Penting Dilakukan Orangtua Biar Anak Berpikir Kritis

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 27 Juni 2022 08:12
Penting Dilakukan Orangtua Biar Anak Berpikir Kritis
Keterampilan berpikir kritis merupakan landasan akademis sekaligus keterampilan hidup yang penting.

Dream - Setiap hari anak-anak dibombardir dengan pesan, informasi, dan gambar. Baik saat di sekolah, di internet, atau berbicara dengan teman-temannya. Penting bagi anak untuk tahu bagaimana mengevaluasi apa yang mereka dengar dan lihat untuk membentuk opini dan keyakinan mereka sendiri.

Keterampilan berpikir kritis merupakan landasan akademis sekaligus keterampilan hidup yang penting. Tanpa kemampuan berpikir kritis, anak-anak akan kesulitan secara akademis dan sosial, terutama seiring bertambahnya usia.

Tidak peduli apapun profesi anak kelak, mereka perlu tahu bagaimana berpikir kritis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Sebagai orangtua, penting untuk memastikan bahwa anak-anak dapat berpikir sendiri dan mengembangkan pola pikir kritis yang sehat.

Apa Itu Berpikir Kritis?
Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan untuk membayangkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi untuk menentukan kebenaran dan validitasnya, seperti apa yang faktual dan apa yang tidak. Keterampilan ini membantu orang membentuk opini dan ide serta membantu mereka mengetahui siapa yang menjadi teman baik dan siapa yang tidak.

" Berpikir kritis juga penting untuk pertimbangan saat anak mengalami masalah yang kompleks dan mengembangkan solusi yang jelas," kata Amy Morin, LCSW, seorang psikoterapis anak.

Faktanya, berpikir kritis adalah bagian penting dari pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penetapan tujuan. Ini juga merupakan dasar pendidikan, terutama bila dikombinasikan dengan pemahaman bacaan. Kedua keterampilan ini bersama-sama memungkinkan anak-anak untuk menguasai informasi.

 

 

1 dari 5 halaman

Cara Agar Anak Menjadi Pemikir Kritis

Mengajarkan anak untuk berpikir kritis adalah bagian penting dari pola asuh. Saat kita mengajari anak-anak menjadi pemikir kritis, kita juga mengajari mereka untuk mandiri.

" Mereka belajar membentuk opini mereka sendiri dan mengambil kesimpulan sendiri tanpa banyak pengaruh dari luar," kata Morin.

depresi-220816t.html" id="link-box-terkait-2" data-position="2">Mona dan Indra Brasco Ungkap Awal Ketahui Putrinya Mengalami Depresi

Berikut adalah beberapa cara yang dapat diajarkan kepada anak-anak untuk menjadi pemikir kritis.

Beri contoh
Cara terbaik untuk mengajari anak-anak keterampilan hidup adalah dengan mencontohkannya. Anak-anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat. Pastikan orangtua memancing anak berpikir kritis. Misalnya, meneliti hal-hal yang terdengar tidak benar dan pernyataan menantang yang tampaknya tidak etis atau tidak adil. Bisa dengan membahas masalah di sekolah, sampah yang menggunung di sungai, kemaceta dan sebagainya.

" Sangat bagus bagi anak-anak untuk mendengar bagaimana orang tua berpikir secara kritis. Pemodelan pemikiran kritis ini memungkinkan anak-anak untuk mengamati proses berpikir orangtua mereka dan pemodelan itu memungkinkan anak untuk meniru apa yang diamati," kata Morin.

 

2 dari 5 halaman

Bermain

Anak-anak terus-menerus belajar dengan mencoba dan bermain. Faktanya, bermain dengan anak secara teratur di usia yang sangat muda adalah dasar utama bagi anak untuk berpikir kritis. Interaksi orangtua dan anak yang intensif akan membantu mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

" Anda akan menemukan pemikiran anak akan lebih pada tingkat konkret di tahun-tahun sebelumnya dan seiring bertambahnya usia, itu akan menjadi lebih abstrak," ujar Morin.

Ajari Mereka untuk Memecahkan Masalah
Morin mengatakan salah satu cara untuk mengajari anak-anak berpikir kritis adalah dengan mengajari mereka cara memecahkan masalah. Misalnya, minta mereka untuk mencari a lima cara berbeda untuk memecahkan masalah tertentu.

" Mungkin menantang mereka untuk memindahkan objek dari satu sisi ruangan ke sisi lain tanpa menggunakan tangan mereka. Pada awalnya, mereka mungkin berpikir itu tidak mungkin. Tetapi dengan sedikit dukungan dari ayah bunda mereka mungkin melihat ada lusinan solusi. Kelak ini jadi modal penting saat mereka menghadapi masalah," pesan Morin.

Sumber: VeryWell Family

3 dari 5 halaman

Hadapi Anak Remaja yang Penuh Emosi, Coba Lakukan Hal Ini

Dream - Anak remaja memiliki level emosi yang memang kadang naik turun. Terutama pada anak yang mengalami pubertas saat hormonnya sedang tak stabil. Dalam kondisi hal ini orangtua kerap mengalami kebingungan dan komunikasi jadi lebih sulit.

Remaja memang sudah bisa menyampaikan perasaannya dengan jelas dan kemarahannya tampak sangat nyata. Dikutip dari KlikDokter, jika salah menanganinya, bisa-bisa kemarahan tersebut malah merugikan dirinya serta orang lain.

Remaja pun kadang belum mempertimbangkan dan menyadari mana yang salah dan mana yang benar. Lalu bagaimana menghadapinya? Ada beberapa hal yang bisa orangtua terapkan saat anak remaja sedang emosi.

1. Hargai privasinya
Dilansir Psychology Today, remaja memandang kamar mereka sebagai “ kastil” yang terhubung dengan kepribadian mereka. Bila anak remaja kini lebih sering di kamar, terutama bila keadaan emosinya sedang tidak stabil, sebaiknya jangan langsung membuka pintu kamarnya untuk masuk. Ketuklah terlebih dulu dan mintalah persetujuan apakah ini waktu yang tepat bagi Anda untuk masuk ke dunianya.

Dengan begitu, mereka tidak akan tersulut emosinya karena merasa terganggu dan akan lebih menghargai orangtua, karena juga menghargai privasi dirinya. Setelah diizinkan masuk, jangan paksa mereka untuk langsung berbicara. Akan lebih mudah prosesnya bila orangtua menggunakan pendekatan seperti “ remaja” juga. Misalnya, bisa terlebih dulu menunjukkan ketertarikan terhadap benda-benda unik yang menjadi pajangan di kamar mereka untuk mencairkan suasana.

 

4 dari 5 halaman

2. Dengarkan dulu keinginannya, baru beri komentar

Terkadang sebagai orang dewasa, orangtua langsung merespons dengan nada yang agak tinggi ketika mendengar keinginan remaja yang menurut kita tidak masuk akal. Bila terus-menerus seperti itu, si remaja akan merasa tidak dihargai dan bersikap melawan dengan cara membentak.

Selama ini dia juga mencontoh orangtuanya yang selalu memotong pembicaraan dan membentak dirinya kala ada sesuatu yang tak sesuai dengan pemikiran. Daripada langsung memotong dan merespons negatif, sebaiknya dengarkan dulu keluh kesahnya, barulah meresponsnya dengan baik. Seperti memberi pertimbangan dan penilaian yang tidak memojokkan. Dengan begitu, ia sekaligus bisa belajar memilih mana yang baik dan mana yang tidak untuk dirinya sendiri.

 

5 dari 5 halaman

3. Jangan tunjukkan bahasa tubuh yang menantang

Remaja yang sedang emosi akan mudah meledak saat melihat lawan bicaranya menampilkan bahasa tubuh yang menantang, misalnya bertolak pinggang, menunjuk, melipat tangan di dada, atau mendongak. Jarak yang terlalu dekat juga bisa membuatnya semakin marah. Jadi, sebaiknya tampilkan bahasa tubuh yang netral saja dan atur jarak.

4. Setelah emosi lebih stabil, luangkan waktu bersamanya
Remaja yang sering marah-marah sebenarnya membutuhkan kasih sayang yang ekstra. Hanya saja, karena adanya gengsi remaja, yang ditunjukkan oleh mereka justru menarik diri. Karena itu, orang dewasa mesti lebih mengatur atau mengendalikan egonya dengan cara meluangkan waktu lebih terhadap mereka, terutama terkait kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

“ Orang tua juga perlu memantau aktivitas anak remajanya, baik di sekolah, lingkungan luar sekolah, dan di rumah,” kata dr. Nadia dari KlikDokter.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Beri Komentar