Anak Usia 8 Tahun (Foto: Shutterstock)
Dream - Banyak orangtua yang menganggap akan kewalahan menghadapi anak usia 2 tahun, bahkan sampai aa istilah terrible two. Hal ini karena anak dua tahun mulai bergerak aktif dan belum bisa mengungkapkan emosi dan keinginannya dengan baik.
Rupanya, setelah usia 2 tahun orangtua bakal menghadapi tantangan selanjutnya, yaitu usia 8 tahun. Sebuah survei yang dilakukan oleh Mixbook, sebuah perusahaan desain foto pada pada 2.000 orangtua menguak fakta seru.
Mayoritas orang tua berpikir usia 2, 3, dan 4 hanyalah 'sepotong kue dibandingkan dengan usia 8. Mengapa menghadapi anak 8 tahun begitu sulit dan menantang? Dikutip dari Parents.com, saat anak berusia 8 tahun kepribadiannya mulai terbentuk, wataknya semakin dominan.
© Dream
Anak mulai mandiri tapi di sisi lain masih ingin dimanja dan diperhatikan. Memasuki usia 8, hormon pubertas juga mulai muncul dan tubuhnya mempersiapkan untuk memasuki masa tersebut.
Adu argumen, bantahan serta emosi anak yang meluap bakal sering terjadi. Anak berusia delapan tahun bisa sangat keras kepala dan menantang, membanting pintu, dalam upaya mereka untuk membangun kemandirian dan individualitas mereka.
Bertingkah seperti mengabaikan tugas rumah dan sekolah jadi ciri khas anak berusia 8 tahun. Tak heran kalau banyak orangtua mengalami 'sakit kepala' saat anaknya memasuki usia 8 tahun.
Jadi, sudah siap ayah bunda?
© Dream
Dream - Anak yang berusia dari mulai 9 tahun hingga 11 tahun, memang belum dikategorikan sebagai remaja. Banyak yang mengistilahnkannya sebagai tween/ pre-teen atau pra remaja.
Menghadapi anak di rentang usia tersebut, orangtua mungkin akan kaget dengan ledakan emosinya. Berteriak, membanting barang atau mengamuk untuk hal kecil yang sebenarnya bisa diatasi.
" Mungkin terlihat kemarahan, tekanan balik dan peningkatan kecemasan pada usia ini. Anak mulai meninggalkan dunia yang sebelumnya dan memasuki masa peralihan dan kerap diminta untuk berpikir dan bertindak seperti orang dewasa," kata Jennifer Kolari, seorang terapis keluarga di Toronto, dikutip dari Today Parents
Masa puber sudah mulai terjadi di usia ini, yang dapat menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa anak. Hormon juga mulai membanjiri tubuh, memengaruhi suasana hati dan kualitas tidurnya.
© Dream
Sekolah dan kegiatan dapat menambah tekanan, dan dewasa ini, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di layar daripada yang seharusnya. " Layar, khususnya video game, dan anak-anak mendapat dopamin terus-menerus, membuat mereka lebih mudah marah," kata Kolari.
Julie Romanowski, pakar pengasuhan anak di Vancouver, meminta para orangtua harus tetap memperhatikan kebutuhan anak. Mulailah dengan hal dasar seperti, pastikan anak cukup tidur, dan makan makanan sehat serta makanan ringan secara teratur.
© Dream
Buat juga jadwal yang jelas untuk screen time, waktu tidur, pekerjaan rumah. Akan lebih baik jika jadwal dibuat dengan melibatkan anak agar ia merasa opininya dianggap. Ini akan sangat baik perkembangan emosinya.
Jika mendapati anak sering marah dan kemarahan ini memengaruhi hubungan di rumah atau dengan teman sebaya, mungkin inilah saatnya mencari bantuan dari luar. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan gurunya di sekolah atau psikolog.
Bisa jadi ada situasi yang tak bisa diceritakannya pada orangtua dan ia membutuhkan pihak lain yang lebih netral. Satu yang pasti, pastikan orangtua selalu di sampingnya, apapun keadaannya.