© Tropicals.com/Top Tropicals
DREAM.CO.ID - Belakangan ini, satu kata sederhana tiba-tiba ramai muncul di linimasa TikTok dan berbagai platform media sosial: kimpul. Bagi sebagian orang, nama ini terdengar seperti istilah gaul baru.
Padahal, kimpul sebenarnya bukan barang asing sama sekali. Ia umbi lokal yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, hanya saja sempat tenggelam dari perhatian sebelum kembali populer lewat konten kreator asal Bantul yang memakainya sebagai pengganti berbagai bahan makanan dalam resep-resep kreatif.
Kimpul adalah tanaman umbi dari keluarga Araceae, atau suku talas-talasan, dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium. Di berbagai daerah Indonesia, kimpul dikenal dengan sebutan berbeda-beda: ada yang menyebutnya talas belitung, keladi, bete, hingga mbothe.
Meski sering disamakan dengan talas biasa, keduanya sebenarnya berasal dari genus yang berbeda. Talas yang umum dikenal masyarakat punya nama ilmiah Colocasia esculenta, sementara kimpul adalah Xanthosoma sagittifolium. Meski masih berkerabat dekat dalam satu keluarga tanaman, perbedaan genus ini membuat karakteristik biologis keduanya, mulai dari bentuk, tekstur, hingga kandungan gizinya, tidak sepenuhnya sama.
Kimpul menyimpan profil gizi yang cukup menarik. Talas kimpul merupakan makanan sumber karbohidrat, rendah lemak, dan indeks glikemiknya rendah. Selain itu, kimpul juga mengandung serat pangan, pati resisten, mineral tembaga dan kalium, vitamin B3, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid.
Kimpul juga kaya vitamin C, vitamin B kompleks, zat besi, dan kalium, menjadikannya sumber karbohidrat kompleks yang layak dipertimbangkan sebagai alternatif pengganti nasi. Dari segi jumlah karbohidrat, kandungan kimpul justru lebih rendah dibanding nasi putih pada berat yang sama, karena kadar airnya lebih tinggi. Sebaliknya, kandungan seratnya lebih tinggi, sehingga memberikan rasa kenyang yang bertahan lebih lama.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian para ahli gizi dari kimpul adalah kandungan pati resistennya. Talas kimpul dapat dianggap sebagai bahan baku yang layak untuk mendapatkan pati resisten tipe III (RS3). Senyawa ini berfungsi mirip serat pangan yang tidak sepenuhnya dicerna tubuh, sehingga memberikan manfaat kesehatan berlapis.
Pati resisten ini bagus untuk kesehatan karena berpotensi membantu mencegah penyakit kardiovaskular, kanker kolon, diabetes, obesitas, dan osteoporosis. Pati resisten juga menyehatkan usus, memudahkan penyerapan zat gizi mikro, hingga meningkatkan jumlah mikroorganisme probiotik dalam tubuh.
Selain pati resisten, kimpul turut mengandung berbagai senyawa bioaktif lain seperti saponin, tanin, fenol, dan diosgenin, kelompok senyawa yang dikenal punya berbagai sifat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Beberapa manfaat kesehatan kimpul yang paling sering disorot antara lain:
1. Sumber energi bertahap
Karbohidrat kompleks dalam kimpul dicerna lebih lambat dibanding karbohidrat sederhana, sehingga membantu menyediakan energi secara bertahap agar tubuh bisa beraktivitas lebih lama.
2. Membantu program diet
Kombinasi karbohidrat kompleks dan serat membuat kimpul memberi rasa kenyang lebih lama, sehingga berpotensi mengurangi keinginan makan berlebihan. Indeks glikemiknya yang rendah juga menjadikannya pilihan menarik bagi yang sedang mengatur asupan karbohidrat harian.
3. Menjaga kesehatan pencernaan
Kandungan serat pada kimpul berperan menjaga kesehatan saluran cerna, melancarkan buang air besar, sekaligus mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.
4. Mendukung kesehatan jantung
Kandungan serat, kalium, dan antioksidan pada kimpul berpotensi membantu menjaga kesehatan jantung.
5. Ramah untuk penderita celiac
Sebagai bahan pangan bebas gluten, kimpul bisa jadi alternatif pengganti tepung terigu bagi penderita penyakit celiac maupun orang dengan intoleransi gluten.
6. Cocok untuk kelompok usia rentan
Kimpul memiliki pati berukuran kecil sehingga mudah dicerna, membuatnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk anak-anak, lansia, maupun orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Meski menyimpan banyak manfaat, kimpul bukan tanpa catatan. Kimpul mengandung senyawa alami berupa asam oksalat dan kristal kalsium oksalat berbentuk jarum yang disebut raphides. Kristal ini bisa menimbulkan sensasi gatal di lidah, bibir, hingga tenggorokan, bahkan iritasi ringan jika umbi dikonsumsi mentah atau belum matang sempurna.
Kandungan oksalat pada kimpul bisa berbeda-beda tergantung varietas tanaman, tingkat kematangan umbi, hingga kondisi tanah tempatnya dibudidayakan. Karena itu, para ahli menekankan pentingnya proses pengolahan yang tepat, yaitu perebusan atau pengukusan hingga benar-benar matang, untuk mengurangi rasa gatal tersebut sebelum kimpul dikonsumsi.
Meski viral berkat media sosial, kimpul sebenarnya jauh dari kata baru. Ia umbi yang dulu akrab di dapur masyarakat Indonesia, sempat terlupakan seiring bergesernya kebiasaan makan, dan kini kembali dilirik berkat rasa lezatnya serta kandungan gizi yang mulai banyak dibahas ahli.
Talas kimpul memiliki potensi strategis dalam mendukung diversifikasi pangan nasional. Ia bisa diolah menjadi berbagai produk, mulai dari tepung, roti, mi, hingga camilan, menjadikannya bukan sekadar tren sesaat di media sosial, melainkan peluang nyata untuk memperkuat ketahanan pangan lokal Indonesia sekaligus melestarikan warisan kuliner yang nyaris terlupakan.
Advertisement

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengajari Anak Tentang Konsep Uang


Kebiasaan Minum Manis Sejak Kecil Terbukti Berkaitan dengan Tekanan Darah Tinggi saat Dewasa

Jatuhnya Fat Man di Nagasaki yang Membalik Sejarah pada 9 Agustus 1945



Kenapa Punya Hobi Bisa Jadi Investasi Kesehatan, Bukan Sekadar Pengisi Waktu Luang