Hukum Islam Menggunakan Skincare dari Bahan Lendir Siput

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 21 November 2022 06:00
Hukum Islam Menggunakan Skincare dari Bahan Lendir Siput
Untuk mendapat keberkahan, tentunya kita harus menggunakan skincare dengan cara yang baik dan produk yang halal.

Dream - Merawat kulit tubuh dan wajah merupakan salah satu sunah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Untuk mendapat keberkahan, tentunya kita harus menggunakan cara yang baik dan produk yang halal.

Kini banyak sekali produk perawatan kulit yang campuran bahannya terbuat dari lendir siput. Bahan tersebut diketahui bisa mengunci kelembapan kulit secara maksimal. Efeknya adalah kulit jadi kenyal dan glowing.

Lalu bagaimana hukumnya dalam Islam? Dikutip dari BincangSyariah, dalam kajian fikih, para ulama dari kalangan mazhab Syafi’iyah menetapkan bahwa semua cairan yang berasal dari hewan tapi tidak berasal dari bagian dalam (perut) maka dihukumi sesuai status hewan tersebut. Cairan yang tidak berasal dari dalam tubuh hewan seperti air liur, keringat, dan ingus dihukumi suci kecuali yang berasal dari anjing dan babi.

Maka dari itu, lendir siput dihukumi suci dan boleh dikenakan di tubuh manusia. Sebagaimana yang dikutip dari Ensiklopedia Fatwa Ulama Kuwait (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah),

Ensiklopedia Fatwa Ulama Kuwait© Bincang Syariah

Artinya: Ulama Syafiiyah berkata bahwa semua cairan yang keluar dari bagian dalam hewan dan ia tidak termasuk bagian dalam hewan tersebut, melainkan ia merembes saja seperti air liur, keringat dan ingus, maka hukumnya sama seperti hewannya. Jika hewannya najis, maka dihukumi najis, sebaliknya jika suci, maka dihukumi suci.

 

1 dari 3 halaman

Imam Nawawi, salah satu ulama Syafi’i juga menuliskan fatwanya dalam kitab al-Majmu’, bahwa cairan berupa keringat, ingus, lendir, dan air mata dari manusia dan hewan dihukumi suci kecuali yang berasal dari anjing dan babi.

Imam Nawawi© Bincang Syariah

Artinya: Ketahuilah bahwa tidak ada bedanya antara keringat, ludah, ingus, air mata dari orang junub, orang haid, orang yang suci dari keduanya, orang muslim, kafir, keledai, kuda, tikus dan semuanya hewan buas dan melata. Semuanya dihukumi suci selain dari anjing dan babi dan hewan yang lahir dari keduanya.

Dari kutipan dua fatwa di atas, maka kita bisa memahami, bahwa hukum lendir siput yang ada dalam skincare adalah suci dan halal untuk dipakai oleh muslim baik laki-laki maupun perempuan.

Selengkapnya baca di sini.

2 dari 3 halaman

Pakai Skincare yang Mengandung Alkohol, Bagaimana Hukumnya?

Dream - Tren penggunaan skincare di Indonesia kini naik pesat. Beragam produk pun bermunculan dengan berbagai formula. Salah satu bahan yang sering digunakan dalam skincare adalah alkohol.

Bagi para muslimah, mungkin ragu untuk menggunakan skincare yang beralkohol. Pasalnya, dalam Islam alkohol diharamkan. Bagaimana penjelasan hukum fikihnya? Dikutip dari Bincang Muslimah, hukum kenajisan alkohol berbeda di beberapa ulama fikih.

Pakai Skincare yang Mengandung Alkohol, Bagaimana Hukumnya?© MEN

Misal,beberapa ulama di kalangan empat mazhab mengatakan bahwa alkohol hukumnya najis. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa alkohol dikategorikan sebagai najis mugholadzoh. Begitu juga Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyebutkan bahwa alkohol hukumnya najis.

Sedangkan Imam asy-Syaukani menyatakan bahwa alkohol tidak najis, teks agama hanya menyebutkan keharamannya untuk dikonsumsi. Beliau menyatakan dalam kitab As-sailul Jarar bahwa makna rijsun pada ayat 90 dari surat al-Maidah adalah haram bukan najis:

kitab As-sailul Jarar© Bincang Muslimah

Artinya: tidak ada dalil yang kuat untuk menyokong pendapat yang menyatakan kenajisan sesuatu yang memabukkan. Adapun ayat “ Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”(Al-Maidah : 90). Kata rijsun disini bukan bermakna najis melainkan bermakna haram.

3 dari 3 halaman

Adapun terkait kandungan alkohol pada skincare, ada keterangan dari salah satu ulama fikih perbandingan, Abdurrahman al-Jaziri menyatakan dalam kitabnya, al-Fiqh ‘alaa Madzahib al-‘Arba’ah :

al-Fiqh alaa Madzahib al Arbaah© Bincang Muslimah


Termasuk najis yang ditoleransi adalah cairan-cairan najis yang dicampurkan untuk komposisi obat dan parfum. Cairan tersebut bisa ditoleransi dengan kadar yang memang diperlukan untuk komposisi yang seharusnya.

Jika melihat fatwa ini, kandungan alkohol pada skincare dengan konsentrasi rendah diperbolehkan dan demi kepentingan tertentu. Selain itu, penghukuman najis terhadap alkohol pun beragam, maka kandungan alkohol pada skincare hukumnya boleh.

Sumber: BincangMuslimah

Beri Komentar