Lee Kuan Yew, `Si Tangan Besi` Pembangun Singapura

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 23 Maret 2015 11:25
Lee Kuan Yew, `Si Tangan Besi` Pembangun Singapura
Lee berhasil membuat Singapura menjadi kawasan yang disegani dunia.

Dream - Lee Kuan Yew, pendiri dan Perdana Menteri pertama Singapura meninggal dunia pada pukul 03.18 waktu Singapura. Ia meninggal dalam perawatan di Singapore General Hospital karena menderita infeksi.

Lee merupakan sosok yang sangat berpengaruh di Singapura. Di bawah tangannya, negara yang hanya seluas 716,1 Kilometer persegi ini menjadi negara disegani dunia.

Lee pertama kali memerintah Singapura pada tahun 1959, usai lepas dari Pemerintahan Inggris Raya, dan mengakhiri jabatannya sebagai perdana menteri pada tahun 1990. Meski dikenal sebagai sosok yang berorientasi masa depan, Lee menerapkan prinsip `tangan besi` dalam memerintah.

Modelnya dalam memimpin kerap menuai kritik lantaran menekan kebebasan. Bahkan ia disebut pemimpin yang otoriter, dengan menerapkan kekuasaan yang terpusat. Tidak hanya itu, Lee juga menerapkan sensor ketat terhadap pemberitaan media.

Meski demikian, Lee juga menerapkan prinsip pemerintahan yang bersih dan pembangunan ekonomi berbasis pada liberalisme. Cara itu terbukti berhasil mengantarkan Singapura menjadi kawasan pusat perniagaan dan finansial dunia dengan tingkat korupsi yang begitu rendah.

" Kami berideologi bebas. Apakah ini berhasil? Jika ini berhasil, mari kita coba. Jika berjalan bagus, kita lanjutkan, jika tidak berhasil, buang dan coba yang lain," ujarnya kepada New York Times di tahun 2007, seperti dikutip Dream.co.id, Senin, 23 Maret 2015.

Meski menuai beragam kritik, Lee memilih tidak peduli. Ia terus saja menjalankan pemerintahan dengan gayanya yang bagi sebagian orang dianggap otoriter.

Tetapi justru langkah itulah yang paling tepat. Lee sepenuhnya sadar, ia mengelola negara dengan latar belakang etnis dan budaya yang beragam. Ia mampu menyatukan tiga etnis, Tiongkok, India, dan Melayu menjadi kekuatan besar dalam membangun Singapura.

Gayanya dalam memimpin menjadi rujukan bagi dunia akademis. Bahkan pakar pemerintahan Cherian George menyebut kepemimpinan Lee sebagai perpaduan unik antara karisma dan keadilan. (Ism) 

 

Beri Komentar