6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi/ Foto: Unsplash
DREAM.CO.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah hypophrenia mulai populer dalam dunia psikologis, hal itu karena banyak orang mengalami tanpa menyadarinya. Sahabat Dream mungkin pernah juga dalam situasi ini.
Gejala hypophrenia telah dialami oleh banyak orang, terutama di era modern yang penuh tekanan.
Dilansir dari laman Alodokter, Hypophrenia kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi sedih yang muncul secara tiba-tiba dan tidak memiliki penyebab yang jelas. Penderitanya merasa murung, kosong, atau kehilangan semangat, tanpa tahu pasti kenapa.

Tidak ada pola waktu khusus kapan hypophrenia muncul. Bisa muncul kapan saja saat sedang bekerja, bersantai, bahkan di tengah keramaian. Hal ini membuat penderita merasa bingung dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosial.
Gejala hypophrenia sering kali dianggap sebagai gangguan suasana hati. Hal tersebut membuat penderita jarang menyadarinya. Ada beberapa tanda yang biasanya muncul, yakni kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas sehari-hari.
![]()
Selain itu, emosi datar atau tumpul, mudah merasa sedih tanpa alasan jelas, kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, sulit tidur atau tidur berlebihan, dan nafsu makan menurun atau meningkat drastis.
Pada beberapa kasus ditemui jika hypophrenia muncul sebagai bagian dari kondisi lain seperti skizofrenia, depresi berat, atau efek samping obat-obatan tertentu. Biasanya gejala dapat disertai keluhan fisik atau psikologis lainnya yang lebih spesifik.
Penyebab kondisi psikologis ini beragam, yakni stres, gangguan neurologis, efek samping obat-obatan, riwayat gangguan mental, serta pola hidup tidak sehat. Penangannya berbeda tergantung penyebab dan tingkah keparahan gejalanya.
Beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan di antaranya konseling dengan psikolog atau psikiater, pengobatan medis dengan antidepresan atau antipsikotik, serta perubahan gaya hidup sehat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
