Kerumitan Teori Relativitas Einstein Terpecahkan

Reporter : Sandy Mahaputra
Minggu, 29 November 2015 20:05
Kerumitan Teori Relativitas Einstein Terpecahkan
Gadis muda ini telah mempermudah pemahaman kita tentang teori relativitas dengan menggunakan kotak, kelereng dan buah jeruk.

Dream - Pekan ini adalah 100 tahun kelahiran teori relativitas yang diciptakan oleh Albert Einstein.

Teori relativitas adalah teori tentang ruang waktu dan gravitasi yang merevolusi pemahaman kita tentang bagaimana alam semesta bekerja.

Tetapi diakui, kita mungkin akan merasa kesulitan ketika harus menjabarkan teori tersebut. Masalahnya, tidak semua orang bisa menguasai ilmu fisika yang menjadi dasar teori relativitas.

Namun tidak demikian dengan seorang gadis muda jenis bernama Tavleen Kaur Wasan dari Inggris. Gadis muda berusia 15 tahun ini dengan mudahnya menjabarkan teori relativitas saat diwawancarai oleh Huffington Post UK.

Kerumitan Teori Relativitas Einstein Terpecahkan© Huffington Post UK

Dia telah mempermudah pemahaman kita tentang teori relativitas dengan menggunakan kotak, kelereng dan buah jeruk.

Dalam video wawancara, Tavleen menggunakan sepotong kain yang dibentangkan di atas kotak hitam yang mewakili ruang waktu. Dia menjelaskan bagaimana ruang waktu memengaruhi gravitasi.

Dalam eksperimennya, Taveleen menggunakan kelereng untuk mewakili bulan dan jeruk untuk menggambarkan bumi.

Lekukan yang dibuat setiap objek pada kain ruang-waktu adalah cara yang brilian untuk memvisualisasikan apa yang Einstein maksud tentang yang terjadi di alam semesta.

Dia kemudian melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana konsep membengkokkan ruang-waktu dapat diartikan sebagai blackhole.

1 dari 3 halaman

Usia 12 Tahun, Kecerdasan Anak Ini Lampaui Einstein-Hawking

Dream - Selama ini kita hanya tahu bahwa manusia paling pintar dengan IQ atau kecerdasan intelektual tinggi hanyalah Albert Einstein dan Stephen Hawking.

Namun Nicole Barr, dari Harlow, Essex, Inggris berhasil mendapatkan skor 162 dalam tes IQ. Hasil tersebut dua poin lebih unggul dari dua orang paling jenius di dunia, yakni Albert Einstein dan Stephen Hawking.

Dengan demikian, gadis yang masih berusia 12 tahun ini memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari orang-orang paling cerdas di dunia.

Ibunya, Dolly Buckland, 34, mengatakan dia sangat bangga padanya. " Dia adalah gadis pekerja keras. Dia selalu mengikuti pelajaran tambahan di sekolah dan tidak pernah melewatkan satu hari pun," kata Buckland.

Dolly menambahkan sejak masih kecil putrinya sering menemukan banyak kesalahan dalam buku dan majalah. Nicole adalah gadis yang suka meminta pelajaran tambahan.

" Dia bertekad untuk menyelesaikan studinya dan ingin menjadi seorang dokter anak."

Nilai rata-rata IQ orang dewasa adalah 100, sementara jika skor berada di atas 140 maka dianggap jenius.

" Aku tidak menduga bisa mendapat skor yang sangat tinggi," kata Nicole yang saat ini sudah masuk kelas 7.

Gadis yang sekolah di Burnt Mill Academy, Harlow ini sangat suka membaca, menyanyi dan bermain drama.

Ayahnya, James Buckland, 36, yang bekerja sebagai pembersih selokan dan jalanan, mengaku sangat terkejut dengan skor IQ yang diraih putrinya pada Kamis lalu.

James, yang sudah berpisah dari istrinya, Dolly, mengatakan merasa bangga dengan prestasi yang diraih Nicole meski hanya melihatnya dari berita yang tersebar luas di media sosial, khususnya Facebook.

Kecerdasan Nicole terlihat saat di sekolah dasar, dia mampu menyelesaikan aljabar kompleks sebelum usia sepuluh tahun.

2 dari 3 halaman

Ilmuwan Muslim Pesaing Einstein

Dream - Bicara soal ilmuwan muslim hebat di abad 21, kurang lengkap jika tidak membahas Nima Arkani-Hamed. Pria kelahiran Huston, 5 April 1972 ini tersohor di kalangan fisikawan dunia lewat beberapa temuannya. Bahkan, dia digadang-gadang menjadi pesaing Albert Einstein.

Sejak kecil Arkani sudah menyukai fisika. Maklum saja ayah dan ibunya yang merupakan warga Iran adalah fisikawan. Namanya mulai melambung sejak ia mempelajari teori dawai atau string theory.

Teori dawai ini muncul di tahun 1980-an sebagai pendekatan memahami sejumlah hal yang belum terjawab oleh fisika konvensional, misalnya gravitasi yang lemah. Teori ini diharapkan menjadi " Teori Segala Sesuatu" yakni, segala sesuatu terdiri dari untaian miliaran-miliaran dawai lebih kecil dari inti atom.

Sayangnya, dawai-dawai ini sebegitu kecilnya. Tak seperti inti atom yang mudah digambarkan, sehingga teori ini terkesan lebih filsafati daripada fisika.

Begitu lulus S1 fisika di Universitas Toronto, dengan gelar kehormatan ganda fisika dan matematika pada 1993. Dia mulai mendalami teori kuantum yang mendasari teori dawai.

Ia kemudian melanjutkan kuliah sampai meraih gelar PhD dari University of California Berkeley di tahun 1997. Selang empat tahun kemudian, Nima pindah meneliti di Universitas Harvard. Pada 2003 dia mendapatkan Gribov Medal dari Masyarakat Fisika Eropa dan di 2005, ia meraih 'Phi Beta Kappa' dari Universitas Harvard karena mengajar dengan terpuji.

Di 2008, Universitas Princeton 'membajaknya' dari Harvard untuk duduk di Institute of Advanced Studies, sebuah posisi yang pernah ditempati Albert Einstein, pada 1935-1955.

Arkani berhasil menorehkan namanya dalam tinta emas di bidang fisika partikel lewat teori revolusioner yang diusungnya tentang fungsi alam semesta. Jika terbukti benar, itu akan menjadi tambahan baru pertama bagi teori fisika partikel sejak Albert Einstein merevolusi bidang itu beberapa dekade lalu.

Situs Ground Report melaporkan, akselerator partikel terbesar yang sedang dibangun di Swiss telah menghabiskan dana antara US$5-10 miliar. Dan Arkani, fisikawan keturunan Iran, sedang menunggu kejeniusannya diuji.

Partikel memiliki perilaku yang kompleks dan membawa energi sedemikian rupa, sehingga sangat sulit untuk menentukan kecepatan dan posisi partikel pada waktu yang sama.

Baru-baru ini sebuah teori yang disebut teori superstring berusaha menjelaskan bahwa partikel bukanlah bentuk terkecil di dunia tetapi sebuah loop bergetar berukuran kecil yang disebut string. String tersebut bergetar di dalam 11 dimensi. Manusia hanya bisa mengenali tiga, termasuk dimensi waktu, dari 7 dimensi yang ada.

Arkani bersama ahli fisika Dimopoulos dan Dvali menyatakan bahwa beberapa model dimensi ini lebih besar dari yang diasumsikan, yang disebut model ADD (Arkani-Dimopoulos-Dvali). Sayangnya dimensi ini tidak bisa diamati karena dilindungi oleh kekuatan gravitasi. Mereka yakin bahwa pemecah partikel Hadron Collider akan dapat membantu dalam menjawab teori-teori tersebut.

3 dari 3 halaman

Zahra Haghani, Ilmuwan Berhijab Calon `Einstein` Masa Depan

Dream - Rasanya sulit disangkal Einstein adalah seorang ilmuwan yang begitu hebat. Hingga saat ini, belum ada teori yang sanggup meruntuhkan teori 'Relativitas' miliknya.

Banyak teori Einstein yang dulu dianggap sulit dibuktikan, sekarang ini justru banyak terbukti dalam riset. Semua prediksi yang dihasilkannya terbukti akurat.

Misalnya, di tahun 1916, Einstein berteori yang menyebut pulsar akan menarik bintang katai putih dengan kecepatan mengorbit 7 mm per hari. Di tahun 2003, para ilmuwan menemukan fakta sistem pulsar menarik bintang katai putih dengan kecepatan mendekati 7 mm per hari.

Begitu akuratnya teori yang dibangun Einstein, hingga teori itu belum pernah terbantahkan. Tetapi, Einstein sudah lama meninggal dan belum ada sosok ilmuwan yang bisa menyamainya.

Lantas, siapa yang akan menjadi sosok seperti Einstein di masa depan? Untuk dapat menemukan sosok pengganti, Sprrho menggunakan teknologinya sendiri untuk mendaftar siapa saja ilmuwan yang menulis topik serupa dengan teori Einstein.

Sprrho merupakan perusahaan analis di Inggris yang dipimpin oleh Vivian Chan. Bekerjasama dengan British Library, Sprrho menganalisis data ilmuwan yang pernah menulis serupa dengan teori Einstein. Terkumpullah banyak data, mulai tahun 1890 hingga sekarang.

Dari sekian banyak nama, Zahra Haghani muncul begitu dominan. Ilmuwan wanita berhijab asal Iran ini membuat karya ilmiah berjudul 'Matter May Matter'. Teori dalam karya tersebut dinilai mendekati teori-teori yang diciptakan Einstein.

Haghani saat ini menjabat sebagai asisten profesor di Damghan University, Iran. Gelar doktoral diraihnya pada tahun 2013 dari universitas lokal, Shadid Beheshti University.

Haghani telah banyak membuat tulisan ilmiah. Sebagian besar karyanya menjadi rujukan para ilmuwan lain dalam riset fisika.

(Ism, Sumber: forbes.com)

Beri Komentar