Fakta di Balik Drama Mencekam 36 Jam di Mako Brimob

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Kamis, 10 Mei 2018 11:25
Fakta di Balik Drama Mencekam 36 Jam di Mako Brimob
Sebanyak 5 polisi gugur, 1 orang napi teroris tewas, dan 155 orang lainnya menyerahkan diri.

Dream - Drama 36 jam kerusuhan di ruang tahanan Mako Brimobol, Klapa Dua, Depok, Jawa Barat akhirnya berakhir. Wakapolri Komjen Syafruddin menegaskan Operasi penanggulanan berakhir tadi pagi, Kamis, 10 Mei 2018 sekitar pukul 07.15 WIB.

" Alhamdulillah kita dapat menanggulangi ini dengan meminimize korban. Operasi berakhir 7.15 tadi, sudah selesai," ujar Wakapolri dalam jumpa pers. 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto mengatakan, saat ini 155 napi teroris (Napiter) telah menyerah setelah melakukan kerusuhan di Rutan Cabang Salemba itu.

" Dengan SOP (standar operasional prosedur) internasional, aparat keamanan sebelum melakukan tindakan memberikan ultimatum, bukan negosiasi. Bahwa kita akan melaksanakan serbuan, mengambil risiko dengan serbuan dengan waktu tertentu," ujar Wiranto.

Berikut adalah fakta-fakta di balik 36 jam kerusuhan Mako Brimob:

1. Aksi Dimulai Sejak 7 Malam Kemarin

Napiter diketahui mulai berulah sejak Selasa (8 Mei 2018) kemarin sekitar pukul 19.00 WIB. Pemicunya soal makanan yang dikirim dari pihak keluarganya.

Napi teroris atas nama Wawan menjadi provokator kerusuhan berdarah ini.

2. Sandera 9 Polisi, 5 Diantaranya Meninggal

Aksi selama 36 jam oleh 156 Napiter itu menyandera 9 orang polisi. Lima orang diantara polisi itu gugur setelah dibunuh pada penghuni Rutan. Mereka adalah Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli dan Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho.

Sata kerusuhan berakhir, sebanyak 155 Napiter menyerahkan diri dan satu orang tewas. Napiter yang tewas setelah melakukan perlawanan itu adalah Abu Ibrahim alias Beny Syamsu. 

3. Tuntut Bertemu Otak Bom Thamrin?

Teroris Oman Rochman alias Aman Abdurrahman yang didakwa sebagai otak di balik bom Thamrin disebut-sebut pada kerusuhan napi terorisme di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Salah satu tuntutan para narapidana yang meyandera satu polisi di Mako Brimob itu adalah bertemu dengan Aman Abdurrahman.

" Kalau dibilang ada hubungan, kemarin memang mereka menuntut itu (bertemu Aman Abdurrahman). Tapi yang ini masalahnya karena masalah sepele," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, di Mako Brimob, Rabu, 9 Mei 2018.

4. Ada 30 Pucuk Senjata Disita

Yang mengejutkan, aksi kerusuhan tersebut melibatkan puluhan senjata yang disita dari para Napiter. Setidaknya ada 30 pucuk senjata yang disita aparat keamanan. 

Menurut Wiranto, senjata tersebut bukan senjata organik milik militer atau kepolisian. " Tetapi, hasil sitaan dari aparat keamanan saat operasi penanganan terorisme sebelumnya," terang Wiranto.

5. Napiter Akan Dipindahkan ke Nusakambangan?

Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan 155 Napiter yang menyerahkan diri takkan lagi menghuni Rutan Cabang Salemba yang berada di Mako Brimon. Rencananya, ratusan Napiter itu akan dipindahkan ke salah satu Lapas paling ketat, Nusakambangan. 

" (Nusakambangan) ada salah satu opsi. Yang di sini dikosongkan, karena mau dibenahi," ucap dia.

6. Menko Polhukam sebut aksi Napiter keji 

Menko Polhukam Wiranto menuding aksi yang dilakukan Napiter dengan menyandera bahkan membunuh lima Polisi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok sebagai tindakan di luar batas kemanusiaan.

" Mereka melakukan aksi menyandera, merampas senjata, menyiksa, bahkan membunuh dengan keji aparat keamanan dengan cara-cara yang keji di luar batas kemanusiaan," kata Wiranto. 

Pemerintah, kata Wiranto, memilih sikap tegas merespons aksi-aksi terorisme di Indonesia, tanpa toleransi dan tidak pandang bulu.

(Sah, Sumber: Liputan6.com)

Beri Komentar