Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Perronas, Malaysia (Pultan.org)
Dream – Awal April 2022. Netizen di negara jiran Malaysia heboh. Media sosial dibanjiri gambar seorang pengemudi yang tengah mengisi kendaraannya di sebuah pom bensin Malaysia dengan mobil bernomor Singapura .
Dalam foto yang beredar di media sosial, pria itu terlihat berperawakan tinggi, bercelana pendek, berkaus, dan bermasker. Ia tengah mengisi bensin mobil Toyota Corola Altis warna puith miliknya dengan nomer kendaraan SMZ, nomer kendaraan Singapura.
Yang menjadi soal, dia justru mengisinya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Taman Pelangi, Johor Baru, Malaysia.
Tak cuma mengisi mobil, mobil itu terlihat dipasang dongkrak yang membuat posisi mobil tersebut sedikit miring. Disinyalir, sang pemilik mobil tengah memastikan semua bensin yang dia beli masuk dan memenuhi seluruh tangki mobil sehingga tak ada ruang tangki bensin yang tersisa.

(Kendaraan berpelat Singapura isi BBM di SPBU Malaysia/Mothership)
Fenomena mobil Singapura mengisi bahan bakar minyak atau BBM di SPBU Malaysia itu mulai kembali marak ketika perbatasan Malaysia, khususnya di Johor Bahu, dibuka kembali setelah sempat ditutup dua tahun akibat pandemi Covid 19.
Di masa lalu, hal itu telah membuat marah masyarakat Malaysia yang harus menunggu dalam antrean panjang untuk mendapatkan giliran mengisi bahan bakar.
Tindakan ugal-ugalan ini tak pelak memicu kemarahan netizen Malaysia yang menggambarkan pengemudi Singapura itu sebagai “ kaya di negara orang lain, tapi miskin di negaranya sendiri.”
Pada saat yang sama, netizen Malaysia mendesak operator SPBU untuk bersikap tegas terhadap orang asing yang mengisi kendaraan mereka saat berada di Malaysia.
Perbedaan besar antara harga eceran BBM di Malaysia dibandingkan dengan negara tetangga Singapura, memangh menjadi penyebab tindakan egois pria pengemudi mobil tersebut.
Menurut Mothership. harga eceran bensin RON95 di Malaysia hanya RM2,05 per liter atau Rp 6.798, sangat rendah dibandingkan dengan harga eceran bensin di negara-negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara-negara tetangga.
Saat itu, harga eceran bensin di Arab Saudi adalah RM2,59 atau Rp 8.589 per liter dan di Indonesia mencapai RM3,74 atau Rp 12.500 per liter untuk Pertamax RON92, sedangkan negara tetangga Thailand seharga RM5,63 Rp 18.672 per liter dan Singapura sebesar RM9,7 atau Rp 32.379 per liter.
Harga bensin di Malaysia memang 75 persen lebih murah dibandingkan dengan Singapura.
Maka tak heran, orang-orang dari negara tetangga terdekat Malaysia sekali lagi memanfaatkan harga eceran bensin yang jauh lebih murah ketimbang di Singapura. Seperti pria itu.
Menurut Bloomberg, akibat viralnya foto itu, pejabat di Malaysia telah berjanji untuk lebih waspada dan bakal melakujkan tindakan lebih keras terhadap operator bahan bakar ritel yang tertangkap menjual gas bersubsidi ke kendaraan yang terdaftar di luar negeri. Ribuan kendaraan dilaporkan telah melintasi perbatasan antara Singapura dan Malaysia sejak dibuka penuh, mengakhiri penutupan paksa selama dua tahun akibat pandemi.
Divisi Johor dari Kementerian Perdagangan Domestik dan Urusan Konsumen Malaysia mengatakan akan meningkatkan penegakan hukum terhadap operator yang tertangkap menjual bahan bakar ke mobil yang terdaftar di luar negeri. Dan perusahaan penjual bertanggung jawab atas denda hingga 2 juta ringgit atau Rp 6,6 miliar.
Malaysia sebelumnya melarang penjualan bensin 95-RON ke mobil yang tidak terdaftar secara lokal karena bensin kelas itu disubsidi untuk penduduk setempat. Singapura saat ini menjual kadar minyak itu lebih dari empat kali lipat dari harga di Malaysia.
Persoalan murahnya harga bahan bakar minyak atau BBM di Malaysia juga mengaung ketika pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan menaikkan harga jual Pertalite, Pertamax dan Solar, Sabtu 3 September 2022 lalu.
Dengan kadar oktan atau RON yang lebih tinggi dari Pertalite dan Pertamax, Malaysia bisa menjual 1 liter RON95 seharga RM2,05 atau Rp 6.798. Lebih murah dari harga Pertalite dengan kadar oktan atau RON90 sebesar Rp 10.000 per liter dan Pertamax RON92 dengan harga Rp 14.500 per liter.
Lalu, mengapa harga BBM Malaysia lebih murah dari Indonesia?
***
Malaysia adalah produsen minyak terbesar keempat di Asia dan nomer dua di Asia Tenggara, setelah Indonesia.
Malaysia memproduksi 596.000 barel minyak per hari menurut data 2020, yang sebagian besar diambil di lepas pantai. Selama satu dekade terakhir, produksi minyak Malaysia cukup stabil meskipun ada sedikit tren penurunan sejak 2016.
Karena sektor minyak dan gas merupakan bagian penting dari pertumbuhan ekonomi Malaysia, pemerintah telah berkonsentrasi pada peningkatan produksi.
Petroliam Nasional Berhad atau dikenal sebagai Petronas, adalah perusahaan energi milik Malaysia yang mengontrol semua sumber daya minyak dan gas di negara itu.
Perusahaan minyak dan gas internasional seperti ExxonMobil Corporation, Murphy Oil Corporation, dan Royal Dutch Shell PLC, turut terlibat dalam memproduksi komoditas minyak Malaysia di bawah pengawasan Petronas.
Malaysia memiliki sekitar 400 ladang minyak dan gas. Ini juga memegang cadangan minyak terbesar keempat di Asia, dengan minyak dan gas menyumbang sekitar 20% dari produk domestik bruto (PDB).

(Ladang minyak milik Petronas/Youtube)
Sedangkan Indonesia berada adalah produsen minyak terbesar ketiga di Asia setelah China dan India, dan nomer satu di Asia Tenggara.
Indonesia memproduksi minyak sekitar 743,000 barel per hari pada tahun 2020. Era 1990-an hingga 2000-an menjadi kejayaan Indonesia, ketika produksi berada pada titik tertinggi antara 1,5 juta dan 1,7 juta barel per hari.
Namun sejak periode itu berlalu, produksi mengalami tren penurunan yang cukup drastis. Kemerosotan produksi diakibatkan oleh banyaknya ladang minyak yang menua disertai peningkatan permintaan domestik. Hal ini memaksa Indonesia keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di tahun 2009 setelah bertahan selama 47 tahun lamanya.
Beruntung, Indonesia kembali bergabung di tahun 2016. PT Pertamina dan PT Chevron Pacific Indonesia, anak perusahaan dari raksasa energi Amerika Chevron Corporation, adalah dua produsen minyak terbesar di Indonesia.
Untuk komsumsi minyak, Indonesia biasa menghabiskan 1,5 juta barel per hari. Artinya sebesar 800 ribu barel biasanya terpaksa diekspor Indonesia dari negara lain. Karena produksi dalam negeri tak mencukupi kebutuhan domestik bagi 275 juta penduduk Indonesia.
Dengan jumlah penduduk sebanyak Rp 32 juta orang, Malaysia juga melakukan hal yang sama seperti Indonesia, yakni memberi subsidi pada penggunaan BBM bagi warga di negerinya sendiri.
Akibatnya, Malaysia berada di antara 10 negara teratas dengan harga bensin termurah di dunia.
Menurut GlobalPetrolPrices.com, pada 16 Mei 2022, harga rata-rata bensin di seluruh dunia adalah US$1,36 atau Rp 19.866 per liter.
Portal ini melacak harga eceran bahan bakar motor, listrik, dan gas alam di lebih dari 150 negara.
Namun, dikatakan ada perbedaan substansial dalam harga ini di antara negara-negara itu.
Sebagai aturan umum, negara-negara kaya memiliki harga lebih tinggi sementara negara-negara miskin dan negara-negara yang memproduksi dan mengekspor minyak memiliki harga yang jauh lebih rendah.
Dikatakan satu pengecualian adalah AS, yang merupakan negara maju secara ekonomi tetapi memiliki harga gas yang rendah.
Dijelaskan bahwa perbedaan harga antar negara disebabkan oleh berbagai pajak dan subsidi untuk bensin.
Semua negara memiliki akses ke harga minyak yang sama di pasar internasional tetapi kemudian memutuskan untuk mengenakan pajak yang berbeda. Akibatnya, harga eceran bensin berbeda-beda.
Malaysia adalah yang termurah ke-10 dalam di dunia dengan menjual U$ 46,6 sen atau Rp 6.988 per liter bensin. Harga bensin termurah di dunia adalah di Venezuela pada U$ 2,2 sen atau Rp 3,225 per liter.
Sementara itu, rata-rata harga bensin negara tetangga Malaysia seperti Indonesia adalah US$1,136 per liter, dan Filipina US$1,497 atau Rp 22.354 per liter, sedangkan Singapura US$2,219 atau Rp 33.136 per liter.
Hong Kong memiliki harga tertinggi di dunia dengan US$2.897 atau Rp 43.260 per liter, menurut portal tersebut.
Menurut Malaysia Reserve, Malaysia juga penjual harga bensin termurah di kawasan Asia-Pasifik, kata analis Picodi yang mencatat bahwa satu liter bensin di Malaysia berharga U$0,49 (RM2,05) atau Rp 6.798.

(SPBU Petronas di Malaysia/The Star)
Laporan Picodi juga menyebutkan bahwa Malaysia berada di peringkat kelima dalam hal rasio harga bensin dengan gaji rata-rata, di mana setiap orang dapat membeli 1.707 liter bensin dengan satu bulan gaji.
Selandia Baru berada di peringkat keempat dengan 1.852 liter, sedangkan Korea Selatan berada di peringkat ketiga dengan 1.908 liter. Di tempat kedua adalah Jepang dengan 2.006 liter.
Australia menduduki puncak daftar, di mana satu bulan gaji dapat membeli 3.783 liter bensin. Di luar grafik, bagaimanapun, adalah Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab di mana satu gaji dapat membeli antara 4.900 dan 6.500 liter bensin.
“ Peringkat yang lebih rendah adalah negara-negara seperti Pakistan, Kamboja, dan Filipina. Di sana, gaji rata-rata memungkinkan untuk pembelian tidak lebih dari 200 liter bensin, yang hanya 5% dari kapasitas pemimpin peringkat Asia-Pasifik, ” kata laporan Picodi itu.
Sementara itu, Venezuela menduduki peringkat harga bensin termurah di dunia di mana US$29 mampu membeli lebih dari 14 miliar liter bensin.
Lalu apa rahasia Malaysia membuat BBM berharga murah bagi warganya, termasuk jika dibandingkan dengan Indonesia
***
Bensin RON 95 di Malaysia sekarang dijual pada harga RM 2,05 atau Rp 6.798 per liter, sedangkan diesel standar Euro 5 (campuran biodiesel B10) dijual pada harga RM 2,15 atau Rp 7.130 per liter.
Harga untuk RON95 dan solar tetap tidak berubah sejak tahun 2018 karena pemerintah telah menerapkan Mekanisme Penetapan Harga Otomatis. Perubahan signifikan dalam harga bahan bakar global selama seminggu bisa membuat pemerintah untuk memperbarui harga bahan bakar mingguan untuk RON95 dan solar.
Bensin RON 97 yang tidak disubsidi pemerintah Malaysia sekarang dijual dengan harga RM 3,75 per liter atau Rp 12.437.
Di satu sisi, harga minyak yang tinggi di dunia dapat meningkatkan pendapatan ekspor Malaysia. Di sisi lain, ini juga berarti bahwa pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak untuk subsidi bahan bakar, yang secara efektif meniadakan sebagian besar keuntungan dari harga minyak mentah yang lebih tinggi.
Meski subsidi bahan bakar dianggap bodoh oleh pengamat ekonomi, tetap saja, tidak ada Menteri di Malaysia yang ingin menyentuh topik ini karena menghapus subsidi bahan bakar adalah sama saja seperti bunuh diri politik.
Tidak peduli di sisi mana perpecahan politik, semua partai politik akan menyerang Menteri mana pun yang mengusulkan untuk menghapus subsidi bahan bakar. Karena di mata pemilih pemerintah yang menghapus subsidi bahan bakar adalah pemerintah yang tidak peduli dengan kesejahteraan rakyat.
Karena itu pencabutan subsidi BBM yang telah banyak digembar-gemborkan di Mlaysia tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Pemerintah Malaysia sendiri mengaku masih memiliki dana yang cukup untuk terus memberikan subsidi meskipun harga minyak mentah dunia meningkat.
Menteri Keuangan Malaysia Tengku Datuk Seri Zafrul Abdul Aziz mengatakan pemerintah masih memiliki cukup uang dan akan terus mendukung masyarakat dalam melindungi mata pencaharian mereka, terutama kelompok rentan.
" Target inflasi kami (tahun ini) masih dalam apa yang telah kami katakan sebelumnya - antara 2,3% dan 3,3%," katanya seperti dikutip kantor berita Bernama.
Tengku Zafrul, mengatakan pemerintah akan terus memantau harga minyak dunia untuk menyusun rencana jangka panjang, salah satunya dengan menerapkan subsidi yang tepat sasaran.
“ Seperti yang dikatakan pemerintah sebelumnya, subsidi untuk tahun ini akan mencapai RM70 miliar (Rp 232 triliun), artinya subsidi bahan bakar akan mencapai RM30 miliar (Rp 99 trilun). Kami telah membuat proyeksi berdasarkan harga minyak Brent. Bulan lalu (Mei), itu (subsidi bahan bakar) sudah mencapai RM5 miliar (Rp 16 triliun) sebulan,” ujarnya.

(Menteri Keuangan Malaysia Tengku Datuk Seri Zafrul Abdul Aziz/Bernama)
“ Namun, saat ini pemerintah akan tetap mengalokasikan subsidi. Kami masih bisa membantu masyarakat melalui subsidi, jadi kami akan teruskan,” katanya.
Sementara itu, dia mengatakan pemerintah belum berniat meminta tambahan dividen kepada Petronas untuk menanggung biaya subsidi.
“ Kami akan melihat semua (opsi). Pendapatan pemerintah meningkat karena pendapatan kita bergantung pada harga komoditas. Perusahaan seperti Petronas juga telah mengumumkan posisi keuangan yang kuat (tetapi) apakah kami akan meminta lebih banyak dividen dari mereka atau apa, belum dibahas.
Untuk diketahui, Petronas membukukan laba setelah pajak RM 48,6 miliar atau Rp 161 triliun untuk tahun keuangan yang berakhir 31 Desember 2021 dan menghasilkan laba RM23,44 miliar atau Rp 77,7 triliun lebih lanjut pada Q1 2022. Jumlah ini milik pemerintah, atau lebih tepatnya milik rakyat dan diselenggarakan oleh pemerintah. Ini hampir mencakup RM28 miliar sehingga subsidi dapat diberikan jika perlu.
“ Penerimaan pemerintah juga meningkat meski kenaikannya tidak sebesar (kenaikan) subsidi. Kami akan terus pantau karena ini bukan hanya fenomena di Malaysia tetapi juga di tingkat global,” tambahnya.
Menurut Malaysia Free Today, sempat ada perdebatan soal subsidi dialihkan dari subsidi universal ke subsidi tepat sasaran.
Meskipun demikian, menghapus subsidi universal dan menggantinya dengan subsidi yang ditargetkan adalah ide yang buruk karena tiga alasan. Pertama, Malaysia tidak memiliki cara untuk menargetkan subsidi pada orang miskin karena Malaysia tidak dapat mengidentifikasi orang miskin dan bagaimanapun harus menargetkan subsidi sesuai dengan kebutuhan, yang tidak harus dikaitkan dengan pendapatan.
Kedua, Malaysia tidak memiliki mekanisme yang efektif untuk menerapkan subsidi yang ditargetkan. Solusi yang biasa diberikan adalah bentuk voucher yang diberikan kepada kelompok sasaran atau alternatif digital menggunakan MyKad atau MySejahtera. Tak satu pun dari ini akan bekerja dan sebenarnya tidak adanya solusi teknologi yang menunjang ide subsidi yang ditargetkan.
Tentu saja, segala bentuk voucher atau diskon juga akan segera diperdagangkan untuk keuntungan di pasar gelap dan ini akan menyebabkan ilegalitas dan biaya penegakan hukum yang besar. Bahkan dengan teknologi digital, tidak ada mekanisme yang efektif untuk menghentikannya.
Ketiga, saat ini, kenaikan harga terutama terjadi pada bahan bakar dan makanan dapat dikendalikan oleh pengendalian harga dan subsidi yang menjaga inflasi umum tetap rendah. Menghapus subsidi akan menaikkan harga bensin dan menyebabkan kenaikan harga secara umum di semua kategori dalam indeks harga konsumen yang bergantung pada bahan bakar. Ini adalah resep menjaga hiperinflasi dan kenaikan suku bunga besar-besaran.
Jadi, sementara banyak orang tidak mendukung subsidi harga bensin, kenyataannya adalah bahwa subsidi itu memang bertujuan untuk membantu menekan kenaikan harga khusus dan umum dan ini memiliki manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan. Menghapus subsidi sepenuhnya akan menyebabkan kerusakan ekonomi besar-besaran dan gagasan “ subsidi yang ditargetkan” bukanlah jalan keluar karena alasan praktis.
Dalam postingan di Twitter, Menteri Keuangan Tengku Zafrul menjelaskan bahwa Malaysia memiliki salah satu tingkat inflasi terendah di dunia. Ini sebagian karena subsidi bahan bakar yang tinggi yang diproyeksikan mencapai RM 80 miliar atau Rp 265 triliun untuk tahun 2022, tertinggi dalam sejarah subsidi Malaysia.
Dia mengutip Departemen Statistik Malaysia (DOSM) yang menemukan bahwa tanpa subsidi, tingkat inflasi Malaysia bisa mencapai 12 persen, satu persen lebih dari yang diperkirakan sebelumnya.
Menurut situs Kementrian Keuangan Malaysia, hingga Agustus 2022, pemerintah Malaysia telah menghabiskan RM 77,7 miliar atau Rp 257 triliun untuk subsidi, dan subsidi bahan bakar merupakan bagian terbesar dari jumlah tersebut yaitu RM 41,7 miliar atau Rp 138 triliun.
Menteri Keuangan Tengku Datuk Seri Zafrul Tengku Abdul Aziz menyebut jumlah total subsidi diperkirakan akan mencapai hampir RM80 miliar atau Rp 265 triliun di akhir tahun 2022 ini, yang merupakan jumlah terbesar dalam sejarah Malaysia.
Dalam Laporan Keuangan Rakyat ke-100, ia mengatakan untuk mengurangi tekanan inflasi pada masyarakat, pemerintah telah memberikan berbagai subsidi konsumsi yang terdiri dari BBM, solar, liquefied petroleum gas (LPG), minyak goreng, tepung terigu, dan listrik.

(SPBU Pteronas di Malaysia/The New Strait Times)
“ Secara keseluruhan, proyeksi pengeluaran subsidi konsumsi untuk tahun 2022 adalah jumlah subsidi tertinggi dalam sejarah yang pernah ditanggung oleh pemerintah mana pun.
“ Bila ditambah dengan bantuan lain seperti bantuan kesejahteraan sosial, bantuan pertanian, nelayan dan sebagainya, total subsidi diharapkan mendekati RM80 miliar untuk tahun 2022, yang merupakan jumlah subsidi terbesar dalam sejarah,” katanya.
Namun, dia mengatakan pemerintah tetap menjalankan kebijakan yang secara umum ditujukan untuk menahan inflasi agar tidak terjadi kenaikan harga yang berlebihan dan sekaligus membantu mereka yang membutuhkan dalam bentuk bantuan langsung.
Ia mengatakan, kebijakan tersebut dipandang telah menghasilkan situasi yang dianggap terkendali, terutama jika dibandingkan dengan negara lain.
“ Studi tentang penghentian subsidi secara holistik dan penyaluran kembali tabungan tersebut kepada mereka yang sangat membutuhkan adalah bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan kesinambungan fiskal negara dalam jangka menengah dan panjang,” katanya.
Tengku Zafrul mengatakan sejumlah besar dana pemerintah telah dihabiskan untuk mengatasi dampak pandemi, termasuk menyelamatkan nyawa masyarakat melalui program vaksinasi nasional serta mempertahankan lapangan kerja dan kapasitas bisnis melalui Program Subsidi Upah.
Artinya, Malaysia sama seperti Indonesia. Demi mencegah inflasi tinggi, negara memberi subsidi bahan bakar yang besar. Bedanya, Malaysia masih kuat, sementara pemerintah Indonesia sudah tidak sanggup lagi memberi subsidi harga bahan bakar minyak. Lalu lempar handuk meski inflasi tinggi bakal mengancam. (eha)
Sumber: Mothership, Bloomberg, GlobalPetrolPrices.com, Malaysia Reserve, Bernama, Malaysia Free Today