Kisah Tragis Korban Pertama Ebola

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 30 Oktober 2014 11:15
Kisah Tragis Korban Pertama Ebola
Emile Ouamouno menjadi korban Virus Ebola pertama -dalam wabah kali ini. Kematian bocah 2 tahun itu kemudian disusul kakak, ibu, dan neneknya.

Dream - Ruangan itu tampak sederhana. Tembok bercat hijau terlihat sudah kusam. Beragam gambar yang tertempel mulai tak beraturan. Sebagian sudah mengelupas. Kalender yang berlaku sebelas tahun silam pun masih tertempel di sana. Semua lawas.

Di rumah mungil yang terletak di Desa Meliandou, Guinea, itulah Etiennne merenung. Mengenang empat anggota keluarga yang telah meninggal karena Ebola. Virus mematikan yang kembali merebak, setelah bertahun-tahun `tertidur`. Putra Etienne, Emile Ouamouno, menjadi korban pertama Virus Ebola --dalam wabah kali ini.

Musibah itu dialami keluarga Etienne pada Desember tahun silam. Bermula dari sakit misterius yang diderita Emile. Bocah dua tahun itu mengalami demam tinggi, muncul bercak-bercak, dan muntah-muntah. Emile akhirnya tewas pada 6 Desember 2013. [Baca juga: Ebola, Virus Ganas Tak Ada Obatnya]

Seminggu setelah kematian Emile, Etienne kembali kehilangan anggota keluarganya. Anak perempuannya, Philomene –yang berusia 4 tahun– mengyusul sang adik menghadap Sang Khaliq. Setelah itu berturut-turut istri tercinta dan ibu tersayang. Semua hilang setelah terjangkit Ebola.

Peristiwa itu terjadi enam bulan setelah badan kesehatan internasional menyatakan Emile dinyatakan meningal karena Ebola. Dan setelah itu, penyebaran Virus Ebola semakin meluas. Tak hanya di Guinea, tetapi juga ke beberapa negara tetangganya, seperti Sierre Leone dan Liberia.

Kini 5.000 orang telah tewas. Sementara, tercatat ada 10.000 kasus Ebola di kawasan Afrika Barat.“ Emile suka menari dan Philomene suka membawa boneka bayi di punggungnya dan seolah sebagai seorang ibu,” kata petugas UNICHEF, Suzanne Beukes, dikutip Dream dari news.com.au, Rabu 29 Oktober 2014.

Kisah Tragis Korban Pertama Ebola© news.com.au

Emile saat masih bayi

Dia menambahkan, Desa Meliandou memang tak dilengkapi fasilitas kesehatan memadai. Sehingga tindakan-tindakan sanitasi tak bisa segera dilakukan. Sesuai data resmi, ada 14 orang dari desa asri tengah hutan Afrika ini telah meningal karena Ebola.

Setelah kematian keempat anggota keluarganya, Etienne membakar pakaian dan selimut yang dipakai kedua anaknya yang tewas akibat Ebola. Namun, dia masih menyimpan radio merah yang selalu didengar oleh Emile. Musik dari radio itulah yang menjadi sumber irama bagi Emile untuk menari.

Jenazah Emile, Philomene, serta ibu mereka dimakamkan beberapa meter dari rumah yang menjadi tempat tinggal Etienne bersama istri ke dua dan ketiga anaknya. Namun, saat ditanya seperti apa Emile, raut Etienne berubah drastis. “ Hampir seperti topeng yang dibuka dan trauma yang telah mereka alami menjadi terlihat,” tutur Beukes.

Dia menduga, kasus Ebola di desa dengan penghuni 500 jiwa itu tak hanya 14 sebagaimana data resmi. Jumlah sebenarnya diduga jauh lebih tinggi. Sebab Beukes melihat banyak kuburan baru di desa ini. Dan orang-orang yang tewas karena Ebola itu dikubur hanya beberapa meter dari tempat tinggal warga.

Sebagaimana petani desa lainnya, Etienne saat ini tengah berjuang keras menjajakan hasil buminya. Sedangkan para pelanggan dari luar sangat takut, khawatir tertular Virus Ebola yang mematikan itu.

Meski demikian, Etienne tetap bekerja. Dia dan penduduk lainnya merasa jauh lebih miskin setelah Ebola merajalela. “ Dia mengatakan hanya itu yang bisa dia lakukan. Kembali ke ladang dan terus mencangkul sehingga bisa menghidupi anak-anaknya,” kata Beukes. (Ism)

Beri Komentar