JK Rowling Sebut Trump Lebih Buruk dari `Voldemort`

Reporter : Kusmiyati
Kamis, 10 Desember 2015 12:15
JK Rowling Sebut Trump Lebih Buruk dari `Voldemort`
Ide pelarangan muslim dari Donald Trump, JK Rowling menyindir Donald Trump jauh lebih buruk daripada karakter antagonis Vodemort yang ada dalam cerita Harry Potter.

Dream - Ide melarang para muslim masuk ke Amerika Serikat yang dikemukakan kandidat calon presiden Partai Republik Donald Trump, menuai beragam komentar dari banyak pihak.

Salah satu yang berpendapat keras yakni pengarang novel Harry Potter, Joanne Kathleen Rowling atau yang dikenal dengan JK Rowling.

Wanita kelahiran 31 Juli 1965 ini menyindir Donald Trump jauh lebih buruk daripada karakter antagonis Vodemort, yang ada dalam cerita Harry Potter.

" Betapa mengerikan," tulis J.K. Rowling di akun twitter miliknya saat mengutip artikel tentang Donald Trump dari akun BBCNewsbeat, Kamis 10 Desember 2015.

" Voldemort bahkan tak seburuk itu," tambahnya. Melihat hal ini para netizen pun langsung menyatakan pendapatnya.

Bahkan di media sosial muncul tagar #voldetrump untuk menolak ide yang disampaikannya saat kampanye beberapa hari lalu.

" Dia-yang-tidak-boleh-disebutkan-namanya! #Voldemort. Aku tidak setuju dengan pelarangan tersebut," tutur akun Diyati. (Ism) 

 

1 dari 5 halaman

Donald Trump Larang Muslim Masuk AS

Dream - Kandidat calon presiden Partai Republik Donald Trump menyerukan pelarangan para muslim masuk ke Amerika Serikat (AS). Ide ini diungkapkan Trump saat menggelar kampanye pada Senin kemarin.

'Donald Trump menyerukan penghentian total terhadap muslim masuk ke AS, hingga perwakilan negara kita mengerti apa yang sedang terjadi," demikian bunyi rilis kampanye Trump.

Trump sebelumnya menyerukan pengawasan terhadapa masjid. Dia juga mengatakan akan membuka database seluruh muslim yang tinggal di AS, yang lantas menjadi kabar paling kontroversial.

Pesan ini muncul setelah insiden penembakan di San Bernardino, California, yang ditengarai dilakukan oleh pendukung ISIS, sehari setelah Presiden Barrack Obama meminta para warga untuk tidak saling serang.

Komentar Trump membuat persaingan antarcalon dari Partai Republik berjalan kacau. Hal itu memaksa para kandidat lain dari partai yang sama terlibat perdebatan apakah perlu diadakan tes agama untuk bisa masuk AS.

Sayangnya, proposal Trump justru mendapat sambutan yang meriah dari para pendukungnya. Mereka lantas menyebar pernyataan ini di sejumlah media sosial.

" Saya pikir kita harus melarang setiap muslim datang. Siapapun mereka. Alasannya sederhana, kita tidak bisa mengenali perilaku mereka," kata warga Myrtle Beach, Carolina Selatan, Charlie Marzka, 75 tahun.

Meski begitu, kampanye larangan muslim ini dapat membuat popularitas Trump sedikit rusak. Miliarder yang telah mendominasi kontes kandidat calon presiden AS selama beberapa bulan ini, meski kerap terkesan kontroversial kemungkinan akan tenggelam di Gedung Putih.

" Tanpa melihat data jajak pendapat, semua orang tahu kebencian muncul di luar pemahaman dari mana kebencian ini bisa muncul dan mengapa kita harus menentukan sikap," ungkap dia.

" Hingga kita memahami masalah ini dan ancaman membahayakan ini disebar, negara kita tidak bisa menjadi korban dari serangan mengerikan dari orang-orang yang meyakini jihad dan tidak punya penghormatan terhadap kehidupan manusia," lanjut Trump.

Kampanye Trump menekankan larangan tersebut harus tetap berlaku, " hingga perwakilan negara kita dapat memahami apa yang terjadi."

Rilis kampanye itu didasarkan pada hasil jajak pendapat yang penuh kontroversi dari Pusat Kebijakan Keamanan (Center for Security Policy), yang mengklaim seperempat Muslim tinggal di AS meyakini kekerasan terhadap Amerika dapat dibenarkan dalam kerangka kampanye jihad global. Para pengkritik mempertanyakan validitas informasi tersebut.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Pew Research dalam sebuah jajak pendapat. Hasil jajak pendapat itu mengklaim adanya 'kebencian terhadap Amerika berasal dari sebagian besar populasi muslim'.

 

2 dari 5 halaman

Ini Pundi-pundi Kandidat Capres AS Donald Trump di Indonesia?

Dream - Kandidat calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membetot perhatian publik Indonesia. Namun kali ini bukan soal kekayaan atau rencana investasi yang menjadi sorotan.

Publik Indonesia justru heboh oleh kehadiran dua pimpinan DPR RI, Setya Novanto dan Fadli Zon dalam konferensi pers kampanye Donald Trump di New York, Amerika Serikat.

Fadli Zon mengutip laman businessinsider, mengatakan Trump adalah teman bagi Indonesia. Sama seperti Barack Obama yang pernah tinggal di Indonesia.

" Saya pikir kami menyukainya karena dia juga berinvestasi di Indonesia," uja Fadli Zon.

Baca: Heboh Setya Novanto & Fadli Zon Temui Kandidat Capres AS, Donald Trump

Nama Donald Trump sudah cukup lama malang melintang di dunia bisnis. Dialah raja properti di pusat bisnis AS, New York.

Trump juga mulai merambah dunia golf dengan mendirikan sejumlah lapangan olahraga kelas atas ini di seluruh dunia.

Indonesia termasuk salah satu negara yang ternyata menjadi tempat Donald Trump mencari uang.

3 dari 5 halaman

Muslim AS Tak Terpengaruh Pernyataan Donald Trump

Dream – Umat Islam Amerika Serikat tak akan terprovokasi oleh pernyataan peserta konvensi calon presiden Partai Republik, Donald Trump, yang akan memberikan identitas khusus untuk kaum muslim. Umat Islam AS selalu dewasa dalam menanggapi isu semacam ini.

Demikian disampaikan oleh peneliti muslim Amerika Serikat, Emin Sinanovic, di Jakarta, Rabu 2 Desember 2015. “ Saya selalu yakin, Muslim di Amerika Serikat selalu punya jalan keluar atas perlakuan itu,” kata Emin.

Menurut Emin, ide yang disampaikan Trump dalam kampanye 16 November silam itu sangat buruk. “ Saya berharap ide tersebut tidak terjadi,” ucap dia.

Sebelumnya, Trump menyampaikan ide untuk memberikan identitas khusus bagi kaum muslim AS. Dia ingin kaum muslim diberi identitas khusus, layaknya kaum Yahudi pada zaman Nazi. Tak hanya itu, Trump juga ingin mengawasi masjid-masjid tempat ibadah kaum muslim AS.

Ide itu mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Marwa Balkar. Muslimah berusia 22 tahun asal Corona, California, ini menulis surat untuk Trump melalui akun Facebook.

Dalam pesan itu, Marwa justru menyatakan akan menjadi orang pertama yang memakai identitas tersebut. Dan dia memastikan, nasionalismenya tak kurang daripada yang dimiliki oleh Trump. [Baca juga: Pesan Menggetarkan Muslimah Cantik untuk Capres AS

4 dari 5 halaman

Hadir di AS, Fadli Zon Sebut Donald Trump Teman

Dream - Pimpinan DPR RI secara mengejutkan hadir dalam keterangan pers kandidat Calon Presiden (Capres) Amerika Serikat Donald Trump. Bahkan Ketua DPR RI Setya Novanto sempat diperkenalkan kepada media.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon yang terlihat jelas dalam video yang diunggah USA Today.

" Saya pikir kami menyukainya karena dia juga berinvestasi di Indonesia," kata Fadli Zon saat diwawancara Business Insider seperti dikutip Dream, Jumat, 4 September 2015.

Fadli Zon mengatakan Trump memiliki sejumlah usaha di Indonesia. Miliarder real estate ini disebut memiliki proyek di Bali dan Jawa Barat. " Jadi dia adalah teman bagi Indonesia," katanya.

Masih menurut Fadli, Trump juga sosok terkenal bagi masyarakat di Tanah Air. Manakala berbicara jutawan atau miliarder, salah satu yang ada dalam pikiran masyarakat Indonesia pertama kali adalah nama Trump.

Disinggung kemungkinan Trump mengikuti jejak Barack Obama yang pernah tinggal dan memiliki penggemar banyak di Indonesia, Fadli hanya menjawab diplomatis. Dia mengatakan masyarakat Indonesia menghargai kedua orang tersebut.

" Obama adalah teman bagi Indonesia," kata Fadli. " Pemilu AS, tentu saja tergantung pada masyarakat AS. Namun kami peduli dengan orang yang memperhatikan Indonesia. Jadi Obama adalah teman kami. Donald Trump juga teman kami."

Fadli juga yakin isu kontroversial yang diusung Trump terkait kebijakan imigrasi takkan berpengaruh terhadap posisi Indonesia.

" Saya kira pernyataan tak bermasalah. Dia mengatakan imigran ilegal, dia mengatakan tak bermasalah dengan orang lain, penduduk asing, begitu pula imigran sepanjang mereka masuk secara sah," jelas Fadli.

5 dari 5 halaman

Setya Novanto-Fadli Zon Hadiri Kampanye Capres AS Donald Trump

Dream - Secara mengejutkan dua pimpinan DPR RI hadir dalam konferensi pers kandidat Calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketua DPR RI, Setya Novanto bahkan diperkenalkan kepada publik AS.

Mendampingi Setya Novanto adalah Wakil Ketua DPR yang juga politisi Partai Gerindra, Fadli Zon.

" Anggota parlemen Indonesia datang kesini untuk bertemu saya. Setya Novanto salah satu orang terkuat dan terbaik," ujar Trump saat memperkenalkan politisi Golkar itu, mengutip lamanbusinessinsider, Jumat, 4 September 2015.

Trump mengatakan, tak hanya Setya yang hadir, sejumlah anggota DPR RI juga menemuinya hari itu.

Dalam kesempatan itu, Trump menyatakan pertemuan itu akan membuat sesuatu yang besar bagi Amerika Serikat. " Betulkan itu?" tanya kepada Setya Novanto.

Trump tampaknya memanfaatkan momen itu untuk mempromosikan dirinya cukup terkenal bagi masyarakat Indonesia.

" Apakah orang Indonesia suka dengan saya?" tanyanya kembali kepada Setya. 

 (Ism) 

Beri Komentar