Jarang Jalan Kaki Bisa Berdampak pada Tubuh, Ini 6 Perubahan yang Perlu Diwaspadai

Reporter : Abidah
Selasa, 29 September 2026 12:00
Jarang Jalan Kaki Bisa Berdampak pada Tubuh, Ini 6 Perubahan yang Perlu Diwaspadai
Berkurangnya aktivitas fisik secara bertahap dapat memengaruhi fungsi otot, mobilitas, keseimbangan, kesehatan kardiovaskular dan metabolik, serta kemampuan seseorang untuk tetap mandiri.

DREAM.CO.ID - Jalan kaki sering dianggap sebagai aktivitas sederhana yang tidak membutuhkan persiapan khusus. Namun, ketika kebiasaan berjalan semakin jarang dan sebagian besar waktu justru dihabiskan dengan duduk atau menjalani aktivitas minim gerak, tubuh perlahan dapat kehilangan sejumlah manfaat dari aktivitas fisik tersebut. Dampaknya bukan hanya pada kekuatan kaki, tetapi juga dapat berkaitan dengan kesehatan jantung, metabolisme, keseimbangan, persendian, hingga suasana hati.

Dilansir dari Verywell Health, ahli terapi fisik Kristen Gasnick, PT, DPT, menjelaskan bahwa berkurangnya aktivitas fisik secara bertahap dapat memengaruhi fungsi otot, mobilitas, keseimbangan, kesehatan kardiovaskular dan metabolik, serta kemampuan seseorang untuk tetap mandiri seiring bertambahnya usia.

Bukan berarti melewatkan beberapa kali jalan kaki langsung membuat kesehatan memburuk. Persoalannya adalah ketika berjalan dan aktivitas fisik lainnya secara konsisten digantikan dengan perilaku sedentari atau terlalu banyak duduk.

1 dari 3 halaman

1. Menurunnya Kesehatan Jantung

Berjalan membuat jantung dan paru-paru bekerja lebih aktif untuk mengedarkan darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Ketika tubuh semakin jarang bergerak, sistem kardiovaskular juga menjadi kurang aktif sehingga fungsinya dapat mengalami penurunan.

Kurangnya aktivitas fisik dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, tekanan darah tinggi, dan stroke. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperkirakan orang yang tidak cukup aktif secara fisik memiliki risiko kematian 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang aktif secara rutin.

Karena itu, aktivitas sederhana seperti berjalan dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

2. Otot Melemah

Ketika otot tidak lagi sering digunakan, kebutuhan tubuh untuk mempertahankan kekuatan dan massa otot juga berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan otot melemah dan kehilangan massa.

Berjalan melibatkan berbagai kelompok otot, termasuk otot bokong, paha belakang, paha depan, dan betis. Kekuatan otot ini penting bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

National Institute on Aging (NIA) menyebut aktivitas fisik seperti berjalan berperan dalam mempertahankan mobilitas dan kemandirian. Ketika otot melemah, aktivitas sehari-hari dapat menjadi lebih sulit dan risiko cedera dapat meningkat.

2 dari 3 halaman

3. Memburuknya Keseimbangan

Berjalan tidak hanya melatih otot. Aktivitas ini juga melibatkan keseimbangan, koordinasi, dan kemampuan tubuh memindahkan beban dari satu sisi ke sisi lainnya.

Ketika seseorang semakin jarang bergerak, kemampuan fisik yang sebelumnya terasa alami dapat ikut berkurang. WHO menyebut aktivitas fisik secara rutin membantu orang dewasa mempertahankan fungsi tubuh dan menurunkan risiko jatuh akibat gangguan keseimbangan. Berjalan memang bukan satu-satunya latihan untuk menjaga keseimbangan, tetapi aktivitas tersebut membantu tubuh tetap terbiasa bergerak.

4. Terganggunya Kesehatan Metabolik

Bergerak membuat otot menggunakan energi. Ketika aktivitas fisik berkurang, kesempatan tubuh untuk menggunakan gula darah sebagai sumber energi juga ikut menurun. Akibatnya, kadar gula darah dapat lebih mudah tetap tinggi.

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2. WHO juga menyebut aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengelola berbagai penyakit kronis.

3 dari 3 halaman

5. Persendian yang Kaku

Tubuh membutuhkan gerakan untuk mempertahankan fungsi otot dan persendian. Jika seseorang terlalu jarang bergerak, persendian dapat terasa lebih kaku dan rentang geraknya menjadi terbatas.

Bahkan bagi orang yang mengalami masalah persendian seperti artritis, aktivitas fisik tetap dapat memberikan manfaat. NIA menyebut orang lanjut usia dengan artritis yang tetap aktif dapat mengalami nyeri yang lebih rendah, fungsi fisik yang lebih baik, serta kualitas hidup yang lebih baik. Jalan kaki juga termasuk aktivitas berdampak rendah sehingga relatif ringan bagi persendian.

6. Berubahnya Suasana Hati

Manfaat berjalan ternyata tidak berhenti pada tubuh. Aktivitas fisik juga berkaitan dengan kesehatan mental. WHO menyebut aktivitas fisik secara rutin dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan sekaligus meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

NIA juga mencatat aktivitas fisik berpotensi memberikan manfaat terhadap suasana hati, kecemasan, tidur, dan kesejahteraan emosional. Dengan demikian, ketika aktivitas seperti berjalan hilang dari rutinitas, seseorang juga dapat kehilangan sebagian manfaat tersebut.

Jika nyeri atau gangguan fisik membuat seseorang sulit berjalan atau bergerak, disarankan berkonsultasi dengan dokter atau ahli terapi fisik. Tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebab masalah sekaligus menyusun program aktivitas yang sesuai dengan kondisi tubuh.

Beri Komentar