Hadapi Anak yang Mengamuk, Ayah Bunda Harus Kompak

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 16 Januari 2020 18:03
Hadapi Anak yang Mengamuk, Ayah Bunda Harus Kompak
Apabila tidak kompak, komunikasi tak berjalan dengan baik, anak malah semakin tak terkendali.

Dream - Sikap anak usia balita yang awalnya sangat menis bisa berubah sangat drastis dalam hitungan menit. Masalah mainan, makanan atau mungkin mengantuk bisa membuat emosinya jadi tak terkendali.

Misalnya saat anak meminta mainan dan tak dibelikan, ia merespons bukan hanya menangis, tapi juga berteriak, memukul hingga berguling-guling. Kondisi tersebut menandakan kalau anak sedang mengalami temper tantrum.

Tantrum adalah ledakan kemarahan yang tidak terkendali disertai perilaku destruktif (merusak), seperti tangisan keras, menjerit, berguling-guling di lantai, berteriak-teriak, melempar barang, tidak mau beranjak dari tempat tertentu, memukul, menendang atau membuat tubuh kaku. Semuanya ini muncul karena anak menginginkan sesuatu namun belum terpenuhi. Tantrum sering kali dijumpai pada anak usia 1-6 tahun.

" Pada usia 1-6 tahun, anak sedang mengalami perkembangan dalam berbagai hal, antara lain emosi, daya tangkap, bahasa dan komunikasi, kontrol diri, termasuk kemampuan untuk mengutarakan pendapat. Maka wajar jika sesekali anak menjadi marah, kesal, bahkan frustrasi ketika keinginannya belum terpenuhi," ungkap Harrista Adiati, M.Psi, seorang psikolog klinis.

 

 

1 dari 5 halaman

Kenali Jenis Tantrum

Kenali Jenis Tantrum © Dream

Saat anak mengamuk tak terkendali, dibutuhkan penanganan yang tepat. Bukan bentakan, apalagi hukuman fisik.

Ledakan emosi pada anak ini, menurut Harrista terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

Manipulative tantrum: Terjadi ketika anak tidak memperoleh apa yang diinginkan. Perilaku ini akan berhenti saat keinginan anak dituruti.

Verbal frustration tantrum : Terjadi ketika anak tahu apa yang ia inginkan tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikan keinginannya dengan jelas. Tantrum jenis ini akan menghilang sejalan dengan peningkatan kemampuan komunikasi anak, di mana anak semakin dapat menjelaskan kesulitan yang dialaminya.

Temperamental tantrum: Terjadi ketika tingkat frustrasi anak mencapai tahap yang sangat tinggi, sehingga anak menjadi sangat tidak terkontrol dan sangat emosional. Anak akan menjadi sangat lelah dan sangat kecewa. Pada tantrum jenis ini, anak sulit untuk berkonsentrasi dan sulit mengontrol diri sendiri. Anak tampak bingung dan mengalami disorientasi.

 

2 dari 5 halaman

Ayah Bunda Harus Kompak

Ayah Bunda Harus Kompak © Dream

Untuk menangani tantrum, dibutuhkan kepekaan orangtua. Segera cari faktor pemicunya. Ayah dan bunda dapat menanyakan kepada anak, misalnya: Adik Lapar? Adik mengantuk? Adik ingin apa?. Bisa juga mengalihkan perhatian dengan hal yang disukainya.

" Jangan memukul anak. Lebih baik memeluk anak dan dekap dengan lembut. Pelukan mempunyai efek yang menenangkan dan anak bisa merasakan bahwa orangtua peduli dan menyayanginya," kata Harrista.

Hal yang juga sangat penting menghadapi anak yang mengamuk adalah orangtua harus mengontrol emosi, tenang dan kompak. Pastikan memiliki 'gaya' yang sama saat menghadapi anak tantrum.

" Apabila Ayah Bunda tidak kompak dalam menjalankan pengasuhan pada anak, anak menjadi frustrasi dan akan merangsang perilaku tantrum muncul. Setiap usia mempunyai tahap belajar. Sebagai orangtua, marilah belajar untuk menerapkan pola asuh positif pada anak-anak," pesan Harrista.

3 dari 5 halaman

3 Hal yang Sering Memicu Balita Alami Tantrum

3 Hal yang Sering Memicu Balita Alami Tantrum © Dream

Dream - Tantrum atau mengamuk tak terkendali sering terjadi pada anak balita. Mereka bukan hanya menangis, tapi berguling, teriak, memukul orang di sekitar bahkan menyakiti diri sendiri.

Studi menunjukkan bahwa antara 60 dan 90 persen anak usia dua tahun kerap mengalami tantrum. Frekuensinya memuncak antara usia 2,5 hingga tiga tahun, dan bisa terjadi setiap hari. Pada usia lima tahun, frekuensinya akan jauh berkurang.

" Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan emosi karena memang belum matanya secara psikologis," kata psikolog anak Christina Rinaldi dari University of Alberta di Edmonton.

Apa yang dapat dikendalikan, setidaknya sampai batas tertentu, adalah situasi yang cenderung memicu kemarahan anak. Salah satunya adalah mencari tahu hal-hal sering memicu anak menjadi tantrum. Berikut daftarnya.

4 dari 5 halaman

1. Lelah

1. Lelah © Dream

Anak-anak suka sekali berlarian ke sana ke mari. Apalagi jika banyak teman atau saudaranya. Biasanya setelah main seharian, ia akan sangat kelelahan fisik dan mental dan menjadi sangat rewel hingga mengamuk.

Jika sudah begini, hal apapun akan membuatnya menangis dan sulit dikendalikan. Penting untuk tetap tidur siang dan mengajak istirahat setelah kelelahan. Mandikan dengan air hangat, lalu balur tubuhnya dengan minyak telon. Ajak ia tidur sambil beri pijatan.

 

5 dari 5 halaman

2. Lapar dan haus

2. Lapar dan haus © Dream

Rasa lapar dan haus yang dialami anak-anak kerap kali diabaikan. Saat perutnya kosong dan kehausan, anak jadi mudah sekali mengamuk. Mereka juga cenderung menolak apapun yang ditawarkan.

Untuk itu, jika selalu sediakan camilan atau susu dalam kemasan yang bisa dinikmati si kecil setiap saat. Sehingga, saat bermain ia bisa menikmati camilan dan tak kelaparan hingga menunggu waktu makan.

3. Orangtua yang 'pecah' perhatian
Perhatian memang sangat dibutuhkan anak-anak. Mereka pun akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya termasuk mengamuk. Biasanya, saat orangtua sedang melakukan sesuatu dan anak meminta perhatian lalu tak didapatkan, mereka akan tantrum.

Mengatasinya harus seimbang. Jika memang bisa langsung memberi perhatian, segera lakukan. Tapi jika sedang ada hal yang harus diselesaikan seperti telepon penting, mengurus pekerjaan, jelaskan pada anak. Setelah itu baru perhatian akan fokus kepadanya.

Sumber: Todays Parent

 

Beri Komentar