Kamaruddin Simanjuntak Ungkap Dosa-Dosa Putri Candrawathi

Reporter : Nabila Hanum
Selasa, 20 September 2022 14:00
Kamaruddin Simanjuntak Ungkap Dosa-Dosa Putri Candrawathi
Kamaruddin mengungkap bahwa ada dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan Putri Candrawathi untuk melancarkan kebohongannya tersebut.

Dream - Pengacara keluarga Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat, Kamaruddin Simanjuntak, mengungkap dosa-dosa yang dilakukan Putri Chandrawati. Dia menilai istri Ferdy Sambo itu terlibat merancang pembunuhan berencana anak kliennya, hingga dugaan melakukan tindak pidana korupsi.

Menurut Kamaruddin, selama ini ada upaya dari Putri Candrawathi memperkuat isu dugaan pelecehan seksual agar terbebas dari hukuman.

Meskipun Putri sudah ditetapkan sebagai tersangka, hingga kini belum ditahan karena alasan kemanusiaan. Hal itulah yang menjadi peluang Putri terbebas dari hukuman.

1 dari 10 halaman

Menurut dia, Putri juga terlibat dalam kasus obstruction of justice atau menghalang-halangi proses penegakan hukum.

Putri bisa terlibat dalam obstruction of justice lantaran ia mengemban status sebagai Bhayangkari lantaran menjadi istri Ferdy Sambo.

" Nah, dia istri penegak hukum dia juga punya kewajiban moral memelihara norma-norma hukum," kata Kamaruddin dalam tayangan di Youtube Irma Hutabarat.

2 dari 10 halaman

Kamaruddin juga menyebut Putri sebagai pelaku penyebar kebohongan karena awalnya melaporkan tindak pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J sebelum terjadi aksi baku tembak.

Namun kemudian hal itu berubah menjadi tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh Brigadir J kepada Putri.

Aduannya itu langsung dibuat laporan tanpa penyidikan, tanpa bukti dan saksi. Padahal, menurut Kamaruddin, untuk pelaporan tindakan pemerkosaan itu harus dilengkapi dengan syarat minimal ada dua saksi hingga visum et repertum.

3 dari 10 halaman

" Kalau orang dilecehkan harus ada visum er repertum apakah ada kerusakan di dalam organ kewanitaannya," ujarnya.

Tidak cukup sampai disitu, Kamaruddin juga mengungkap bahwa ada dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Putri Candrawathi untuk melancarkan kebohongannya tersebut.

" Dia melakukan dugaan tindak pidana korupsi, yaitu menyuap anggota Polri, menyuap petugas LPSK, dan yang lain-lain disuap termasuk menyuap para tersangka," ungkapnya.

Kamaruddin menyayangkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang hanya diam ketika muncul dugaan tindak pidana korupsi pada kasus pembunuhan Brigadir J.

" Ada yang Rp550 juta, ada yang Rp1 miliar tapi sangat kita sayangkan KPK tidak berbuat apa-apa KPK hanya menonton harusnya kan tangkap, tahan untuk dugaan tindak pidana korupsi," ujarnya.

Soal percobaan penyuapan itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, perbah membeberkan beberapa fakta.

Kata Mahfud MD, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), disebut pernah disodori dua amplop saat mengunjungi Putri Candrawathi.

Mahfud MD mengungkap dua amplop itu berwarna cokelat dan berukuran tebal ditawarkan kepada tim LPSK usai melakukan pemeriksaan Putri.

" Dari rumah itu dikasih amplop cokelat dua, tebel-tebel," katanya dikutip dari YouTube Liputan 6.

" Ya orang tahu lah kalau amplop cokelat itu isinya apa," lanjutnya.

Tim LPSK sendiri tidak menerima amplop yang disodorkan itu. Mahfud MD yakin amplop tebal tersebut berisi uang.

" Ya pasti duit, tapi dikembalikan," ujar Mahfud MD.

4 dari 10 halaman

5 dari 10 halaman

Ayah Brigadir J Akui Menyerah: Sudahlah, Toh Anak Saya Nggak Bisa Kembali

Dream - Proses hukum kasus pembunuhan berencana Brigadir J yang diotaki oleh mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo masih terus berlanjut. Setelah hampir tiga bulan, kasus tersebut belum naik ke persidangan.

Penasihat hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak pun mengaku kecewa dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kamaruddin lantas melontarkan permohonan maaf kepada publik serta pihak keluarga.

Seperti yang tampak dalam video yang diunggah akun TikTok @tobellyboy, Kamaruddin secara langsung meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia.

6 dari 10 halaman

" Saya betul-betul minta maaf, saya juga sudah berjuang dengan mengorbankan segalanya baik pikiran, materi, maupun waktu. Saya men delay semua perkara ini tapi saya tidak bermaksud untuk mengungkit-ungkit perkara itu," katanya

Kamarudin juga mengaku kecewa dengan sikap Jokowi. Meski telah memberi perintah kepada Polri untuk mengusut kasus seterang-terangnya, namun Jokowi tak ada sikap tegas yang seolah menjadi harapan Kamaruddin.

" Tetapi karena Presiden tidak mau berbuat sesuatu, maka pada akhirnya... Walaupun dia mengatakan buka seterang-terangnya, memang kita akui dia mengatakan itu empat kali," imbuhnya.

7 dari 10 halaman

Kamaruddin kesal, proses hukum para tersangka tak juga menemui akhir. Hingga tiga bulan, belum ada titik terang.

" Sudah tiga bulan perkara ini dari Juli Agustus September, perkara tidak terang-terang. Padahal saya katakan dulu kalau saya yang menjadi penyidik, setengah hari saya garap selesai, tidak sampai seminggu. Itulah kecerdasan saya," kata Kamaruddin.

" Tapi karena Presiden membiarkan Polri terjebak dalam lumpur itu, akhirnya mereka sampai hari ini tidak bisa keluar," imbuhnya.

8 dari 10 halaman

Kamaruddin juga membeberkan kondisi keluarga Brigadir J. Menurutnya orangtua Brigadir J menyebut kasus ini selesai karena tidak ada kemajuan.

" Oleh karena itu, saya selaku penasihat hukum menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga Indonesia karena tidak mampu memenuhi harapan masyarakat. Kemudian saya juga memohon maaf sama keluarga karena Pak Samuel sebagai orangtua dari almarhum sudah menyatakan selesai," ungkapnya.

Bahkan, katanya, ayah Brigadir J, Samuel Hutabarat mengaku merasa lelah dengan proses hukum yang tak kunjung usai.

" Kemarin ketika saya ke Jambi, beliau berpesan 'sudah pak, sudah cukup pak kami sudah capek pak. Kami yang mengikuti saja sudah capek, apalagi bapak yang melakukannya'," ujar Kamaruddin.

9 dari 10 halaman

Samuel Hutabarat kini pasrah dan tak berharap banyak atas proses hukum yang menewaskan sang putra. Dari banyaknya tahapan hukum yang bakal dilakoni para tersangka disebutnya tak akan mengembalikan nyawa Brigadir J.

" Mereka mengatakan 'sudah lah, nanti akan ada hukum alam yaitu hukum dari Tuhan'. Kami dibebani Polisi yang tidak mampu. Polisi dan Jaksa Agung hanya muter-muter di situ saja. Klien kami juga sudah memberi lima surat kuasa," ceritanya.

" Jadi mereka berpendapat sudah lah toh anak saya tidak bisa hidup kembali katanya," ungkap Kamaruddin.

Kendati demikian, Kamaruddin menyampaikan jika pihak ibunda beserta bibi dari mendiang hingga kini masih menginginkan keadilan hukum bagi para tersangka.

" Tetapi istri dari beliau dan adik-adik masih bersemangat tapi Samuel sudah lelah dengan melihat kinerja Kepolisian RI dan sibuk terus mendoktrin masyarakat adalah pelaku kekerasan seksual. Terlebih ketika Polri mengusir kami dari lokasi rekonstruksi kemarin," ungkapnya.

Beri Komentar