Kisah Cinta di Tengah Perang

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 14 Maret 2022 19:29
Kisah Cinta di Tengah Perang
“Konflik ini seperti ketika ibu dan ayahmu bertengkar.”

Dream - Dia gadis berusia 17 tahun. Sedang menempuh sekolah menengah atas di Sochi, sebuah kota di Rusia yang memanjang di bibir pantai laut hitam. Sochi adalah kota yang elok. Biru laut hitam jadi halaman, dengan barisan gunung bersalju jadi dinding kota. Kota ini adalah perkawinan masa silam dan masa depan. Penuh legenda kuno, tapi berpendar lampu moderen di hari malam.

Sochi adalah tuan rumah olimpiade musim dingin tahun 2014. Jadi tuan rumah Grand Prix Formula-1 tahun 2014, sirkuit balap mereka sungguh megah. Dan nama gadis yang kita ceritakan ini adalah Tatyana E., seorang remaja di kota berpenduduk sekitar 400 ribu jiwa itu.

Namanya perlu kita taruh dalam tulisan ini, karena kisah wanita muda ini adalah cerita tentang cinta yang terjebak dalam begitu belitnya hubungan kedua negara serumpun ini: Rusia dan Ukraina. Tatyana mencintai seorang pemuda Ukraina. Namanya Pavel Grib, berusia 19 tahun dan menjadi mahasiswa Filsafat di Kiev, ibu negeri Ukraina. Kisah cinta mereka ramai diulas media tahun 2017, di tengah hubungan kedua negara yang saat itu sudah bagai bara dalam sekam.

Romansa dua anak muda ini, sebagaimana dikisahkan Aljazeera bermula dari jejaring media sosial Rusia VKontakte. Mereka berkenalan pada Januari 2017. Sekian lama berkenalan, keduanya menemukan kesamaan. Sama-sama terpesona oleh sejarah kehidupan Stepan Andriyovych Bandera, seorang pemimpin dan ideolog kelompok ultranasionalis Ukrania. Cinta dan kesamaan itu pula yang membuat Tatyana suka membaca buku tentang nasionalisme Ukraina.

Keduanya jatuh cinta, lalu menyusun rencana, tinggal bersama di Ukraina, berlatih sebagai sukarelawan di kamp militer, kemudian pergi ke Donbas untuk melawan kelompok yang mereka sebut sebagai separatis dan disokong Rusia.

Namun ketika Tatyana sedang mengurus paspor, dia mendapat kunjungan mendadak dari agen FSB, unit intelijen dalam negeri Rusia, lembaga penerus KGB. Remaja yang sedang jatuh cinta itu diminta kerjasama dengan FSB. Dia diminta untuk tetap bertemu sang kekasih.

Pertemuan itu kemudian berlangsung di Gomel, sebuah kota di Belarusia, di bawah pengawasan Ibu Tatyana. Pertemuan berlangsung cepat, mereka hanya punya waktu sedikit untuk saling berpelukan dan menyepakati rencana untuk masa depan. Tapi masa depan itu tak pernah ada. Sebab tak lama setelah mereka berpisah, Pavel diculik dan kemudian dipindahkan ke Rusia, dan lalu menghadapi tuduhan " terorisme" .

Kisah kedua anak muda ini memang laksana plot sebuah adegan film. Rincian kisah mereka sempat diungkap oleh media Ukraina, Hromadskoe, dan surat kabar Rusia, Novaya Gazeta, yang menyelidiki hilangnya Pavel secara misterius di Belarusia dan kemunculannya kembali sebagai tahanan di kota Krasnodar, Rusia.

Pihak berwenang Belarusia membantah pernah menahan Pavel, tetapi mengakui bahwa Rusia telah memasukkannya ke dalam daftar " orang yang dicari" . Pada 13 September 2017, hampir tiga minggu setelah dia menghilang, pihak berwenang Rusia akhirnya mengakui bahwa Pavel sedang dikerangkeng.  

Pemerintah Rusia sat itu tidak mengomentari cerita Pavel dan Tatyana. Pemerintah Ukraina saat itu menyerahkan nota protes resmi ke Moskow dan menuntut agar Pavel segera dibebaskan, tetapi upaya itu membentur tembok kebekuan hubungan kedua negara.

Pavel Grib

(Pavel Grib/CK)

Pada 18 Oktober, pengadilan Krasnodar memperpanjang penahanannya hingga Januari 2018. Pavel didakwa merencanakan “ serangan teroris.” Dia  dituduh merayu Tatyana untuk menaruh bom di sekolahnya. Pada 22 Maret 2019, pengadilan militer di Rostov, Rusia, menjatuhkan hukuman pada Pavel Grib enam tahun penjara, karena merencanakan serangan bom. Kisah kedua anak muda ini ditutup di situ.

***

Di tengah membaranya hubungan kedua negara, dan meledak dalam bentuk perang terbuka yang menghancurkan kota-kota dan membunuh ratusan orang, Rusia dan Ukraina sesungguhnya tidak pernah kehilangan cinta. Setidaknya untuk sekian warga negara mereka. Banyak romansa, banyak kisah cinta, hidup serumah antara warga kedua negara.

Dengarlah cerita dari Oksana Yushko, seorang fotografer Rusia. Oksana lewat serial fotografinya memperlihatkan kepada dunia bahwa cinta lebih kuat daripada propaganda kebencian kedua negara, setelah meletus perang Rusia-Ukrania tahun 2014.

Sebagaimana dikutip Deutche Welle, Oksana berkisah soal keluarganya. " Ibu saya lahir di Rusia, dan ayah saya lahir di Ukraina. Keduanya ilmuwan dan mereka telah bersama selama hampir lima dekade. Saya sendiri tidak pernah percaya apa pun yang memisahkan Rusia dan Ukraina. Saya tidak melihat perbedaan apa pun."

Gagasan membuat serial foto itu, bermula ketika dia mengunjungi kedua orang tuanya. Dia memotret ayah ibunya, lalu mengunggah ke laman Facebook. Dia ingin mengirim pesan kepada kawan-kawannya dari kedua negara untuk saling mendengarkan dan memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk perdamaian. “ Cinta itu seperti seni dan musik,  tidak memiliki batas," kata Oksana Yushko.

Lina dan Vitya

(Lina dan Vitya/DW)

Berbekal kisah ayah dan ibunya, dia kemudian memuat serial foto-foto warga Rusia dan Ukraina yang saling jatuh cinta dan menikah. Di antaranya adalah kisah Lina dan Vitya, orang tuanya sendiri. Pada foto-foto itu dia membubuhkan catatan, “ Ibuku orang Rusia, ayahku orang Ukraina. Mereka bertemu di Universitas Negeri Kharkov dan telah hidup bersama selama lebih dari 50 tahun.”

Selain foto kedua orang tuanya, dia juga memuat foto Olga dan Vladimir. Vladimir adalah seniman kontemporer Rusia, sementara Olga adalah seorang ballerina kelahiran Kirovogradskaya, Ukraina. Mereka tinggal bersama di Khimki, Rusia, dengan bayi mereka yang baru lahir.

Lalu, ada juga kisah Yulia dan Edik. Yulia yang lahir di Ukraina dan Edik yang lahir di Rusia, adalah pengungsi dari Donbass dan tinggal di Moskow bersama putra mereka yang berusia empat tahun bernama Dima. Keduanya memiliki kerabat di Rusia dan Ukraina. Demi putera mereka, pasangan itu memutuskan untuk melarikan diri dari perang dan pindah ke Moskow.

Kisah cinta yang lain datang dari Dima dan Sasha. Dima berasal dari Rusia, Sasha lahir di Ukraina. Sasha adalah anggota Femen dan pertama kali mereka bertemu adalah ketika Dima, yang bekerja sebagai fotografer, datang untuk membuat laporan tentang Femen di Kiev untuk New York Times. Sejak itu mereka menjalin hubungan. Beberapa waktu kemudian Sasha meninggalkan Ukraina dan meminta suaka politik di Prancis. Sejak itu Dima dan Sasha tinggal di Paris.

Dima dan Sasha

(Dima dan Sasha/DW)

Juga ada kisah cinta Dima dan Vlada. Dima lahir di Moskow, Rusia. Vlada berasal dari Kiev, Ukraina. Mereka bertemu di Georgia dan memiliki hubungan jarak jauh pada awalnya. Akhirnya, pasangan itu memutuskan untuk tinggal bersama di Amerika Serikat, di mana mereka memiliki bayi bernama Lev setahun yang lalu.

Cerita cinta yang lain datang dari Maksim dan Darya. Kisah cinta Darya yang berasal dari Ukraina dan Maksim yang berasal dari Rusia dimulai pada suatu hari musim panas di Voronezh, Rusia. Cinta bersemi karena sering bertemu. Memakai  layanan berbagi tumpangan yang sama, mereka menghabiskan tujuh jam bersama. Maxim mengatakan itu adalah cinta pada pandangan pertama.

Ada juga kisah cinta Valery dan Sveta. Valery berasal dari Odessa, Ukraina. Sveta lahir di Saint Petersburg, Rusia. Mereka bertemu di Odessa ketika Sveta datang mengunjungi temannya. Mereka awalnya menjadi teman, tetapi setahun kemudian mereka menikah. Keduanya sama-sama  tertarik pada yoga, budaya yang berbeda, dan hal-hal esoteris. Mereka tinggal  di apartemen kecil mereka di Saint Petersburg, Rusia.

Yang terakhir adalah kisah cinta Sasha dan Lena. Alexander Sasha berasal dari Krasnodar, Rusia. Lena lahir di Kiev, Ukraina. Mereka bertemu saat liburan di Yunani pada 2013, beberapa bulan sebelum demonstrasi Euromaidan dimulai di Kiev. Setelah menghabiskan sepanjang hari bersama, itu membuat mereka memikirkan satu sama lain. Setahun kemudian Lena pindah ke Moskow untuk tinggal bersama Alexander. Hubungan mereka kian kuat setelah kedua negara saling gempur.  

***

Rusia dan Ukraina memang memiliki sejarah kekerabatan yang panjang, yang jika dirunut sungguh jauh lebih panjang dari kisah perseteruan para elit politik mereka. Lantaran memiki sejarah kekerabatan yang panjang itu, hubungan darah antara warga kedua negara sangat kuat. Banyak warga Rusia yang memiliki kerabat di Ukraina, dan begitu pula sebaliknya.

Dalam jajak pendapat tahun 2011, setidaknya 49 persen orang Ukraina mengaku bahwa mereka memiliki kerabat di Rusia. Dan menurut sebuah penelitian pada tahun 2015, sekitar 2,6 juta warga Ukraina tinggal di Rusia.

Perang, dan juga agitasi kedua kubu kepada warganya masing-masing menyebabkan mereka yang memiliki pertalian darah serta kerabat ini menjadi ketakutan. Dengarlah kisah Nina Ryakhovskaya, yang tumbuh bersama sepupunya yang lebih muda, di kota Volgograd, Rusia. Mereka pernah tinggal bersama nenek mereka, dan menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil bersama. Hidup kemudian membawa mereka ke dua sisi yang saling bertempur

Sekarang Nina berusia 40 tahun, dan tinggal di Kiev dengan suaminya asli Ukraina. Begitu pasukan Rusia mengempur kota-kota di Ukraina, Nina Ryakhovskaya menelepon sang sepupu di Volgograd dan  memberitahunya bahwa Rusia sedang menginvasi Ukraina. Sang sepupu  tidak percaya soal invasi itu dan berusaha meyakinkan Nina bahwa Rusia hanya melakukan operasi melawan Nazi di kota-kota itu.

“ Itu membuat saya merasa seperti kita bakal menjadi jauh selamanya,” kata Nina dalam panggilan video dengan The New York Times dari sebuah rumah di pedesaan dekat Kiev, tempat dia melarikan diri bersama suami dan putranya yang berusia tujuh tahun.

Di negeri orang, warga diaspora kedua negara, banyak yang menyesalkan dan juga kebingungan dengan perang ini, lantaran mereka masih kerabat, atau dilahirkan dari ayah Ukraina dan Ibu Rusia, atau sebaliknya. “ Saya memiliki sepupu di kedua negara,” kata Dan Hubbard, seorang profesor di University of Mary Washington di Virginia. " Saya takut mereka saling membunuh."

Hubbard, 64 tahun, dibesarkan di Amerika Serikat oleh ibunya yang berdarah Rusia, dan nenek dari pihak ayahnya yang berasal dari Ukraina. Dia dengan senang berbagi kisah tentang bagaimana kedua wanita itu biasa berbagi pai kubis buatan sendiri sambil bermain kartu dan mengolok-olok logat satu sama lain.

Saat ini, beberapa anggota keluarganya tinggal di dekat Moskow dan yang lainnya berada di pinggiran Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina, yang sekarang tengah dikepung oleh pasukan Rusia. Para sepupu Rusia dan Ukrainanya cukup tua untuk mendaftar menjadi tentara. Hubbard mengatakan dia  berusaha untuk menghindari berita karena menyebabkan hatinya merasa sakit. " Sepupuku saling membunuh karena fantasi orang gila," katanya.

Zoya, 25 tahun, seorang asisten di sebuah perusahaan kosmetik di St. Petersburg, Rusia, adalah remaja dari ibu Rusia dan ayah Ukraina. Dia dibesarkan di dekat Moskow, tetapi nenek dari pihak ayah berbicara dengannya dalam bahasa Ukraina, membaca puisi Ukraina, dan menyanyikan lagu-lagu Ukraina yang merdu.

Perseteruan antara Rusia dan Ukraina ini membuatnya kebingunggan. Bingung pilih yang mana, sebab seharusnya memang tidak memilih. “ Konflik ini seperti ketika ibu dan ayahmu bertengkar.” (wm)

Beri Komentar