Kenapa Kita Suka Berbicara Sendiri, dan Apakah Itu Normal?

Reporter : Abidah
Senin, 10 Agustus 2026 14:00
Kenapa Kita Suka Berbicara Sendiri, dan Apakah Itu Normal?
Kebiasaan berbicara sendiri terutama sambil melakukan sesuatu bukan merupakan hal yang aneh. Kebiasaan ini tergolong normal dan umum dilakukan.

DREAM.CO.ID - Pernah sedang mencari kunci sambil bergumam sendiri, " Tadi taruh di mana ya," lalu sadar tidak ada siapa pun di sekitar yang diajak bicara? Kebiasaan itu jauh lebih umum daripada yang dikira. Dilansir dari Healthline, berbicara sendiri secara terbuka merupakan kebiasaan yang lazim ditemukan sejak masa kanak-kanak, dan hampir semua orang melakukannya dalam bentuk tertentu.

Kabar baiknya, kebiasaan ini bukan tanda ada yang salah. Justru sebaliknya, berbicara pada diri sendiri, yang secara ilmiah disebut private speech atau self-directed speech, membawa sejumlah manfaat nyata bagi fungsi kognitif dan kesehatan mental.

Coba ingat kembali saat mengerjakan sesuatu yang cukup rumit, merakit lemari sendirian atau memperbaiki laptop yang tiba-tiba mati. Kemungkinan besar ada momen di mana kita menggerutu, mengeluarkan kata-kata frustrasi, atau menuntun diri sendiri lewat setiap langkah secara lisan.

Menjelaskan proses secara lisan pada diri sendiri terbukti membantu menemukan solusi dan menyelesaikan masalah dengan lebih fokus pada setiap tahapnya. Mengajukan pertanyaan sederhana pada diri sendiri, bahkan yang terdengar retoris, juga membantu konsentrasi tetap terjaga pada tugas yang sedang dikerjakan.

1 dari 3 halaman

Meningkatkan Motivasi, dengan Satu Syarat Penting

Self-talk positif bisa jadi dorongan besar saat merasa buntu atau tertantang. Kalimat penyemangat cenderung lebih berbobot ketika diucapkan lantang dibanding hanya dipikirkan, karena mendengar sesuatu secara langsung membantu memperkuat pesan itu di kepala.

Ada catatan penting di sini. Penelitian menunjukkan self-talk jenis ini bekerja paling efektif ketika menggunakan sudut pandang orang kedua atau ketiga, bukan orang pertama. Alih-alih berkata " Aku pasti bisa melewati ini," lebih efektif menyebut nama sendiri atau berkata " Kamu pasti bisa. Kamu sudah mengerjakan banyak hal. Tinggal sedikit lagi." Menyebut diri sendiri dengan sudut pandang orang kedua atau ketiga menciptakan jarak emosional dalam situasi penuh tekanan, dan ini membantu meredakan distres yang muncul dari tugas yang sedang dihadapi.

Berbicara sendiri juga jadi cara efektif memproses emosi yang sulit. Sebagian perasaan dan pengalaman terasa terlalu personal untuk langsung dibagikan ke orang lain, bahkan pada orang terdekat sekalipun, sebelum diolah lebih dulu sendirian.

Mengucapkan pikiran yang mengganggu secara lantang membawa pikiran itu keluar ke permukaan, membuatnya terasa lebih bisa dikelola dibanding hanya berputar-putar di kepala. Menyuarakan emosi juga membantu mengakui dan menerima perasaan itu, yang pada gilirannya bisa mengurangi dampaknya.

2 dari 3 halaman

Cara Memaksimalkan Manfaat Self-Talk

Cara Memaksimalkan Manfaat Self-Talk © Dream

Beberapa hal bisa membantu memaksimalkan manfaat berbicara pada diri sendiri. Gunakan kata-kata positif, bukan kritik keras terhadap diri sendiri, karena menyalahkan diri sendiri atas hasil yang tidak diinginkan justru bisa menurunkan motivasi dan rasa percaya diri. Alih-alih berkata " Kamu tidak cukup berusaha, tidak akan pernah selesai," coba ganti dengan " Kamu sudah berusaha keras. Memang butuh waktu lama, tapi kamu pasti bisa menyelesaikannya."

Mengajukan pertanyaan pada diri sendiri juga membantu melihat kembali apa yang sedang dikerjakan atau dipahami, sekaligus menentukan langkah berikutnya. Yang tak kalah penting, benar-benar dengarkan apa yang diucapkan pada diri sendiri, karena ini membantu mengenali pola yang berkontribusi pada rasa tertekan. Afirmasi juga sebaiknya tetap memakai sudut pandang orang kedua, seperti " Kamu kuat" atau " Kamu bisa menghadapi ketakutanmu hari ini," karena kalimat semacam ini lebih mudah dipercaya dibanding versi orang pertama.

3 dari 3 halaman

Kapan Perlu Waspada

Bagi yang merasa kebiasaan ini mengganggu, terutama di tempat kerja atau ruang publik yang tenang, beberapa cara bisa membantu. Menulis jurnal jadi alternatif untuk memproses pikiran tanpa perlu bersuara. Mengajak rekan kerja atau teman berdiskusi juga bisa menggantikan kebiasaan bicara sendiri saat menghadapi kebuntuan. Mengunyah permen karet atau membawa minuman untuk diseruput setiap kali mulut ingin berbicara sendiri juga bisa jadi pengalih perhatian sederhana yang efektif.

Berbicara sendiri umumnya bukan tanda gangguan kesehatan mental. Namun orang dengan kondisi yang memengaruhi psikosis, seperti skizofrenia, memang bisa tampak seperti berbicara sendiri, meski sebenarnya mereka merespons suara yang hanya bisa mereka dengar sendiri, bukan benar-benar berbicara pada diri sendiri.

Jika seseorang mendengar suara atau mengalami halusinasi lain, penting untuk berbicara dengan tenaga kesehatan profesional. Bantuan profesional juga layak dipertimbangkan jika seseorang ingin berhenti tapi kesulitan melakukannya sendiri, merasa tidak nyaman dengan kebiasaan ini, mengalami perundungan karena kebiasaan tersebut, atau menyadari dirinya lebih sering merendahkan diri sendiri lewat self-talk yang dilakukan.

Beri Komentar