Tak Ada Ayah, Siapa yang Sebaiknya Lantunkan Azan Saat Bayi Baru Lahir?

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 11 Januari 2023 16:12
Tak Ada Ayah, Siapa yang Sebaiknya Lantunkan Azan Saat Bayi Baru Lahir?
Simak penjelasan Ustaz Ahong, pendiri lembaga kajian hadist el-Bukhari Institute.

Dream - Melantunkan azan dan iqamat pada telinga bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia, jadi hal yang sangat dianjurkan. Hal tersebut dicontohkan Nabi Muhammad SAW ketika dua cucunya lahir, yaitu Hasan dan Husein.

Disunahkan bagi ayah bayi sendiri yang melantunkan azan. Lalu bagaimana jika sang ayah tak ada?

Ibnu Kharis atau dikenal dengan panggilan Ustaz Ahong, pendiri el-Bukhari Institute, pemimpin redaksi BincangSyariah.com, menjawab pertanyaan tersebut di akun Instagramnya @ustadzahong.

" Menurut Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyah al Bajuri yang mengazani dan membacakan iqamah, boleh siapa saja, baik dari perempuan, seperti nenek bayi tersebut, tante atau bidan," ungkapnya.

Menurut Ustaz Ahong, bahkan jika ada yang kerabat yang non muslim dan bisa azan dan iqamat, boleh mengazani bayi. Hanya saja memang yang disunahkan adalah ayah si bayi sendiri yang mengazani.

" Imam Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan bahwa memang yang disunahkan melakukan adzan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir itu adalah ayahnya," ujarnya.

 

1 dari 6 halaman

Lihat Videonya

      Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ustadz Ahong (@ustadzahong)

2 dari 6 halaman

Ajaran dari Rasulullah Jadikan Buah Hati Pribadi Mandiri

Dream - Segala sesuatu yang diberikan Allah SWT pada kita di dunia adalah titipan. Termasuk juga anak-anak, yang kita lahirkan dan urus setiap hari. Kelak mereka akan memiliki kehidupan sendiri dan kita harus membentuknya jadi pribadi yang mandiri.

Untuk membuat anak bisa mandiri, tentu tak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Perlu dibiasakan sejak dini seperti yang diajarkan dari Nabi Muhammad SAW. Hal pertama yang perlu jadi bekal untuk kemandirian anak adalah ilmu agama.

Nilai-nilai Islam sangat penting karena akan jadi pondasi bagi anak dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah. Lalu sejak kecil, biasakan anak untuk melakukan pekerjaan rumah yang sesuai usianya.

Asah juga kemampuan dan skill yang dimiliki anak. Kelak hal ini bisa jadi sumber penghasilannya saat dewasa. Sekaya apapun orangtua, ingatlah ebaik-baik makanan seorang muslim adalah yang berasal dari hasil jerih payahnya sendiri. Seperti yang diajarkan Nabi Daud.

Nabi Daud

Dari Al-Miqdam R.A Rasulullah SAW bersabda, “ Tidak ada seorang pun yang memakan satu makanan yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud a.s. makan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (H.R. Al-Bukhari)

Hadis tersebut, dikutip dari BincangSyariah, sangat jelas bahwa Rasulullah SAW mengajak umatnya agar menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan tidak menjadi pribadi yang parasit. Bekerja dan berusaha dalam menjalankan hidup ini.

HR Bukhari

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW, bersabda, “ Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya.” (H.R. Al-Bukhari)

3 dari 6 halaman

Mental Kemandiriaan

Rasulullah SAW sangat mengapresiasi umatnya yang mau bekerja dan berusaha meskipun pekerjaan itu dianggap remeh oleh orang lain. Mental kemandirian inilah yang harus ditanamkan oleh para orang tua kepada anak-anak. Sehingga mereka malu jika hanya berpangku tangan saja dan mengharapkan bantuan dari orang lain.

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, maka aku berkata, Nabi saw. bersabda, “ Jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah.” (H.R. Al-Bukhari)


Selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Akhlak Rasulullah Terhadap Anak Yatim, Membuat Hati Jadi Lebih Lembut

Dream - Melihat anak yatim kerap muncul rasa iba. Sebisa mungkin, kita memang dianjurkan untuk selalu menyayangi anak yatim dengan berbagai cara. Hal ini seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Beliau merupakan anak yatim dan jauh dari keberlimpahan harta. Hal inilah yang menyebabkan beliau begitu memperhatikan anak yatim dan memuliakannya. Dikutip dari Sanadmedia.com, Imam Ibnu Hajar mendefiniskan yatim dalam kitab Tuhfatul Muhtaj:

Imam Ibnu Hajar

Artinya: " Yatim ialah seorang anak kecil yang belum baligh atau belum bermimpi, sebagaimana khabar (tidak disebut yatim apabila sudah bermimpi/ baligh), pun ia tidak memiliki ayah meski masih memiliki kakek" .

 

5 dari 6 halaman

Muliakan Anak Yatim

Nabi Muhammad SAW merupakan suri teladan. Beliau mengajarkan bagaimana sikap yang semestinya dilakukan terhadap anak yatim. Dalam riwayat Abu Umamah disebutkan, Rasulullah SAW bersabda,

Riwayat Abu Umamah

Artinya: " Barang siapa mengusap kepala anak yatim dengan niat karena mencari keridhaan Allah SWT, maka baginya sepuluh kebaikan dari setiap helai rambut yang diusapnya. Dan barang siapa yang berperilaku baik terhadap anak yatim (baik itu laki-laki mau pun perempuan) yang dimilikinya, maka kelak Aku (Rasulullah SAW) dan dia (pengasuh anak yatim) di surga seperti dua jari ini, (lalu Nabi mengisyaratkan dengan merenggangkan kedua jari telunjuk dan jari tengah)"

Berdasarkan riwayat di atas, Nabi Muhammad SAW memang selalu menuntun umatnya untuk memuliakan anak yatim. Beliau memberikan arahan dan segenap pelajaran agar senantiasa berinteraksi dengan baik terhadap mereka. Bahkan dijanjikan surga bagi siapa saja yang mampu berlaku hal tersebut.

 

6 dari 6 halaman

Obat Hati

Selain itu, Nabi juga menjadikan berperilaku baik terhadap anak yatim sebagai obat dari kotornya hati. Membuat hati menjadi lembut. Sebab, hati yang paling jauh dari Allah SWT ialah hati yang kotor.

Abu Darda' menyebutkan, pernah suatu ketika sahabat menghampiri Rasulullah SAW dan mengadukan perihal dirinya yang merasa jauh dari Allah SWT, lantas Rasullullah bertanya;

" Apakah engkau ingin menjadikan hatimu lembut?,"  tanya Nabi.

" Iya, Aku mengingikannya wahai Rasulullah,"  jawabnya.

Lalu Nabi bersabda, " Jika begitu, rawatlah anak yatim, usaplah kepalanya, berikanlah ia makan dari makananmu, karena sesungguhnya hal itu mampu melembutkan hatimu, dan memenuhi hajat yang menjadi keinginanmu" .

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Beri Komentar