Akhir Pandemi Semakin Dekat, WHO Sebut 90% Populasi Dunia Kebal Covid-19

Reporter : Nabila Hanum
Selasa, 6 Desember 2022 14:01
Akhir Pandemi Semakin Dekat, WHO Sebut 90% Populasi Dunia Kebal Covid-19
Menurut WHO, 90 persen populasi dunia sudah kebal terhadap Covid-19

Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dunia kini semakin dekat menuju akhir pandemi Covid-19. Keyakinan itu muncul melihat 90 persen populasi dunia sudah kebal terhadap virus yang berawal dari Wuhan, China.

Meski terlihat tanda segera berakhir, WHO memperingatkan dunia tentang kemungkinan munculnya varian baru yang berbahaya.

“ WHO memperkirakan setidaknya 90% populasi dunia sekarang memiliki tingkat kekebalan tertentu terhadap Sars-CoV-2, karena infeksi atau vaksinasi sebelumnya,” kata Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari Guardian.

“ Kami semakin dekat untuk dapat mengatakan bahwa fase darurat pandemi telah berakhir, tetapi kita belum sampai di sana,” imbuhnya.

1 dari 7 halaman

Dengan adanya kekebalan ini, WHO mengingatkan masyarakat akan cenderung lengah terhadap kondisi sekitar. Berkaca dari kemunculan varian Omnicron di tahun lalu, WHO meminta seluruh negara tentang waspada dengan kemungkinan varian baru yang bisa lebih mematikan. 

“ Kesenjangan dalam pengawasan, pengujian, pengurutan, dan vaksinasi terus menciptakan kondisi yang sempurna untuk munculnya varian baru yang dapat menyebabkan kematian yang signifikan,” ungkap Tedros.

Minggu lalu, sebuah penelitian mengungkap vaksin baru, Pfizer/BioNTech dan Moderna cenderung memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan vaksin sebelumnya.

Studi tersebut dilakukan kepada lebih dari 360.000 orang dan menunjukkan bahwa vaksin booster memberikan perlindungan yang lebih tinggi terhadap varian baru.

2 dari 7 halaman

Di Amerika Serikat, booster yang mulai diperkenalkan sejak September lalu telah memberikan manfaat yang lebih besar bagi orang dewasa muda berusia 18-49 tahun dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.

Tedros mengatakan sekarang ada lebih dari 500 sub-garis keturunan Omicron yang sangat menular dan lebih mudah mengalahkan kekebalan yang terbentuk pada manusia.

WHO melaporkan pandemi Covid-19 telah menyebabkan 6,6 juta kematian dari hampir 640 juta kasus yang terdaftar.

Namun badan kesehatan PBB itu mengatakan angka ini sangat kecil dan tidak mencerminkan jumlah sebenarnya. Tedros mengatakan lebih dari 8.500 orang tercatat kehilangan nyawa karena Covid-19 hingga minggu lalu.

(Laporan : Erdyandra Tri Sandiva)

3 dari 7 halaman

Klaim Mengejutkan Ilmuwan Soal Asal Mula Virus Covid-19: Buatan Manusia, Dibuat di China, Didanai AS

Dream - Meskipun beberapa negara sedang dalam peralihan menuju endemi Covid-19, huru-hara terkait kemunculan virus pertama di Wuhan, China ini masih belum selesai. Berbagai teori konspirasi berkembang dan masih seputar asal muasal virus yang telah menyebar hampir ke seluruh dunia ini.

Ahli epidemiologi sekaligus mantan wakil presiden EcoHealth Alliance, dr Andrew Huff, dalam buku 'The Truth About Wuhan' menyebut bahwa Covid-19 awalnya adalah buatan manusia hingga kemudian menyebar karena kebocoran di laboratorium di Wuhan.

dr Huff meyakini bahwa pandemi Covid-19 adalah hasil dari pendanaan pemerintah AS untuk rekayasa genetika virus corona yang berbahaya di China.

4 dari 7 halaman

Namun karena eksperimen di China tidak dibarengi biosekuriti yang baik. Alhasil terjadi kebocoran di laboratorium di Institut Virologi Wuhan, yang kemudian memicu merebaknya virus Corona.

“ Laboratorium asing tidak memiliki langkah-langkah kontrol yang memadai untuk memastikan biosafety, biosecurity, dan manajemen risiko yang tepat, yang pada akhirnya mengakibatkan kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan,” kata Huff, dilansir dari New York Post.

Beberapa ahli percaya bahwa virus tersebut dapat lolos dari laboratorium melalui ilmuwan yang terinfeksi, atau melalui limbah pembuangan yang tidak tepat dari fasilitas tersebut.

5 dari 7 halaman

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa dia khawatir virus itu keluar dari laboratorium dalam sebuah kecelakaan besar pada 2019 lalu.

“ Cina tahu sejak hari pertama bahwa ini adalah agen rekayasa genetika. Pemerintah AS harus disalahkan atas transfer bioteknologi berbahaya ke China,” ujar dr. Huff dalam bukunya.

Diketahui, EcoHealth Alliance telah mempelajari berbagai virus corona pada kelelawar selama lebih dari sepuluh tahun didanai oleh National Institutes of Health dan menjalin kerjasama dengan laboratorium Wuhan.

6 dari 7 halaman

dr Huff bekerja di EcoHealth Alliance pada 2014 hingga 2016 dan menjabat sebagai wakil presiden dari 2015, bekerja sebagai ilmuwan pemerintah AS.

Pada 2014, dr Huff diminta untuk meninjau proposal pendanaan berkaitan dengan pekerjaan peningkatan fungsi untuk menciptakan SARS-CoV-2, yang kemudian menyebabkan Covid-19.

Pekerjaan tersebut bertujuan melihat virus yang dibuat dalam menginfeksi manusia, untuk membantu peneliti menguji teori ilmiah, mengembangkan teknologi baru, dan menemukan pengobatan penyakit menular.

7 dari 7 halaman

Namun, metode penelitian tersebut diyakini berisiko memicu masalah keselamatan dan keamanan, sehingga dilarang di banyak negara. Hal itu sempat dilarang di AS pada 2014, tapi kemudian diperkenalkan kembali oleh National Institutes of Health (NIH) pada 2017.

Menurut dr Huff, EcoHealth Alliance bekerja sama dengan laboratorium Wuhan untuk mendapatkan penelitian fungsi, dengan dukungan USAID.

Ia menyakini Covid-19 direkayasa secara genetik di Wuhan melalui serangkaian penelitian fungsi yang didanai oleh pemerintah AS. Kemudian karena keamanan yang buruk, terjadilah kebocoran laboratorium.

" Aliansi EcoHealth mengembangkan SARS-CoV-2 dan bertanggung jawab atas pengembangan agen SARS-CoV-2 selama saya bekerja di organisasi tersebut," ujarnya.

Laporan : Erdyandra Tri Sandiva

Beri Komentar