Kisah Jaka Tarub dan Deretan 'Kembarannya' di Berbagai Penjuru Asia

Reporter : Abidah
Selasa, 11 Agustus 2026 16:00
Kisah Jaka Tarub dan Deretan 'Kembarannya' di Berbagai Penjuru Asia
Kisah Jaka Tarub ternyata memiliki sejumlah kembaran seperti cerita Hagoromo di Jepang atau bahkan lebih jauh lagi hingga ke Siberia dan Pakistan.

DREAM.CO.ID - Hampir semua orang Indonesia tumbuh mendengar kisah Jaka Tarub, pemuda yang mencuri selendang bidadari Nawang Wulan agar sang bidadari tak bisa terbang kembali ke kahyangan. Tapi tahukah Anda, kisah semacam ini bukan monopoli Nusantara? Di seluruh Asia, dari Jepang di timur hingga Pakistan di barat, ada versi-versi lain dari cerita yang sama persis strukturnya: pria mencuri jubah atau busana ajaib seorang perempuan langit agar ia terjebak di bumi dan bersedia menikahinya.

Dalam kajian folklor dunia, motif ini dikenal dengan sebutan " swan maiden" atau bidadari angsa, dan termasuk dalam tipe cerita Aarne-Thompson-Uther 400, " The Quest for the Lost Wife" . Kemiripannya lintas benua begitu mencolok sehingga para peneliti folklor menganggapnya salah satu motif cerita rakyat paling tersebar di dunia.

Jepang: Hagoromo, Legenda Jubah Bulu

Di Jepang cerita ini dikenal sebagai hagoromo densetsu, atau " Legenda Jubah Bulu" . Seorang nelayan menemukan jubah bulu halus tergantung di pohon pinus. Seorang tennyo, bidadari surgawi, memohon agar jubah itu dikembalikan. Dalam beberapa versi, nelayan itu baru mau mengembalikannya setelah sang bidadari menari untuknya, lalu ia kembali ke langit meninggalkan si nelayan. Dalam versi lain, nelayan itu justru menyembunyikan jubahnya dan menikahinya, hingga bertahun-tahun kemudian sang bidadari berhasil menemukan jubahnya kembali dan pergi.

Motif jubah bulu atau hagoromo ini bahkan tercatat dalam naskah kuno Jepang, Ōmi Fudoki, salah satu catatan geografis dan sejarah tertua di Jepang yang berasal dari abad kedelapan masehi, menunjukkan betapa kunonya jejak cerita ini di kepulauan Jepang.

1 dari 4 halaman

Tiongkok: Bidadari yang Mandi di Danau

Versi tertua yang tercatat dari motif ini justru berasal dari Tiongkok. Dilansir dari Fairy Tale Fridays, salah satu catatan tertua kisah bidadari angsa ditemukan dalam Sou Shen Ji karya Gan Bao, sebuah kompilasi cerita supranatural dari abad keempat masehi. Seorang pria mengintip tujuh bidadari bersaudari yang sedang mandi di sebuah danau. Mereka turun sebagai burung, lalu melepas jubah berbulu mereka dan berubah menjadi manusia. Pria itu mencuri jubah bulu salah satu bidadari dan memaksanya menikah dengannya, pola yang nyaris identik dengan kisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan.

Cerita ini juga berkembang dalam legenda rakyat Tiongkok lain yang dikenal sebagai Tian Xian Pei, atau " Pasangan Bidadari" , yang dikisahkan di kalangan etnis Wu dan Yi. Dilansir dari catatan mitologi Jepang yang menelusuri akar cerita ini di Asia Timur, tujuh putri Kaisar Giok turun ke dunia manusia, dan putri bungsu bernama Yunue kehilangan alat tenun serta jubah bulunya, tanpa mana ia tak bisa kembali ke langit.

 

2 dari 4 halaman

Asia Tengah dan Siberia: Bidadari Angsa di Padang Rumput

Motif ini bahkan menyebar jauh ke wilayah stepa Asia Tengah dan Siberia. Versi Mongolia yang dikenal sebagai " Bidadari Angsa dari Stepa" menceritakan seorang pemburu yang menyembunyikan jubah seekor angsa untuk menikahinya. Sang bidadari melahirkan seorang putra sebelum akhirnya berhasil merebut kembali jubahnya dan terbang pergi, meninggalkan kesan kesepian abadi yang khas dari kehidupan di padang rumput luas.

Di kalangan suku Buryat, salah satu kelompok etnis Mongolia di Siberia, dewi angsa yang menikah dengan manusia setelah bulunya dicuri bahkan dipercaya melahirkan sebelas leluhur pendiri klan-klan dukun, sebuah cerita yang tercatat dalam Khori Buryat Chronicles dan merepresentasikan ikatan totem dalam masyarakat nomaden.

Sementara itu, epik-epik Turkik dari Siberia Selatan yang dikumpulkan Wilhelm Radloff pada abad kesembilan belas juga menampilkan perempuan berwujud burung yang bulunya dicuri saat sedang mandi, kemudian membantu para pahlawan bergelar khan dalam petualangan mereka.

 

3 dari 4 halaman

Asia Selatan: Dari Pakistan hingga Bengal

Motif serupa juga hadir kuat di anak benua India. Dilansir dari koleksi cerita rakyat yang dihimpun D.L. Ashliman, folklorist dari University of Pittsburgh, kisah " Pangeran Bairâm dan Pengantin Peri" dari Pakistan menampilkan seorang pemburu yang mengintai tujuh bidadari berjubah bulu turun mandi di tepi danau, lalu mencuri jubah salah satu dari mereka yang paling muda dan mempesona.

Di Bengal, motif bidadari angsa ini bahkan berpadu dengan mitologi apsara, bidadari dalam tradisi Hindu yang turun dari kahyangan. Perpaduan ini mencerminkan tradisi sinkretis Bengal, menggabungkan kepercayaan surgawi Hindu dengan simbolisme lokal sungai dan burung setempat.

4 dari 4 halaman

Kenapa Cerita Ini Begitu Universal

Yang membuat mitos bidadari angsa begitu memikat, menurut analisis Fairy Tale Fridays, adalah sifatnya yang fleksibel: hampir makhluk apa pun bisa mengisi peran pengantin ajaib ini. Dalam tradisi Kelt, ada selkie yang melepas kulit anjing lautnya. Di kalangan suku Inuit, ada kisah " istri angsa" yang melepas bulu untuk mandi. Bahkan di suku-suku Dataran Besar Amerika Utara ada " Istri Bison" yang berubah wujud menjadi perempuan untuk menikahi seorang pemburu sebelum akhirnya kembali ke kawanannya.

Pola dasarnya nyaris selalu sama: seorang pria mencuri busana ajaib perempuan gaib itu agar ia tidak bisa kembali ke alam asalnya, memaksanya menikah dan memiliki anak dengannya, sebelum akhirnya sang perempuan menemukan kembali busananya, biasanya berkat pengkhianatan tak sengaja dari anak-anaknya sendiri, lalu pergi untuk selamanya.

Melihat begitu luasnya sebaran motif ini, kisah Jaka Tarub bisa dipahami bukan sebagai cerita yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu variasi lokal dari sebuah pola cerita purba yang menyebar lewat jalur migrasi, perdagangan, dan pertukaran budaya lintas Asia selama ribuan tahun. Nawang Wulan di Jawa, tennyo di Jepang, bidadari angsa di Mongolia, dan pengantin peri di Pakistan pada dasarnya berbicara tentang hal yang sama: ketegangan abadi antara dunia manusia yang fana dan dunia gaib yang tak pernah benar-benar bisa dimiliki, betapapun keras seseorang mencoba menahannya.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More