabnya mengapa bayi kecil akan menjadi berisik dan rewel saat buang air besar. Wajahnya menjadi merah dan terus bergerak saat buang air besar. Bayi pun terlihat sangat tidak nyaman.

Sumber: KidSpot

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More