Kisah Kambing Mbah Sholeh Memakan Macan

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 17 Mei 2016 20:02
Kisah Kambing Mbah Sholeh Memakan Macan
Mbah Sholeh yang lama tinggal di Mekah tinggal di Semarang. Dia kedatangan tamu yang dikenal.....

Dream - Ini kisah hikmah yang dituturkan Kiai Mukri Rohman. Imam Masjid Kiai Sholeh Darat, Kampung Melayu Darat, Semarang Utara. Cerita ini tentang kambing milik Kiai Sholeh Darat yang memakan macan milik tamunya.

Kiai Mukri mendengar cerita ini dari gurunya, Kiai Bisri Mustofa –ayahanda Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus, saat mondok di Rembang pada dekade 1970-an. Berikut kisah hikmah, sebagaimana dikutip Dream dari nu.or.id:

Kisah itu bermula saat Kiai Sholeh Darat yang sudah pulang dari Mekah, kedatangan tamu. Rumahnya terletak di Darat, Semarang. Tamu yang datang ke rumah Kiai Sholeh itu adalah tokoh yang terkenal sakti dari Jawa Timur.

Tokoh yang bertamu ini juga biasa dipanggil kiai. Dia datang saat malam. Karena Kiai Sholeh sedang mengajar ngaji, seorang santri mempersilakan sang tamu menunggu di serambi langgar, seraya disuguhi minuman.

Setelah mengajar mengaji, Kiai Sholeh menemui tamu tersebut. “ Anda datang ke sini naik apa?,” tanya Mbah Sholeh.

“ Naik harimau,” jawab si tamu, seolah pamer. Kala itu, tunggangan yang lazim untuk masyarakat umum adalah kuda.

“ Diikat di mana harimau itu?” tanya Mbah Shleh.

“ Saya ikat di luar pagar sana itu. Khawatir menakuti santri-santri jenengan [Anda],” timpal tamu ini.

Mbah Sholeh hanya tersenyum. Kemudian menyuruh seorang santri menuntun macan besar tunggangan tamunya itu. Santri Mbah Sholeh Darat ternyata sama sekali tidak takut pada macan.

“ Masukkan kandang, Kang. Biar tidak kedinginan atau kehujanan,” perintah Mbah Sholeh.

Sang tamu tahu, yang dimaksud Mbah Sholeh adalah kandang kambing. Sehingga dia khawatir, harimau itu akan memakan kambing-kambing milik Mbah Sholeh.

“ Jangan dimasukkan kandang, Mbah. Nanti kambing jenengan dimakan sama macan saya,” tamu itu mencegah.

“ Tak apa-apa. Kambing saya akan aman kok,” jawab Mbah Sholeh enteng.

Sang tamu lantas dipersilakan menuju kamar untuk istirahat.

Malam itu, sang tamu sulit tidur. Kepikiran nasib kambing Mbah Sholeh. Dan keesokan harinya ternyata...

Bagaimana kisah selanjutnya dan apa hikmah di balik kisah ini? Selengkapnya baca di tautan berikut ini.

1 dari 3 halaman

Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci

Dream - Setiap orang yang berhaji, harus ke Tanah Suci. Namun tidak dengan ulama yang satu ini. Dia tak pernah tiba di Tanah Suci, namun semua orang menyebut dia telah berhaji.

Ulama itu adalah Abdullah bin Mubarak. Dan kisah ini tercantum dalam Kitab An-Nawadir, karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Dalam kitab itu dikisahkan perjalanan Abdullah bin Mubarak ke Tanah Suci terhenti di Kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu bangkai itik. Abdullah lantas bertanya:

“ Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?” tanya Abdullah memastikan.

“ Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku.”

Mendengar jawaban itu, Abdullah heran. Ternyata, bangkai menjadi santapan keluarga di negeri Kufah itu. Dia kemudian mengingatkan perempuan itu bahwa memakan bangkai itu adalah haram hukumnya.

Diperingatkan, wanita itu malah mengusir. Abdullah pun pergi, tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali-kali. Hingga suatu hari perempuan itu menjelaskan perihal keadaannya.

“ Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka.”

Hati Abdullah bergetar. Segera ia pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal.

“ Ambilah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu.”

Tak terasa, musim haji berlalu dan Abdullah masih berada di Kufah. Artinya, dia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia memutuskan bermukim sementara di sana, sampai para jemaah haji pulang ke negeri asal dan Abdullah ikut rombongan.

Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut masyarakat. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan oran-orang.

“ Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini,” katanya meyakinkan para penyambutnya.

Sementara itu, kawan-kawannya berkata lain. Cerita teman-temannya itu sangat mengejutkan. Kawan-kawan Abdullah mengaku berjumpa sosok.....

Baca kisah selanjutnya di tautan berikut ini. (Ism) 

 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi 

2 dari 3 halaman

Kisah Kiai Disuruh Calon Santri Angkut Barang

Dream - Seorang kiai biasanya mendapatkan posisi terhormat di kalangan masyarakat. Namun status itu tak selama dinikmati sebagai kemewahan. Banyak kiai yang tetap menjejak kaki ke bumi meski sangat dihormati penduduk sekitar.

Inilah yang ditunjukan KH Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri Jawa Timur. Saking merakyatnya, KH Abdul Karim bahkan sempat diminta tolong membawa barang bawaan calon santrinya.

Kisah ini dikabarkan terjadi di tahun 1920-an. Kala itu, seorang pemuda baru turun dari dokar di dekat area pondok. Perbekalannya sangat banyak. Tak sanggup dia membawanya sendiri.

Sejurus kemudian, pemuda calon santri baru itu melihat orang tua yang sedang berkebun. Versi lain menyebut orang tua itu sedang memperbaiki pagar tembok.

" Pak, anu, kulo saumpomo nyuwun tulong kaleh njenengan, nopo nggeh purun? (Begini, Pak, seumpama saya minta tolong anda, apa berkenan)?” tanya pemuda itu.

" Nggeh, nopo!" Jawab orang tua di kebun itu.

" Niki kulo mbeto kelopo, beto beras, kulo bade mondok teng kilen niko. Tulong jenengan beta'aken (Ini saya membawa kelapa dan beras. Saya mau mondok di barat itu. Tolong anda bawakan),” pinta pemuda tersebut.

Apa jawab orang tua itu? baca selengkapnya di tautan ini. (Ism) 

3 dari 3 halaman

Kisah Sayyidina Ali Transaksi Jual-Beli dengan Malaikat

Dream - Ini kisah Ali bin Abi Thalib yang melakukan transaksi jual-beli dengan malaikat, saat akan bersilaturahmi ke rumah Rasulullah. Kisah tersebut diriwayatkan Ja’far bin Muhammad dari sang ayah, dan dari kakeknya.

Dalam riwayat itu, Ali menjumpai istrinya, Sayyidah Fathimah, sedang duduk memintal di rumahnya. Sementara, Salman al-Farisi berada di hadapannya, tengah menggelar wol.

“ Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang bisa kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada istrinya.

“ Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, ongkos dari Salman karena aku telah memintal wol,” jawabnya. “ Uang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“ Bawa kemari uang itu,” pinta Ali. Dan Fathimah segera memberikannya, Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba, Ali bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “ Siapa yang ingin memberikan utang (karena) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Ali kemudian balik ke rumah. Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya bisa menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“ Baiklah,” kata Fathimah, tanda bahwa ia menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “ Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya uang sepeser pun.”

“ Ah, kau bisa bayar nanti.”

“ Berapa?”

“ Seratus dirham.”

Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badui lainnya.

“ Apakah unta ini kau jual?”

“ Benar,” jawab Ali.

“ Berapa?”

“ Tiga ratus dirham.”

Si Badui membayarnya kontan, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“ Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “ Hai Ali, kau yang akan memberiku kabar, atau aku yang akan memberimu kabar?”

“ Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi kabar kepadaku.”

“ Tahukah kamu, siapa orang Badui yang menjual unta kepadamu dan orang Badui yang membeli unta darimu?”

Baca kisah selengkapnya di tautan berikut ini.

Beri Komentar