Puasa (4): Dugderan, Tradisi Unik Penanda Ramadan

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 6 Juli 2015 20:00
Puasa (4): Dugderan, Tradisi Unik Penanda Ramadan
Tradisi unik ini sudah berumur satu abad. Bertahan sebagai simbol kesepakatan antara pemerintah dan ulama tentang awal Ramadan.

Dream - Kalender sudah menunjukkan akhir bulan Sya’ban. Siang itu, hampir sebagian besar warga Semarang, Jawa Tengah, luber dan memadati jalanan antara Balai Kota dan Masjid Besar Kauman. Tak terkecuali orang tua dan anak-anak. Mereka tengah menunggu sebuah pagelaran acara besar dengan harap-harap cemas.

Sejumlah rombongan pasukan parade mulai mempersiapkan diri. Rombongan itu dipimpin langsung Walikota Semarang. Menggantikan tradisi dahulu kala, saat pejabat Bupati yang menjadi pemimpin rombongan.

Jelang pergantian waktu dari siang menuju senja, rombongan parade itu mulai bergerak. Dengan satu instruksi dari pemimpin, mereka menuju Masjid Besar Kauman, masjid tertua di Semarang.

Masjid Besar Kauman merupakan tempat para ulama berkumpul. Tradisi intelektual Islam terawat di sini. Seluruh fatwa bagi masyarakat Islam Nusantara, salah satunya harus mendapat pengesahan dari sidang majelis ulama di masjid ini. Fatwa ini akan dipakai, minimal oleh sebagian besar umat Islam di Semarang.

Iring-iringan pasukan dan warga menyertai rombongan tersebut. Terlihat pula sebentuk ornamen khas berbentuk hewan imajiner, yang diberi julukan Warak Ngendok.

Sejatinya, hewan ini tidak pernah ada di alam nyata. Badannya menyerupai kambing, sementara kepalanya merupakan kepala naga. Hewan itu tampaknya merupakan penggabungan kebudayaan antara Jawa dan Cina, dua etnis yang mendominasi penduduk Semarang.

Hewan ‘imajiner’ ini diarak dari Balai Kota menuju Masjid Agung Kauman, Semarang. Berbarengan dengan rombongan para pejabat kota. Iring-iringan disambut begitu meriah oleh para warga yang sudah sedari tadi menunggu di jalanan.

Rombongan ini mengakhiri perjalanan di Masjid Besar Kauman. Sesampai di sana, Walikota Semarang segera masuk ke dalam masjid dan menemui para ulama yang sudah berkumpul. Mereka kemudian terlibat perbincangan.

Sebelum kedatangan Walikota, para ulama telah mengadakan sidang khusus di akhir Sya’ban, menurut perhitungan kalender Hijriah. Sidang itu dihelat untuk melahirkan fatwa terkait kapan puasa Ramadan akan dilaksanakan. Hasil sidang itu disampaikan kepada Walikota untuk kemudian disampaikan kepada seluruh rakyat.

Setelah pertemuan dengan para ulama, Walikota Semarang menuju pelataran masjid. Di sana sudah menunggu para petugas yang sudah mendapatkan tugas khusus. Satu bersiap di dekat bedug, sementara yang lainnya bersiaga di dekat meriam.

Setelah berada di pelataran masjid, walikota kemudian memberikan pengumuman terkait keputusan para ulama soal awal puasa. Pengumuman itu dilakukan walikota dalam  bahasa Jawa.

Sesaat setelah pengumuman usai dibacakan, bedug segera ditabuh bertalu-talu, diiringi dentuman meriam memekakkan telinga. Dua alat itu menciptakan perpaduan suara ‘dug’ dan ‘der’. Hingga akhirnya masyarakat menamai tradisi unik itu dengan nama ‘Dugderan’.

***

Dugderan telah menjadi... 

1 dari 2 halaman

Ritual Penyatuan Penetapan Awal Puasa

Ritual Penyatuan Penetapan Awal Puasa

Dugderan telah menjadi tradisi yang selalu dilaksanakan untuk menyambut Ramadan. Tradisi ini berlangsung setahun sekali dan sudah berjalan selama lebih dari 100 tahun.

Adalah RMTA Purbaningrat, tokoh di balik tradisi ini. Dia adalah Bupati Semarang yang memerintah di masa kolonial. Tepatnya pada tahun 1.881, Dugderan pertama kali digelar sebagai bentuk komunikasi antara pemerintah dengan warganya dalam menetapkan awal puasa.

Penyelenggaraan Dugderan dilatarbelakangi adanya perbedaan penetapan awal Ramadan yang kerap terjadi di masyarakat kala itu. Banyak masyarakat berpuasa menuruti keyakinan kelompoknya masing-masing tentang awal Ramadan. Sehingga, perbedaan puasa kerap terjadi di kala itu.

Melihat hal ini, Purbaningrat berinisiatif untuk menyatukan perbedaan tersebut. Dia menunjuk para ulama dari masing-masing pihak untuk berkumpul dan membicarakan persoalan ini. Hasil musyawarah ulama ini akan menjadi patokan pelaksanaan puasa.

Sementara terkait bedug dan meriam, dua benda ini digunakan sebagai simbol penyatuan dua kebijakan antara ulama dan pemerintah. Bedug ditabuh di area masjid, sementara meriam berdentum di area kantor kabupaten. Berbunyinya dua benda ini menjadi pertanda sudah ada kesepakatan antara ulama dan pemerintah terkait awal Ramadan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini mengalami banyak perubahan. Di tahun-tahun awal, Dugderan hanya digelar satu hari sebelum awal Ramadan. Tetapi, saat ini Dugderan digelar selama 1-2 minggu sebelum Ramadan.

Suara ‘der’ yang berasal dari meriam pun telah diganti dengan bunyi bleduran. Bleduran merupakan alat menyerupai meriam terbuat dari kayu yang dilubangi di bagian tengah. Alat tersebut akan diisi air dan karbit. 

Untuk menghasilkan bunyi ledakan, karbit dimasukkan ke dalam air yang sudah ada di dalam bleduran. Lubang bleduran ditutup rapat, untuk mencegah gas hasil peleburan karbit menguap ke udara. Beberapa saat kemudian, lubang dibuka dan disulut api. Bleduran tersebut akan menimbulkan bunyi ledakan keras. Bersahut-sahutan.

***

Saat ini, Dugderan telah berkembang... 

2 dari 2 halaman

Bertransformasi Jadi Pesta Rakyat

Bertransformasi Jadi Pesta Rakyat

Saat ini, Dugderan telah berkembang menjadi ajang kreativitas masyarakat. Pemerintah Kota Semarang pun membuat Dugderan menjadi acara rutin pesta rakyat yang diwarnai sejumlah karnaval. 

Tidak hanya itu, pemerintah juga menggelar pasar rakyat. Selama dua pekan, para pedagang berkumpul di Lapangan Simpang Lima Semarang untuk menjual beragam barang dagangan. Alhasil, banyak masyarakat menjadikan Dugderan sebagai ajang untuk meraup rezeki.

Banyak dagangan mereka jual di sana. Menariknya, terdapat beberapa pedagang yang menjual barang-barang unik masa lalu. Salah satunya adanya mainan kapal othok-othok. Kapal kecil terbuat dari seng yang bisa bergerak berkat bantuan panas api dari kapas dan minyak tanah.

Alhasil, pasar rakyat Dugderan menjadi ajang bagi sebagian orang untuk bernostalgia dengan masa lalu. Mereka tidak susah mencari barang-barang, termasuk juga jajanan yang sudah jarang dijumpai. Meski demikian, tidak sedikit pedagang yang menjual barang-barang masa kini.

Hingga saat ini, pelaksanaan Dugderan tetap berpusat di Simpang Lima. Meski demikian, perayaan Dugderan juga dilaksanakan di Masjid Agung Jawa Tengah. Ini lantaran lahan di Simpang Lima semakin menyempit akibat banyaknya pembangunan. 

Sementara halaman Masjid Agung Jawa Tengah dinilai masih begitu luas dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal ini semata untuk mewadahi masyarakat agar tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi dengan berdagang.

Tradisi unik Dugderan selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Semarang sebelum datangnya Ramadan. Bagi mereka, berpuasa tanpa tradisi Dugderan terasa kurang meriah. Karena bagi umat Islam, Ramadan adalah bulan yang layak disambut dengan penuh kegembiraan. (eh)

(Sumber: dari berbagai sumber) 

Beri Komentar