Kisah Gareth Jones, Jurnalis yang Dibunuh KGB Usai Mewartakan Kelaparan Massal di Ukrania

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 14 Maret 2022 18:33
Kisah Gareth Jones, Jurnalis  yang Dibunuh KGB Usai Mewartakan Kelaparan Massal di Ukrania
Ia dibunuh sebelum ulang tahunnya yang ke 30.

Dream – Roket Rusia terus-menerus terbang, memecah malam pekat di ibukota Ukrania, Kiev, pekan lalu. Dentuman hebat sambung-menyambung, Membuat warga yang bertahan di ibu kota itu terteror hebat.

Penyerbuan besar-besaran tentara Rusia ke Ukrania itu, seolah membuka kembali luka lama warga Ukrania. Salah satunya episode " Holodomor," atau kelaparan massal rakyat Ukrania di era Joseph Stalin, yang menyebabkan jutaan rakyat Ukrania tewas di era Uni Sovyet.

Yang menarik, yang mengungkapkan pertama kali kisah kelaparan massal warga Ukrania itu ke mata dunia adalah Gareth Jones, jurnalis asal Inggris.

Cerita  tentang Gareth Jones itu tertuang dalam film “ Mr Jones.” Film keluaran tahun 2019 ini berangkat dari kisah nyata seorang wartawan idealis yang mati muda akibat liputannya.

Film Mr Jones© Youtube

Film ini memang merupakan kisah nyata Gareth Jones, seorang jurnalis dari Wales, Inggris, yang meliput kelaparan dan kematian massal pada tahun 1932-1933 di Ukraina, atau dikenal sebagai " Holodomor" , ketika jutaan orang tewas kelaparan akibat program modernisasi pertanian diktaktor Uni Sovyet saat itu, Joseph Stalin.

Film yang berangkat dari kisah nyata pria kelahiran 13 Agustus 1905 itu awalnya menunjukkan Jones memang seorang jurnalis muda berprestasi. Ia pernah mewawancarai Adolf Hitler dan sudah meramalkan diktaktor itu akan mewujudkan impiannya tentang Jerman yang perkasa.

Karena tulisan itu pula, Jones kemudian direkrut menjadi penasehat luar negeri Inggris di masa Perdana Menteri David Lloyd George, yang kebetulan sama-sama berasal dari Wales.

Setelah mewawancarai Hitler dan diangkat menjadi penasehat luar negeri, nasehatnya sebagai anak muda ke pejabat Kementerian Luar Negeri Inggris kerap diremehkan.

Sampai akhirnya dia diberhentikan setelah anggaran kantornya dibabat habis. Pada saat itulah, dia punya rencana  pergi ke Uni Sovyet.

Keinginannya ke Uni Sovyet awalnya didorong karena dia ingin melakukan wawancara eksklusif dengan Joseph Stalin untuk mempertanyakan kesuksesan program modernisasi pertanian yang digembar-gemborkan media Barat, termasuk oleh kepala koresponden The New York Times di Sovyet bernama Walter Duranty, seorang warga Amerika, yang meraih hadiah bergengsi " Pulitzer" atas liputannya tentang Uni Sovyet.

Tetapi saat tiba di Sovyet, Jones baru tahu tak mudah mewawancarai Joseph Stalin. Ia juga terkejut kawan yang membantunya mewawancarai Adolf Hitler terbunuh di depan Hotel Metropol, hotel yang biasa digunakan untuk koresponden asing di ibukota Sovyet, Moscow. Ia juga melihat ada pembatasan liputan. Ada aturan semua koresponden asing tak boleh keluar dari ibu kota Moscow.

Dari seorang wartawan perempuan The New York Times, dia baru tahu kawannya yang tewas dibunuh itu hendak pergi keluar Moscow. Kawannya ingin melihat Ukraina, salah satu lumbung gandum yang dibanggakan Stalin.

Dengan sedikit tipuan, Jones berhasil meyakinkan pejabat Sovyet untuk membawanya ke Ukraina, salah satu negara satelit Sovyet. Setelah sampai dia memutuskan memisahkan diri untuk melihat kondisi nyata Ukraina.

Di situlah dia melihat situasi nyata dan memilukan tentang jutaan orang yang mati di salju karena kelaparan. Sampai-sampai anak-anak di sana memplesetkan lagu " Malam Kudus" atau " Silent Night" dengan syair kata-kata menusuk dan memilukan: " Lapar dan  dingin, Di rumah kami, Tak ada yang bisa dimakan, Tak bisa tidur,  Dan tetangga kami, Ia sudah gila..."

Jones melihat di sana uang tak begitu dihargai. Tapi roti dengan mudah ditukar dengan jaket bulu. Ia juga menemui rumah kosong karena penghuninya sudah mati kelaparan. Mayat-mayat kelaparan bergelimpangan di salju. Anak-anak memakan daging kakak kandungnya yang sudah mati terlebih dahulu untuk mengganjal perut.

Saat tengah meliput kelaparan massal di Ukrania itu, dia ketahuan dan kemudian ditangkap tentara Sovyet.

Karena dia pernah menjadi penasehat luar negeri PM Inggris, Jones tidak dihukum mati. Jones dideportasi.  

Ia ditendang keluar Sovyet dengan ancaman. Jika ia membongkar kondisi nyata di Sovyet maka enam orang insinyur Inggris yang tengah ditahan Sovyet atas tuduhan mata-mata, akan dieksekusi mati.

Saat kembali ke Inggris dan bertemu dengan novelis George Orwell di restoran, dia sempat mengeluh tentang dilema yang Jones alami.

Jika Jones mewartakan fakta, akan ada enam insinyur Inggris  dieksekusi mati. Tapi bila tidak, jutaan orang akan mati kelaparan karena program ambisius diktaktor Joseph Stalin. Dengan bijak Orwell menasehati Jones untuk bicara tentang kebenaran. Ya hanya kebenaran.

Maka, Jones pun mengadakan jumpa pers untuk menerangkan fakta kelaparan massal di Sovyet yang menyebabkan jutaan orang mati di desa-desa. Jumpa pers dia menggegerkan dunia.

Holodomor atau kelaparan massal di Ukraina© Wikipedia

Tetapi, tak lama kemudian, kepala perwakilan The New York Times di Sovyet yang juga peraih Pulitzer, Walter Duranty, membantah kesaksian Jones. Wartawan yang agaknya sudah disuap oleh Stalin itu berani menyebut tidak ada kelaparan di Sovyet. Dan program modernisasi pertanian Sovyet terus berjalan maju.

Pada saat itu --dan juga sekarang-- harian The New York Times adalah media massa berpengaruh di dunia. Tulisan yang dibuat Duranty  itu membuat kredibilitas Jones jatuh. Akhirnya dia pulang ke Wales dalam kondisi ditertawakan dan diejek anak-anak sebagai " orang gila."

Jones lalu bekerja di sebuah media lokal Wales. Tapi dia nyaris tak menulis apa-apa karena dia ditempatkan di rubrik budaya.

Untunglah suatu hari dia mendengar seorang pemilik sekaligus penerbit koran saingan yang cukup besar sedang ada di rumahnya di Wales. Dia pun nekat menemui penerbit itu.  Dia menawarkan untuk menulis berita tentang apa yang dia lihat di Sovyet. Kali ini dia akan menuliskannya secara langsung.

Pemilik koran itu akhirnya setuju, walau itu artinya melawan koran berpengaruh macam The New York Times. Dan liputan menyeluruh tentang kelaparan massal Ukraina di bawah Joseph Stalin itu akhirnya terbit.

Semua orang tercengang membaca detail deskripsi Jones yang mengerikan tersebut. Tulisan itu pada akhirnya membuka mata dunia tentang kematian jutaan penduduk Ukraina akibat kelaparan di bawah diktaktor Joseph Stalin.

***

Fenomena kematian massal akibat kelaparan yang diliput pertama kali oleh Gareth Jones kemudian dikenal sebagai “ Holodomor.” Itu bahasa Ukrania yang berarti 'membunuh dengan kelaparan'.

Peristwa bersejarah itu terjadi di Ukraina dari tahun 1932 hingga 1933 yang menewaskan jutaan orang Ukraina.

Istilah Holodomor menekankan aspek-aspek kelaparan yang dibuat manusia dan diduga disengaja, seperti penolakan bantuan dari luar, penyitaan semua bahan makanan rumah tangga dan pembatasan pergerakan penduduk.

Peristiwa yang terjadi kurun 1932–1933 itu telah mempengaruhi daerah penghasil biji-bijian utama atau gandum negara itu. Jutaan penduduk Ukraina, yang sebagian besar adalah etnis Ukraina, meninggal karena kelaparan dalam masa damai yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Ukraina.

Sejak tahun 2006, Holodomor telah diakui oleh Ukraina dan 15 negara lain sebagai pembunuhan massal secara sistematik atau genosida rakyat Ukraina yang dilakukan oleh pemerintah Soviet.

Perkiraan awal jumlah korban tewas oleh para sarjana dan pejabat pemerintah sangat bervariasi. Sebuah pernyataan bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ditandatangani oleh 25 negara pada tahun 2003 menyatakan bahwa ada 7–10 juta yang tewas karena kelaparan pada masa itu.

Para ilmuwan saat ini memperkirakan mereka yang tewas karena kelaparan di kisaran 4 hingga 7 juta korban, dengan perkiraan yang lebih tepat mulai dari 3,3 juta hingga 5 juta.

Menurut temuan Pengadilan Banding Kiev pada 2010, kerugian demografis akibat kelaparan berjumlah 10 juta, dengan 3,9 juta kematian akibat kelaparan langsung, dan 6,1 juta karena defisit kelahiran bayi baru akibat kelaparan.

Apakah Holodomor adalah genosida, sampai kini masih menjadi bahan perdebatan akademis, seperti juga penyebab kelaparan dan kematian yang disengaja.

Menurut Encyclopædia Britannica, beberapa ahli percaya  bahwa kelaparan itu direncanakan oleh Joseph Stalin untuk menghilangkan gerakan kemerdekaan Ukraina. Sementara yang lain berpendapat bahwa kelaparan buatan manusia itu adalah konsekuensi dari industrialisasi pertanian Soviet.

***

Kembali ke kisah Garet Jones dalam film “ Mr Jones.”

Karena liputan Jones itu lah, meski tak disebut secara eksplisit, George Orwell kemudian mendapat inspirasi untuk menulis novelnya yang termasyhur: " Animal Farm."

Tapi di sinilah ironinya.

Setahun kemudian, Jones  tewas dibunuh oleh agen polisi rahasia Uni Sovyet, NKVD, cikal bakal KGB, saat tengah meliput di Mongolia.

Pemandunya ternyata bekerja dengan agen rahasia Sovyet, yang kemudian membunuhnya. Ia dibunuh 12 Agustus 1935, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 30.

Gareth Jones© Holodomor Museum

Setelah kematiannya, mantan Perdana Menteri Inggris David Lloyd George ke BBC berkata, " Dia (Jones) memiliki hasrat untuk mencari tahu apa yang terjadi di negeri asing di mana pun ada masalah. Dan dalam mengejar penyelidikannya dia berani mengambil risiko. ... Tidak ada yang luput dari  pengamatannya, dan dia tidak membiarkan halangan untuk berbalik ketika dia berpikir ada beberapa fakta yang bisa dia peroleh. Dia memiliki bakat yang hampir tidak pernah gagal untuk mendapatkan hal-hal penting."

Sementara itu Walter Duranty, koresponden The New York Times meninggal dengan wajar  pada usia 73 tahun di Orlando, Amerika. Dan penghargaan " Pulitzer" -nya tak pernah dicabut.

Tapi film “ Mr Jones” ini telah menelanjangi kemunafikan Walter Duranty yang telah disuap itu tanpa ampun. Mungkin di sinilah titik keadilannya..

Film yang berangkat dari kisah nyata itu agaknya amat layak ditonton secara daring di akhir pekan ini. Film ini bahkan sudah diunggah ke Youtube dengan judul “ Holodomor Remembrance Week: Mr Jones.” Sungguh sebuah film yang amat menyentuh, Terutama di tengah konflik Ukrania dan Rusia sekarang. (eha)

Beri Komentar